Hasil Pencarian Google “Teracuni”

Jangan mudah percaya hasil pencarian di search engine. Itu pesan yang ingin disampaikan Symantec lewat rilis terbarunya. Alasannya, para penjahat dunia maya alias cybercriminal makin lihai menerapkan black hat SEO (search engine optimization). Metode ini mampu menaikkan peringkat situs jahat di dalam indeks mesin pencari. Akibatnya, hasil pencarian akan “teracuni” sehingga memunculkan tautan-tautan berbahaya pada beberapa halaman awal.

Umumnya, situs tujuan yang ditautkan para kriminal ini berupa penawaran antivirus palsu. Aplikasi semacam ini bukannya berfungsi melindungi komputer pengguna, tetapi malah diam-diam memfasilitasi proses instalasi program jahat (malware).

Kebanyakan cybercriminal memang menjadikan Google sebagai media utama trik black hat SEO mereka. Oleh karena itu, Symantec mengadakan riset terhadap hasil pencarian Google, antara 30 Maret dan 18 April 2010. Symantec mencoba mencari kata-kata kunci paling populer pada waktu tersebut.

Hasilnya? Setidaknya, 3 dari 10 teratas tren pencarian teratas berisi paling sedikit satu URL jahat di antara 70 hasil pencarian pertama. Selain itu, 15 dari 70 hasil pencarian pertama merupakan tautan jahat untuk kata-kata pencarian yang diketahui telah “diracuni” Terbukti pula, hampir semua URL jahat tersebut mengarahkan ke halaman antivirus palsu.

Sepertinya, para penjahat cyber telah mempunyai infrastruktur yang mampu secara otomatis mengumpulkan tren terbaru dan terpopuler, untuk kemudian menyusup ke dalam hasil pencariannya. Untuk menghindarinya, Symantec menyarankan pengguna internet untuk terus waspada saat memilih tautan dalam hasil pencarian, terutama saat mencari topik-topik yang sedang hangat. Salah satu alat bantunya tersedia lewat feature Safe Web dalam paket Norton Internet Security 2010.

Baca Juga :  Inilah Daftar Perusahaan yang Dicaplok Google

Sumber: http://www.infokomputer.com/reguler/hasil-pencarian-google-teracuni

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*