Hati-Hati Berkicau di Media Sosial

Oleh: M. Arif Suhada *)

Mendadak nama Florence Sihombing menjadi perbincangan hangat dikalangan warga Yogyakarta terkait hinaan yang ditulis dalam postingan akun media sosial Path miliknya. Dalam postingannya tersebut, mahasiswi S2 Fakultas Hukum UGM ini mengungkapkan kemarahan dengan menuliskan kata-kata bernada kasar dan hinaan kepada kota Yogyakarta. Dalam salah satu postingan tersebut, ia mengatakan “Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja,” begitu tulisnya.

Tanpa disadari sebelumnya, pernyataan Florence Sihombing dalam postingan akun Path-nya itu kini menjadi bomerang bagi dirinya sendiri. Pasalnya, postingan yang ditulisnya telah tersebar luas di dunia maya khususnya di kalangan warga Yogyakarta. Tak pelak, hal itupun menimbulkan kemarahan bagi warga Yogya yang menganggap pernyataan Florence telah menghina dan melecehkan warga Yogya sekaligus mencemarkan nama baik kota Yogyakarta.

Dampak dari pernyataannya itu, ia harus menerima kecamanan dan menjadi sasaran bully di dunia maya dari para netter (pengguna internet) khususnya dari warga Yogya sendiri. Saking banyaknya kecaman dan bully yang ditujukan kepada Florence, membuatnya menjadi isu nasional dan trending topik di media sosial twitter dengan hastag # Usirflorencedarijogya.

Tidak hanya sampai disitu, kini ia juga harus berurusan dengan pihak kepolisian atas pelaporan yang dilakukan oleh beberapa warga Yogya dan juga dari salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) Yogya, dengan tudingan pernyataan Florence tersebut melanggar undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik ITE (UU ITE) No.11 tahun 2008 menyangkut penghinaan dan pencemaran nama baik dan provokasi mengkampanyekan kebencian. Berawal dari kemarahannya perihal antrean BBM yang kemudian dilampiaskannya dengan membuat postingan bernada kasar dan hinaan itu, kini Florence Sihombing harus menerima konsekuensinya.

Tentu sebelumnya tak terbesit dalam benak Florence, bahwa postingan dalam akun media sosial path miliknya akan berdampak menuai beragam reaksi seperti ini. Tapi itulah media sosial, sebagai ruang publik tanpa batas, pencarian dan penyampaian suatu informasi menjadi sangat cepat dan mudah tersebar untuk dikonsumsi publik.

Agaknya hal inilah yang kurang dipahami oleh Florence Sihombing sehingga dengan mudahnya ia menulis  kan kata-kata bernada kasar dan hinaan itu pada akun media sosial miliknya yang tanpa disadari hal itu akhirnya berbuntut panjang pada kasus yang menimpa dirinya.

Baca Juga :  K-pop Sudah Tamat?

Media sosial seperti facebook, twitter, path, instagram dan sebagainya yang memberikan ruang kebebasan untuk berekspresi memang kerap dijadikan para penggunanya sebagai tempat untuk mencurahkan perasaan. Mulai dari perasaan senang, sedih, keluh-kesah, amarah, kritikan dan segala macamnya diungkapan melalui akun media sosial tersebut. Para pengguna bisa dengan sesuka hati menuliskan status atau postingan apapun yang ia mau pada akun media sosial miliknya tanpa ada batasan dari akun media sosial itu sendiri.

Namun perlu digarisbawahi setiap status atau postingan yang kita buat pada akun media sosial itu akan sangat mudah menjadi konsumsi publik. Artinya, kehadiran media sosial disatu sisi memberikan keterbukaan dan kemudahan bagi siapapun dalam memperoleh atau menyampaikan informasi, namun disisi lain, dengan tanpa disadari, ruang privasi bagi pengguna menjadi semakin sempit.

Sehingga apapun status atau postingan yang kita tulis pada akun media sosial ini bisa dengan mudahnya dapat diketahui oleh semua orang, baik oleh sesama teman yang tergabung pada akun media sosial kita maupun para pengguna media sosial lainnya. Hal inilah yang kadang dapat memancing konflik dari sesama pengguna manakala mengetahui atau membaca status dari pengguna media sosial lainnya yang mengandung unsur-unsur tidak terpuji seperti halnya yang dilakukan oleh Florence Sihombing tersebut.

Maka tidak salah bila kemudian pemerintah menerbitkan UU No. 11 Tahun 2008 tentang UU ITE yang memberikan pembatasan terhadap kebebasan menyampaikan informasi agar setiap penyampaian informasi itu bisa dilakukan dengan cara yang beradab, santun dan menghormati norma-norma yang ada.

Pidana Penjara 6 Tahun

Dalam peraturan undang-undang tersebut tepatnya pada pasal 27 poin (3) menyatakan, larangan mendistribusikan informasi elektronik yang  memiliki  muatan penghinaan atau pencemaran nama baik. Pelanggaran pada pasal ini seperti yang disebutkan pada pasal 45 poin (1) akan dikenakan sanksi berupa pidana penjara enam tahun atau denda uang hingga Rp1 miliar.

Beratnya sanksi hukum yang akan diterima oleh para pelanggar peraturan ini, mengisyaratkan  betapa pentingnya etika dalam menyampaikan suatu informasi ataupun pendapat sekalipun itu di media sosial yang notabene berada pada dunia maya dimana orang yang satu dengan yang lain tidak saling bertatap muka secara langsung.

Baca Juga :  Katong Samua Basodara

Hal ini disebabkan juga karena bangsa Indonesia sendiri adalah bangsa yang beradab. Secara jelas tertuang pada sila kedua pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kata “Beradab” di-sana mengandung makna mengetahui tata krama, etika, sopan santun dalam kehidupan dan pergaulan bermasyarakat, dengan demikian diyakini sesama manusia akan saling menghormati hak orang lain, tidak saling melecehkan  dan apalagi bertindak semena-mena.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari warga negara Indonesia yang memegang teguh ideologi pancasila, sekaligus sebagai pengguna media sosial yang baik, maka sudah sepatutnya bagi kita belajar dari apa yang dialami oleh Florence Sihombing. Pelajarannya adalah supaya kita menjadi manusia yang beradab perlu bagi kita untuk lebih jelih, berhati-hati, serta bijak dalam menggunakan media sosial.

Tentu saja terkait apa yang dialami oleh Florence Sihombing, salah satu caranya adalah dengan lebih selektif dalam menumpahkan segala bentuk luapan perasaan bila ingin menuliskannya di akun media sosial. Terlebih lagi jika status atau postingan itu sifatnya bermuatan hinaan dan pencemaran nama baik terhadap seseorang.

Karena keterbukaan informasi yang sudah tanpa batas ini memungkinkan apa yang kita tulis atau kita posting pada akun media sosial itu akan diketahui oleh banyak orang. Bila itu terjadi, maka harus siap juga menerima konsekuensi yang ditimbulkannya.***

Disalin dari : www.analisadaily.con

Penulis adalah Mahasiswa IAIN-SU, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, AKS-B.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*