Hati-hati dengan ‘Wanita Cantik’?

Oleh: Badrul Munir *)

Jakarta – Dalam seminggu terakhir ini, publik dikagetkan oleh tertangkapnya dua pelaku kejahatan yang lain dari biasanya. Pertama adalah diringkusnya Selly Yustiawati ‘sang penipu ulung’ oleh aparat Polsek Denpasar Selatan di Hotel Amaris, Seminyak, Kuta, Bali, Sabtu (26/3). Kedua, diringkusnya Melinda Dee ‘MD’, pelaku penggelapan uang nasabah Citibank senilai Rp 17 miliar, oleh Direktorat II Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri, Kamis (24/3).

Dikatakan lain dari biasanya karena dua pelaku ini di mata kebanyakan orang mungkin tidak memiliki tipe dan potongan sebagai pelaku kejahatan pada umumnya. Selly misalnya sekilas lebih menampakkan sebagai wanita pekerja profesional yang bekerja di sebuah perusahaan atau kantor yang mapan.

Dan memang menilik dari biodata yang ditulis media massa, Selly pernah bekerja sebagai sekretaris di sebuah hotel di Jakarta Selatan. Sementara Melinda Dee lebih terkesan sebagai prototipe wanita profesional yang sudah matang dan menduduki posisi penting di perusahaan. Terlebih bila melihat data kekayaan yang dimilikinya sebagaimana dilansir media massa, punya 1 unit Hummer-3 Luxury Sport Utility dengan nomor polisi B 18 DIK dan 1 unit Mercedez Benz type S300.

Di samping itu, dengan wajah yang lumayan di atas rata-rata dengan didukung penampilan yang mencirikan sebagai wanita cosmopolitan, kedua wanita seksi ini tentu akan lebih mudah berinteraksi dengan ragam kelas sosial menengah ke atas di perkotaan.

Bila menilik dari pola kejahatan yang dilakukan kedua wanita ini, dalam ilmu kriminologi, dikelompokkan sebagai white collar (kerah putih) yang dalam melakukan aksinya lebih banyak membutuhkan akal daripada okol/otot. Jika melakukan aksinya, kelompok kerah putih ini jumlah hasil kejahatannya lebih besar dan dilakukan tanpa kekerasan, sehingga korban tidak merasakan adanya ancaman fisik secara langsung dan seringkali malah tidak menyadari dirinya telah menjadi korban.

Baca Juga :  Membangun Daerah Bebas dari Narkoba

Semua ini bisa dilakukan karena dalam model kejahatan seperti ini si pelaku biasanya melakukan proses pembelajaran yang sangat panjang terhadap obyek kejahatannya. Dalam kasus Selly misalnya, para korbannya baru menyadari dirinya telah ditipu setelah memberikan sejumlah uang via transfer bank dan seiring dengan waktu belum ada tanda-tanda bahwa si peminjam segera membayar utangnya.

Kepercayaan untuk meminjamkan uang ke Selly tentu dilakukan setelah ada proses interaksi perkawanan dan terjadinya hubungan emosional pertemanan si Selly dengan para korbannya. Jadi kepiawaian meyakinkan orang untuk memberi pinjaman inilah yang menjadi nilai Selly dibanding model penipuan kejahatan yang selama ini sering diberitakan di koran-koran kriminal.

Sementara untuk Melinda Dee, yang membedakan dengan Selly adalah jabatannya sebagai relation officer bank internasional, Citibank. Menilik dari karir yang beredar di media, Melinda termasuk karyawan senior dan pernah menempati sebagai account officer (AO) di Citibank.

Karena kemampuan mengelola nasabah dan kepribadian yang dipromosikan menjadi Senior Relation Manager Citigold yang khusus menangani para nasabah besar yang memiliki deposito di atas Rp 500 juta. Dengan jabatannya ini, Melinda sangat tahu letak dan celah pada posisi mana seorang nasabah dengan kategori yang high itu bisa ‘diambil’ besarannya dengan tingkat ‘ketahuan’ yang minim.

Dari sinilah muncul modus-modus seperti pengaburan transaksi dan pencatatan tidak benar terhadap beberapa slip transfer penarikan dana pada rekening nasabah, pemindahan sejumlah dana milik nasabah tanpa seizing nasabah ke beberapa rekening yang dikuasai tersangka. Kalau saja tidak ada laporan dari nasabahyang rekeningnya berkurang sec ara tidak wajar, tentu Melinda Dee dan jaringannya akan terus melakukan aksinya.

Baca Juga :  Romantisme Refly Harun

Dengan dua kasus kejahatan di atas, sudah saatnya kita semua merefleksi diri tentang cara pandang, cara berkepribadian, dan cara menangkap mana yang substansi dan mana yang artifisial-penampilan.

Langkah ini mutlak direformasikan karena dalam sebuah peristiwa kejahatan itu pada dasarnya juga ada unsur peran dari si korban kejahatan, seperti penghormatan yang berlebih pada orang yang berpenampilan glamour dan punya jabatan, terlebih ditambah dengan penampilan cantik nan-sensual.

Pelaku kejahatan tidak selalu berpenampilan sangar dan menggetarkan. Dalam model kejahatan jenis white collar ini, si pelaku biasanya berpenampilan necis, badan berbau harum, selalu menebar senyum kepada siapa saja yang melakukan interaksi dengannya. Jadi hati-hatilah dengan wanita cantik yang belum anda kenal sebelumnya! (detik.com)

*) Badrul Munir adalah alumnus Departemen Kriminologi Universitas Indonesia. Penulis tinggal di Jalan KH Agus Salim 34 P, Cipondoh, Tangerang.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*