HATI-HATI….. Mafia di PLN Padansidimpuan tipu 27 pelanggan baru

www.waspada.co.id

PADANGSIDIMPUAN – Permainan mafia kelistrikan kembali ditemukan di PT Persero Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Padangsidimpuan. Indikasi itu terjadi di bawah naungan Rayon Sidimpuan Kota pimpinan Munar Hendra Lesmana.

Masyarakat Lingkungan Aek Tarutung, kecamatan Sangkunur, kecamatan Angkola Sangkunur, kabupaten Tapanuli Selatan mengungkapkan keluhannya di Padangsidimpuan, pagi ini.

Sebanyak 27 pelanggan baru termasuk dua diantaranya bangunan gereja mengaku telah menyetor uang Rp51.100.000 untuk pembayaran instalasi listrik dan meteran dari PLN. Namun setelah dialiri arus listrik diputus kembali.

Dari 27 pelanggan itu, satu pelanggan  diantaranya sama sekali belum dipasang instalasi meskipun telah membayar Rp2.500.000. Semua uang itu telah disetorkkan dalam lima tahap kepada oknum mengaku dari CV Perintis, SH dan MH.

Faogoatulo Halawa, pelanggan yang telah membayar Rp 2,5 juta namun belum dipasang intalasi menceritakan. Sekitar Oktober 2009, Samsy Harahap mendatangi desa mereka dan mengatakan pemerintah akan memasukkan jaringan listrik ke Aek Tarutung.

Dia meminta warga untuk mendaftar. Katanya, pelanggan baru dikenakan biaya Rp 3.100.000 untuk setiap kilo watt hours (KWH) dengan daya 900 volt ampere (watt). Sedangkan untuk gereja diusahAkan gratis.

Selanjutnya terdaftar 25 pelanggan rumah dan 2 gereja, sedangkan uangnya dikumpul seorang warga bernama Boronaso Giawa. Pada November 2009 sejumlah pekerja dari CV Abraham memasang tiang dan jaringan listrik ke desa itu.

Baca Juga :  Di Palas, Gara-gara Harta Warisan - Adik Habisi Abang Kandung

Kemudian pada Desember 2009, SH yang mengaku dari CV Perintis memasang instalasi di 2 gereja dan 24 rumah warga. Sedangkan satu rumah hingga kini belum dipasang instalasi dengan alasan dibelakangkan karena rumah beton.

Pada Februari 2010 semua yang telah dipasangi instalasi itu sudah bisa menikmati penerangan listrik, padahal belum memiliki KWH atau meteran. Pihak instalatiur dari CV Perintis itu menyambungkan arus dari tiang ke rumah warga dan menempelkan mini circuit breaker (MCB) di bagian depan rumah. Tujuannya sebagai pembatas daya atau arus yang digunakan.

Hal ini sama sekali tidak dipermasalahkan PT PLN, khususnya Rayon Sidimpuan Kota yang membawahi wilayah tersebut. Bahkan masyarakat menganggap hal ini sah dan direstui PLN, karena kabel yang digunakan dari tiang ke rumah warga adalah kabel hitam besar (tik). Warga hanya tahu kalau kabel itu cuma PT PLN yang punya.

SH mengatakan, panjang kabel yang dialokasikan dari dana sebesar Rp3,1 juta itu hanya 30 meter.

Tapi setelah hampir 1,5 bulan warga menikmati penerangan listrik, tiba-tiba oknum mengaku dari PT PLN memutusnya dengan cara melepas fuse control oil (FCO)- benda yang mirip seperti siku tangan di atas trafo. Pemutusan pada Selasa (6/4) ini tergolong lain daripada yang lain.

Kini masyarakat Aek Tarutung resah dan merasa dikibuli. Padahal mereka sudah membayar Rp51.100.000 agar bisa menikmati listrik di rumahnya. Mereka menuntut pertanggungjawaban Samsy Harahap dari CV Perintis dan menyesalkan PT PLN yang terkesan semena-mena.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  KUD Serbaguna Diminta Kembalikan Tanah Milik Warga

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*