Hati – Hati Wartawan Bodrex (Gadungan) Yang Akan Memeras Narasumbernya.

Istilah wartawan Bodrex sejak dulu sudah sangat populer di masyarakat. Mereka merupakan wartawan gadungan yang tugasnya tak hanya menulis berita, namun juga memeras narasumber. Lantas, darimana istilah Bodrex itu muncul?

Salah seorang wartawan senior di Kota Bandung, Chevy Ganda (59) mengatakan, istilah wartawan Bodrex muncul sekitar tahun 1980-an. Mereka rata-rata tidak memiliki surat kabar alias wartawan tanpa surat kabar (WTS), atau terbitnya tak jelas. Disebut Bodrex lantaran selalu beramai-ramai jika mendatangi narasumber.

“Dulu kan ada iklan obat sakit kepala Bodrex. Di iklan itu ada yang namanya pasukan Bodrex. Kerjanya beramai-ramai. Di iklan itu kan ada slogan Bodrex datang Bodrex menyerang. Nah, kerja mereka seperti itu, datang dan menyerang narasumber,” kata Chevy kepada okezone belum lama ini.

Cevi yang saat ini masih tercatat sebagai wartawan Harian Pos Kota menambahkan, biasanya pasukan bodrex ini mendatangi narasumber dengan tujuan memeras. Jumlahnya beragam, mulai dari 5 sampai 10 orang.

“Kalau jumlahnya rata-rata 5 sampai 10 orang. Sebelum mendatangi narasumber sasaran, mereka terlebih dulu mempelajari kasus yang melibatkan narasumber tersebut. Baru setelah itu, sasaran pun didatangi,” kata Chevy.

Saat sasaran didatangi, lanjut Chevy, para wartawan Bodrex itu langsung menanyakan kasus atau istilahnya menyerang. Walhasil, saat narasumber terpojok, mereka lantas menawarkan solusi dengan bentuk uang.

“Begitu uang diperoleh, mereka langsung pulang dan membagi hasilnya. Istilahnya menang,” tandas Chevy.

Baca Juga :  Penegakan Hukum di Laut - Menteri Susi Teken MoU dengan TNI AL

Jadi jika ada seseorang yang mengaku wartawan datang kepada saudara anda,sebaiknya anda periksa dulu kartu tanda anggota (KTA) perss,Koran sebagai medianya,dan lihat namanya apa ada di kolom wartawan dimana dia ditempatkan bekerja. /Okezone.com -/ Ali Eddi Humala Hasibua,S.Pd

 

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*