Hati-Hatilah Kau Abraham Samad!

Oleh: Kanedi *)

Belum genap dua bulan menjabat ketua KPK, Abraham Samad telah “memenuhi” janjinya yang dia lontarkan saat mengikuti proses fit and proper test di DPR. Miranda Gultom yang sebelumnya begitu enaknya melenggang diatas “alas tidur” para korban kasus cek pelawat yang telah masuk penjara, ditetapkan oleh KPK dibawah pimpinannya sebagai tersangka kasus tersebut.

Terhangat, Angelina Sondakh bidadari Partai Demokrat yang namanya sagat sering disebut oleh tersangka dan saksi persidangan kasus Wisma Atlet dia tetapkan sebagai tersangka baru, ditambah usulan pencekalan I Wayan Koster kepada Kemenkumham. Juga tak lupa, dia berjanji bahwa dalam waktu dekat akan ada lagi tersangka baru kasus Wisma Atlet.

Yang menimbulkan pertanyaan pada banyak orang adalah ketika mengumumkan penetapan para tersangka itu Abraham Samad tampil sendirian. Sehingga muncul rumor bahwa telah terjadi perpecahan di dalam tubuh KPK.

Rumor tersebut diperkuat dengan bahasa tubuh Abraham Samad yang tampil “gagap” saat mengumumkan status Miranda Gultom. Saat mengumumkan status Angie, Abraham Samad juga dikritik pengamat karena “memaksakan diri” bercanda dan tertawa di hadapan parta wartawan.

Benarkah telah terjadi perpecahan dan terbentuk kubu-kubu di dalam tubuh KPK yang hanya terdiri dari lima komisioner itu?

Jawabannya: boleh jadi YA. Berikut adalah fakta-fakta yang bisa dijadikan dasarnya.

Pertama

Kita tentu masih ingat kontroversi soal jumlah (8 versus 10) dan urutan nama-nama calon pimpinan KPK (dimana panitia seleksi berharap 4 nama urutan pertama harus jadi) yang diajukan kepada DPR berikut ini.

1. Bambang Widjojanto
2. Yunus Husein
3. Abdullah Hehamahua
4. Handoyo Sudrajat
5. Abraham Samad
6. Zulkarnaen
7. Adnan Pandu Praja
8. Aryanto Sutadi

Baca Juga :  Demo Menolak Kedatangan SBY Ricuh

Saat proses fit and proper test di DPR sempat muncul rumor adanya dua kubu dukungan. Kubu istana yang mendukung Yunus Husein di satu pihak, dan kubu luar istana yang menjagokan Bambang Widjojanto di lain pihak. Kenyataannya Yunus Husein terpukul KO gagal jadi komisioner KPK.

Kejutan lainnya adalah rontoknya nama yang diunggulkan public Abdullah Hehamahua dan terpilihnya nama yang tidak poluler di public yaitu: Abraham Samad, Zulkarnaen, dan Adnan Pandu Praja.

Yang lebih mengejutkan lagi saat voting pemilihan ketua baru,  Bambang Widjojanto dan Busyro Muqqadas yang dikira public bakal bersaing ketat ternyata kalah mutlak.

Menyimak alotnya proses pemilihan 4 nama komisioner dan kejutan terpilihnya Abraham Samad sebagai ketua KPK termuda, tentu terlalu naïf untuk mengabaikan kemungkinan adanya lobi antara para calon dengan fraksi-fraksi di Komisi III DPR yang memilih mereka itu.

Konsekuensinya, sebagai orang yang terikat hasil lobi, tentu ada komitmen yang harus dijaga. Seningga wajar bila kemudian masing-masing anggota rentan terhadap intervensi saat menjalankan fungsinya di KPK.

Kedua

Publik juga masih ingat bahwa sehari sebelum pelantikan Abraham Samad sebagai ketua KPK baru, Busyro Muqqadas melantik Ari Widiatmoko sebagai direktur penyelidikan, Iswan Helmi menjadi Deputi Penindakan, dan R Bimo Abdul Kadir sebagai Kabiro Perencanaan dan Keuangan Sekjen KPK.

Tentu patut dipertanyakan motif pelantikan yang terkesan sangat dipaksakan itu. Mustahil rasanya seorang Busyro melakukan hal yang kurang elok secara etik itu tanpa ada sesuatu (kepentingan) yang mendorongnya.

Jika gara-gara pelantikan itu kemudian Busyro dan Samad sering berbeda pendapat, maka itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Hati-hatilah Abraham Samad

Anggaplah kejadian gebrak meja oleh Abraham Samad di ruang rapat pimpinan KPK sebagai berita hoax. Tetapi dua fakta diatas sudah cukup (masuk akal) menjadi latar belakang terbentukknya kubu-kubu di dalam komisioner KPK.

Baca Juga :  Bupati Madina Didesak Mundur

Jika memang telah terjadi perpecahan, maka Abraham Samad harus ekstra hati-hati. Sebagai ketua, Abraham Samad memang tidak sulit mendominasi bahkan “memaksakan” keinginannya di KPK. Tetapi jangan pernah mengabaikan kemungkinan adanya pihak-pihak (sponsor) yang merasa sakit hati atas kekalahan kubu mereka di KPK.

Rasa sakit hati  inilah yang perlu diwaspadai. Jangan sampai peristiwa yang dialami Antasari Azhar terulang kembali.

Konsistenlah dengan ucapan

Daripada terkesan bermain “solo” di KPK, ada baiknya anda (Abraham Samad ) menyerahkan jumpa pers kepada juru bicara KPK yang memang fungsinya untuk itu. Dengan cara itu tidak perlu public bertanya-tanya mengapa Ketua KPK tidak didampingi anggota saat mengumumkan status seorang tersangka.

Juga, dengan cara menyerahkan jumpa pers kepada juru bicara, anda dapat memenuhi janji anda sendiri bahwa anda akan lebih banyak bekerja ketimbang “nampang” di media.

Sumber: kompasiana.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*