Harga Sawit Anjlok, Petani Menjerit

PALAS-Tiga hari terakhir ini, harga komoditas pertanian berupa sawit anjlok di pasaran. Saat ini harganya Rp750 dari sebelumnya Rp1.200 per kilogram. Sehingga para petani mengeluhkan harga tersebut.

Dikatakan toke pengumpul sawit di wilayah Kecamatan Barumun Tengah (Barteng), Kabupaten Padang Lawas (Palas), M Husni Hasibuan, kondisi ini sangat membuat petani sawit menjerit, apalagi saat ini sedang masa masuk anak sekolah penerimaan siswa baru. “Warga banyak menjerit saat ini. Selain petani sawit yang mengalami penurunan harga, petani karet juga merasakan hal yang sama.  Apalagi sedang penerimaan siswa baru atau tahun ajaran masuk sekolah,” ucapnya, Jumat (25/5).

Salah satu petani sawit, Milhan Harahap (45) mengaku sangat terpukul dengan anjloknya harga sawit. Apalagi waktunya bersamaan dengan penerimaan siswa tahun ajaran baru. Karena saat ini ada dua anaknya mau masuk sekolah yaitu SD dan SMP. “Sudah saya kalkulasikan banyak biaya yang dibutuhkan dalam bulan ini, termasuk kebutuhan sekolah berupan perlengkapan sekolah dan lainnya. Karena, ada dua anak saya mau masuk sekolah tahun ajaran baru ini,” ucapnya dengan terpukul dengan jatuhnya harga itu.

Karena mayoritas warga di wilayah Kecamatan Barteng adalah petani sawit dan selama ini warga mengandalkan sawit sebagai mata pencaharian penopang hidup mereka, anjloknya harga itu tentu berdampak pada ekonomi masyarakat. “Cuma sawit ini andalan kita selama ini. Sedangkan kalau untuk beternak dan bercocok tanam padi, itu hanya untuk biaya tambahan hidup,” ungkap.

Baca Juga :  Dua Minggu Lagi, Berkas Dugaan Korupsi PS Sidimpuan Dilimpahkan

Kadisperindagkop Kabupaten Palas, Drs H Tobing Hasibuan membenarkan turunnya harga sawit dipasaran. Kendati demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengawasi harga komoditas perkebunan tersebut. “Harga eceran tertinggi (HET)-nyakan tidak ada, indikatornyakan dari pabrik sesuai dengan harga sawit secara nasional,” tukasnya. (amr)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*