Harga Kelapa Sawit di Palas Tak Menentu

Illustrasi

Palas. Harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani di daerah Kabupaten Padang Lawas (Palas) tidak menentu dan tidak stabil. Petani sawit di Kecamatan Barumun mengaku harga jual buah sawit pada minggu ini mengalami penurunan. Sementara petani di Kecamatan Sosa menyampaikan harga jual sawit minggu ini masih seperti biasa. Sedangkan petani di Kecamatan Huragi menyatakan, harga jual buah sawit minggu ini naik. Tidak menentu dan tidak stabilnya harga sawit di daerah ini, diduga kuat tidak adanya ketentuan batas harga maksimal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat.

“Minggu ini, saya jual sawit di lapangan seharga Rp 1.000/kilogram (kg), tapi kalau di peron harganya Rp 1.080/kg. Kalau minggu lalu, saya jual masih Rp 1.100/kg di lapangan dan di peron harganya minggu lalu Rp 1.130/kg,” sebut Su’udi, satu petani sawit di Kecamatan Barumun kepada MedanBisnis, Senin (16/11).

“Gak tahu pak, apa penyebab turunnya harga jual sawit ini. Padahal, saat ini sudah mulai masuk musim trek buah sawit. Di saat hasil panennya berkurang, malah harganya ikut turun. Biasanya, dalam sehektar kebun sawit bisa panen sekitar 1 ton. Tapi, saat ini hanya mendapat sebanyak 600-700 kilogram perhektar,” tambahnya.

Jelas saja, kata Su’udi, dengan kondisi berkurangnya panen buah sawit saat ini, ditambah lagi harga jualnya yang belum juga membaik, tentu saja petani belum mampu membeli pupuk untuk pemupukan kebun sawitnya. “Hasil penjualan sawit, ya untuk biaya kebutuhan rumah tangga, lah pak. Belum bisa dibagi untuk beli pupuk,” ujarnya.

Baca Juga :  Kehadiran PT SMM Belum Sejahterakan Masyarakat

Sementara itu, Zulkarnaen, satu petani sawit di Kecamatan Sosa menyampaikan, kondisi penjualan harga sawit di daerah itu masih seperti biasa, sesuai dengan posisi harga penjualan pada minggu lalu. “Minggu ini harga jual buah sawit masih biasa seperti minggu lalu, yakni sebesar Rp 920/kg di tingkat petani dan Rp 1.045/kg di tingkat pemasok atau penukaran SP,” katanya.

Dikatakan, memang saat ini kondisi produksi buah sawit di tingkat petani mulai memasuki musim trek atau penurunan hasil panen. “Biasanya, dari luas kebun sawit saya seluas 4 hektar, hasil panennya 4 ton – 4,5 ton. Saat ini hasil panennya merosot sebanyak 3 ton, perdua minggu putaran panen,” tuturnya.

Sedangkan, Riswan Nasution, seorang petani sawit di Kecamatan Huragi mengatakan, kondisi penjualan harga buah sawit petani sawit mengalami kenaikan tipis, yakni Rp 30/kg. “Minggu lalu, harga jualnya Rp 1.200/kg di PKS Mananti. Tapi, minggu ini naik jadi Rp 1.230/kg,” ujar Riswan.

Kondisi penurunan hasil panen sawit di daerah ini juga dirasakan para petani. “Biasanya, dari seluas satu hektar kebun sawit saya bisa panen 700 kilogram, tapi kini buahnya trek, hanya sebanyak 400 kg – 500 kg saja,” ucapnya.

Para petani sawit di daerah ini meyakini, tidak menentu dan tidak stabilnya harga jual buah sawit karena tudak adanya ketentuan dan aturan mengenai harga batas maksimal pembelian TBS sawit oleh para pemasok. Selain itu, aksi sejumlah pemasok sawit ke sejumlah PKS yang berspekulasi harga pembelian sawit.

Baca Juga :  Pungli di Jalinsum Meresahkan

Sebelumnya, Kadis Koperindag dan UMKM Palas Drs H Khoiruddin melalui Kabid Perdagangan Drs Dingin Rambe menyatakan, memang Pemkab Palas sampai kini belum membuat ketetapan harga batas atas maksimum pembelian TBS sawit kepada pemasok atau pemilik SP.

“Belum ada ketentuan dan aturan dari Pemkab Palas soal harga maksimum pembelian TBS sawit oleh pemasok kepada petani. Kita sudah pernah mewacanakannya, tapi belum terealisasi,” ujarnya. (maulana syafii)


MedanBisnis –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*