Hasil Riset Satu Zona Waktu, Bisa Merubah Prilaku Masyarakat Untuk Hemat Energi

Jakarta – Pemerintah mempersiapkan strategi terhadap implikasi yang akan timbul dari penetapan kebijakan penyatuan satu zona waktu. Strategi tersebut berbasis kepada pertimbangan ilmiah. Demikian salah satu kesimpulan dari hasil focus group discussion (FGD) di Kementerian Riset dan Teknologi.

Deputi Bidang Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Prof. Dr. H. Freddy P. Zen, M.Sc, D.Sc, sebagai salah satu pembicara mengatakan, dari pertimbangan ilmiah itu akan memberikan rekomendasi terhadap untung ruginya implementasi kebijakan penyatuan satu zona waktu. “Sehingga dalam penyusunan formulasi kebijakan tersebut sesuai dengan UU No 12 tahun 2011 tentang peraturan perundang-undangan yang di dalamnya mengharuskan suatu produk hukum didasarkan pada naskah akademik,” katanya, di Jakarta, kemarin.

Salah satu implikasi yang diperhitungkan adalah tentang besaran penggunaan energi. Selain itu, prilaku masyarakat juga harus diperhatikan. Dari hasil kajian diketahui bahwa penyatuan zona waktu itu dihasilkan adanya perubahan perilaku masyarakat terhadap penggunaan listrik yang apabila dikonversikan dalam rupiah sebesar 1,6T. “Sayangnya sejak tahun 2008 sampai sekarang belum ada yang melanjutkan kajian ini dikarenakan belum ada institusi atau instansi yang melanjutkan kajian ini dilihat dari aspek lainnya”, ujar Koordinator Peneliti Penyatuan Zona Waktu Kemenristek, Dr. Mohammad Nur Hidayat.

Freddy menambahkan, saat ini Kementerian Riset dan Teknologi sedang mengembangkan kajian tersebut berdasarkan hasil kajian yang sudah dilaksanakan pada tahun 2004-2008. Dalam waktu dekat ini,  Kementerian Riset dan Teknologi akan mengkoordinasikan Lembaga Pemerintah Non Kementerian lingkup Kementerian Riset dan Teknologi (LPNK) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian serta Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) untuk mengkaji aspek aspek lainnya.

Baca Juga :  Jokowi-Basuki Dinilai Menang Ide dan Gagasan

“ Kita berharap dengan adanya penyatuan satu zona Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan terjadi peningkatan produktivitas yang berpengaruh pada peningkatan daya saing nasional,” tambah Fredy, sekaligus Wakil Ketua Harian tim kerja SDM dan Iptek KP3EI.

Hal senada juga dikatakan oleh Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng selaku Asisten Deputi Investasi Iptek, Kementerian Riset dan Teknologi. Dengan adanya penyatuan satu zona Negara Kesatuan Republik Indonesia, pasti akan terjadi peningkatan produktivitas yang berpengaruh pada peningkatan daya saing nasional.

“ Hal tersebut memiliki korelasi positif terhadap peningkatan investasi litbang dimana seperti diketahui bahwa MP3EI mengamanatkan bahwa investasi litbang harus meningkat menjadi 1% PDB yang dicapai selambat lambatnya pada tahun 2014. Sehingga penyatuan zona waktu menjadi penting dan bermanfaat,” tambah  Agus Puji Prasetyono.

Dan, tujuan yang ingin dicapai dalam FGD “Satu Zona Waktu Negara Kesatuan Indonesia” itu adalah mendapatkan konsep dan strategi dalam tata cara penyatuan zona waktu Indonesia. Konsep dan strategi ini diharapkan dapat menjadi input Kementerian Riset dan Teknologi dalam memberikan masukan kepada Presiden melalui Menegristek tentang Konsep dan Strategi dalam Pemberlakuan Satu zona waktu Indonesia.

—- (Press Release) —-
MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Politik Balas Dendam dalam Kasus Century

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*