Harga Karet Turun – Warga Tambang Bustak Beralih Mencari Emas

Berebut Warga berebut mengambil pasir dan batu untuk mencari emas di Desa Tambang Bustak Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal. (medanbisnis/zamharir rangkuti)

Panyabungan. Puluhan warga Desa Tambang Bustak, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mencari uang tambahan karena harga karet turun. Warga mulai dari anak-anak, wanita sampai usia dewasa dalam dua bulan terakhir mengais rezeki di antara bongkahan batu dan pasir mencari emas di seputaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis.
Hal itu mereka lakukan untuk mencari nafkah guna mememuhi kebutuhan rumah tangga di sela-sela harga karet yang terus anjlok. Warga ini mengais rezeki di antara bongkahan batu dan pasir yang dikumpulkan alat berat milik PT Tamiang Karya guna keperluan material bangunan.

Pantuan MedanBisnis, Kamis (22/10), mulai dari pagi hari saat alat berat mulai beraksi untuk memuat material batu dan pasir ke dalam dump truk, puluhan warga sudah menunggu di sekitar lokasi. Masing-masing di antara mereka membawa ember, goni plastik menampung pasir. Usai alat berat memuat bahan material ke atas dump truk, operator pun mengumpulkan pasir untuk warga.

Tidak berselang lama, warga berebut mengambil pasir guna didulang mencari emas. Hasil yang didapatkan pun bervariasi, mulai dari Rp 100.000 – Rp 300.000 per hari. Semakin siang, warga yang ikut pun semakin banyak, sebab usai pulang sekolah anak-anak di wilayah ini pun akan ikut mencari emas.

Baca Juga :  CDS (Centre of Development Study) USU: SARASI unggul

Rusli, salah seorang warga yang ikut mendulang emas mengatakan, dirinya sudah hampir dua bulan ikut mencari emas di daerah ini. Hasil yang didapatkan bervariasi, terkadang hanya Rp 50.000, bisa Rp 100.000 bahkan pernah Rp 300.000 dan terkadang nihil sama sekali. “Kadang ada, kadang tidak bang, lepas-lepas belanja tiap hari,” ujarnya.

Dia mengaku ikut mencari emas karena rendahnya harga karet. “Harga karet lagi murah, tidak mencukupi kebutuhan, kita terpaksa mencari pekerjaan alternatif. Keberadaan alat berat ini sangat membantu warga di daerah ini, usai memuat material pasir dan batu ke atas dump truk, operator mengumpulkan material pasir dan batu untuk warga,” ucapnya.

Sedangkan Habibi (12) mengaku ikut mencari emas untuk menambah uang saku dan uang sekolah. “Lumayan sehari bisa mencapai Rp 20.000 – Rp 50.000. Saban pulang sekolah kami datang kemari. Kalau hasilnya banyak, terkadang ditabung. Sedangkan orangtua tidak melarang,” ujarnya.

Dia mengatakan tak merasa malu ikut mencari emas, sebab anak-anak lain seusianya usai pulang sekolah ikut mencari emas. Mereka berlomba-lomba mengambil pasir, kemudian dibersihkan dengan alat tradisional (dulang-red) untuk mengambil emasnya. (zamharir rangkuti )


MedanBisnis –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Buntut Diskriminasi Hukum Polres dan Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan : Jaksa Duel Dengan Terdakwa di Ruang Sidang Pengadilan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*