Harga Minyak Tanah Mahal, Warga Paluta Pilih Solar

Paluta, (Analisa). Sejumlah warga Kecamatan Padang Bolak, dan sekitarnya beramai-ramai beralih dan memburu minyak solar. Fenomena ini menyusul mahalnya harga minyak tanah di daerah Padangbolak dan sekitarnya hingga mencapai Rp 13 ribu per liter.

M Siregar (34), warga Lingkungan I, Kelurahan pasar Gunung Tua, kepada Analisa, Selasa (3/7), mengaku beralih menggunakan solar untuk memasak sehari-hari dan keperluan lainnya. Jika dibandingkan harganya lebih murah dari minyak tanah. Selain itu, lebih irit dan bisa sebagai pengganti minyak tanah yang mulai mengalami kelangkaan.

“Saya menggunakan solar ini sebagai pengganti minyak tanah sudah sejak beberapa bulan terakhir. Yakni sejak mulai langkanya minyak tanah. bila dibandingkan harganya setengah perbandingannya, Solar gampang didapat, minyak tanah ada tetapi harganya mencekik leher,” katanya.

Ia menjelaskan, beralihnya menggunakan minyak tanah ke solar dirasakan lebih irit. Lalu, solar mudah dicari dan harganya pun masih bisa terjangkau. “Jika dua liter solar untuk mengisi kompor yang menggunakan sumbu bisa untuk memasak 4­5 hari. Lalu, solar pun jenisnya seperti minyak tanah yang tidak mudah terbakar. Tapi, bisa digunakan untuk keperluan dapur,” terangnya.

Ditambahkannya, penggunaan solar ini sangat mudah. Cukup mengganti minyak tanah yang sering diisi di dalam kompor yang menggunakan sumbu dengan menggantinya menggunakan solar. Tunggu sejenak agar solar itu dapat meresap ke dalam sumbu-sumbu tersebut. Lalu, menyalakan korek api dan membakar mengelilingi sumbu-sumbu itu. Api pun dapat menyala bagus dan tidak kalah menyalanya dengan kompor gas,’’ tambahnya.

Berbeda dengan warga Sipupus, Kecamatan Padang Bolak Julu, Paluta. Warga disanapun mulai mengeluh kelangkaan minyak tanah. Selain tidak bisa menggunakan kompor sebagai alat memasak, kebanyakan masyarakat terpaksa mencari kayu bakar guna menggantikan minyak tanah.

Baca Juga :  Massa Blokir Jalinsum 5 Jam - Warga 13 Desa Tuntut Persamaan Hak CSR dari PTPN IV

Intan Harahap (34) ibu rumah tangga di Desa Sipupus, mengatakan, saat ini minyak tanah di sipupus, sudah sangat langka baik di tingkat agen maupun pedagang eceran, sehingga warga terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak.

“Harga minyak tanah Rp15 ribu per liter dijual oleh pengecer, meskipun dari pemerintah disubsidikan untuk rakyat miskin, tetapi subsidi itu tidak berlaku lagi, dan harganya tetap di atas harga yang ditetapkan,” imbuhnya.

Mereka berharap kepada pemerintah daerah dapat menelusuri permasalahan ini, supaya minyak tanah di Paluta tidak menjadi langka.

Informasi dihimpun dari sejumlah pangkalan di wilayah Gunungtua dan Sekitarnya, Kecamatan Padangbolak menyebutkan, harga di tingkat pangkalan minyak tanah di jual ke masyarakat dipatok Rp 11 ribu per liter dan harga tersebut juga turun naik. (ong)

Sumber: analisadaily.com

POST ARCHIVE: This content is 6 years old. Please, read this content keeping its age in Mind

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*