Hari Ini Ismail Beber Penyiksaan

Selasa, 08 Desember 2009 – www.metrosiantar.com

SIDIMPUAN-METRO; Muhammad Ismail Harahap (20) korban penganiayaan yang diduga dilakukan sejumlah oknum polisi Polres Tapanuli Selatan akhirnya meninggalkan Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan, Senin (7/12). Begitupun karena kondisi kesehatan Ismail belum sepenuhnya pulih, baru hari ini, Selasa (8/12) Ismail memberikan keterangan ke Polresta Padangsidimpuan.

Kapolresta Padangsidimpuan AKBP Roni Bahtiar Arief yang dikonfirmasi melalui Kabag Bina Mitra Kompol Darwin Efendy Daulay, Senin (7/12) mengatakan, pihaknya belum bisa memanggil Ismail karena kondisi kesehatan korban belum pulih benar. Kata Kompol Darwin, orangtua Ismail juga datang ke Polresta, meminta agar Ismail untuk sementara tidak dimintai keterangan.

“Kata orangtuanya kondisi kesehatan Ismail belum sepenuhnya pulih jadi belum bisa memberikan keterangan. Bagi kita itu sah-sah saja, jadi kita tunggu sampai benar-benar bisa memberikan keterangan. Jika tidak ada halangan, Selasa (8/12) Ismail akan kita mintai keterangannya,” katanya.

Ketika ditanya sejauh mana polisi memeriksa pelaku penganiayaan yang telah dilaporkan orangtua Ismail yang diduga melibatkan oknum kepolisian, Kompol Darwin mengatakan belum melakukan tindakan apapun sebelum meminta keterangan dari Ismail sebagai korban.

Anehnya, walau belum memeriksa Ismail, Kompol Darwin mengatakan bahwa Ismail sudah berstatus tersangka atas laporan seorang oknum polisi bermarga Sebayang yang mengaku kehilangan sepedamotor. Begitupun, tambah Kompol Darwin lagi, oknum polisi bermarga Sebayang tersebut juga dijadikan sebagai tersangka atas laporan yang dibuat orang tua Ismali.

“Belum ada kita minta keterangan dari oknum polisi Sebayang karena masih menunggu keterangan dari Ismail sebagai saksi korban. Jika Ismail sudah kita periksa baru kita bisa melangkah lebih jauh,” sebutnya.

Sementara orang tua korban, Pandapotan Harahap (50) kepada METRO, Senin (7/12) ketika ditemui di pelataran RSU Padangsidimpuan saat akan pulang bersama anaknya, Ismail mengatakan, kondisi Ismail belum sepenuhnya pulih.

“Anak kita sudah keluar dari rumah sakit, hanya saja karena kondisinya masih belum memungkinkan untuk dimintaiketerangan jadi kita minta ijin agar Selasa (8/12) saja anak kita ini memberikan keterangan,” ujarnya.

Baca Juga :  Pemkab Tapsel Dapat Bantuan Ambulan dan Mobiler

Sementara itu, kedua teman korban Idris dan Serbeni sudah dilepaskan setelah dijamini kedua orang tua mereka. Namun Idrisdan Serbeni diharuskan wajib lapor 3 kali seminggu ke Polresta Padangsidimpuan sampai dengan dituntaskannya kasus penganiayaan tersebut.

Seperti yang diinformasikan sebelumnya, Kabid Humas Poldasu Kombes (Pol) Baharuddin Djafar menyarankan Brigadir S yang diduga sebagai pelaku penganiayaan dipecat dari kepolisian Republik Indonesia jika memang terbukti bersalah.

“Segera proses kasus ini, dan jika terbukti bersalah, pecat saja polisinya. Untuk apa disayangkan,” pungkasnya dengan nada tinggi.

Ismail Harahap sendiri mengaku mendapat penyiksaan dari brigadir S dan empat orang rekan brigadir S yang mengaku sebagai polisi. Ismail juga dimassakan sekitar 20-an orang atas tuduhan pencurian sepedamotor. Namun karena merasa bukan pelaku pencurian, Ismail tetap pada pendiriannya.

“Oknum Polisi berinisial S itu memukuli saya bang. Ada 20 kali kakiku dipijak oknum polisi itu pakai sepatunya. Pergelangan kakiku juga diputarnya. Karena tak mau putusnya kakiku ini bang,” kata Ismail.

Begitupun penyiksaan belum habis. Kembali dua pria yang baru datang mengaku polisi namun berpakaian biasa mendatanginya. “Habis di pukuli massa, datang lagi dua orang, sama saya keduanya mengaku polisi dan membujuk saya untuk mengakui mencuri sepedamotor milik polisi berinisial S itu,” ucap Ismail.

Namun, kata Ismail dirinya tetap tidak mengakuinya hingga akhirnya dirinya dibawa menggunakan sebuah mobil jenis Katana.

“Saya dibawa polisi berinisial S itu bersama 4 pria yang mengaku oknum polisi. Saya dibawa ke rumah saya di Sitamiang Baru untuk menggeledah isi rumah kami, apakah sepedamotor yang mereka tuduh saya curi itu disimpan di rumah atau tidak. Di rumah ada mamak yang menyaksikan langsung rumah kami digeledah,” pungkas Ismail.

Namun sepedamotor yang dicari tidak ada. Dan seolah tak puas, Ismail kembali dibawa ke kolam di Gunung Sisada-Sada. Di sana Ismail kembali dianiaya oleh kelimanya dan dipaksa untuk mengakui pencurian tersebut.

Baca Juga :  Ditunggangi Polres Tapsel - PN Padangsidimpuan Otak-atik Surat Penahanan

“Selain direndam di kolam, kemaluan saya juga ditendang. Tubuh saya ditetesi dengan bakaran ban dalam yang dibakar. Rambut saya dipangkas, bahkan telinga saya sebelah kiri juga dipotong dengan menggunakan gunting. Namun saya tetap tak mau mengaku sebagai pencuri sepedamotor,” katanya.

Setelah kembali disiksa di Gunung Sisada-sada, Ismail dibawa ke rumah oknum polisi berinisial S di sekitaran Samora. Lagi-lagi di rumah itu dia kembali dianiaya bahkan sebuah durian dibenturkan ke kepalanya.

“Saya sudah tak kuat lagi bang. Darah sudah keluar dari kepala, hidung, mulut, dan telinga saya. Darah saya juga berceceran di rumah oknum polisi itu. Saya sangat kenal dengan polisi berinisial S itu karena saya juga kenal dengan istrinya,” pungkas Ismail.

Sementara itu mengenai pencurian yang dituduhkan kepadanya, Ismail tetap membantah karena dirinya baru tiga hari tinggal di Padangsidimpuan yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan di beberapa tempat seperti di Palas, Batang Angkola, Angkola Selatan.

“Waktu dipaksa saya mengakui pencurian itu, dibilangnya sepedamotornya hilang dari rumahnya bukan dari Tanggal, Sitamiang. Katanya hilangnya dua minggu yang lalu. Sedangkan saya baru 3 hari di Padangsidimpuan,” katanya. (phn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*