Hingga 2019, listrik Kalimantan dan Sumatera tergantung Malaysia

Merdeka.com – Tahun lalu, PLN telah memutuskan untuk mengimpor listrik dari Malaysia untuk memenuhi kebutuhan di Kalimantan dan Sumatera. Tahun ini pembangunan jaringan transmisi dari Indonesia hingga Serawak sudah dimulai.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Jarman menuturkan alasan pemerintah dan PLN mengimpor listrik dari Malaysia. Selain untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan minyak bumi, impor listrik dari Malaysia menelan biaya yang lebih murah.

“Harga impor listrik dari Malaysia hanya sekitar 9 sen per kilowatt hour (kWh),” ujar Jarman kepada merdeka.com, Senin (11/11).

Menurutnya, jika harus menggunakan pembangkit listrik diesel, biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar. “Produksi pembangkit listrik berbahan bakar minyak jauh lebih mahal, mencapai 30 sen per kWh,” terang dia.

Jarman menjelaskan, kerja sama impor ini akan berlangsung 5 tahun, terhitung mulai Januari 2014. Setelah itu, listrik di Kalimantan dan Sumatera akan dipasok dari pembangkit batu bara yang kini masih dalam proses pembangunan.

Dengan kata lain, selama lima tahun ke depan, kebutuhan listrik untuk warga di Kalimantan dan Sumatera akan tergantung impor dari Malaysia. Impor menjadi solusi untuk memenuhi tingkat elektrifikasi nasional yang hingga saat ini hanya mencapai 70 persen.

Meski mengimpor listrik dari Malaysia, kebijakan ini diyakini tidak akan membuat PLN tergantung pasokan energi dari negeri jiran. Sebab, impor listrik akan dihentikan setelah semua infrastruktur pembangkit listrik tenaga batu bara selesai dibangun.

Baca Juga :  Tsunami ancam banyak daerah di Indonesia

“Impor listrik dilakukan hanya untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar minyak dan tidak untuk mengisi pasokan listrik secara keseluruhan,” katanya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Sapi di import, gula di import, kacang kedelai di import, barang-barang lainnya di import, buah di import dan masih banyak yang di import yang tadinya tidak pernah di import dan bahkan Indonesia ini melakukan Export.

    Sekarang semua serba import, dan para pemangku jabatan senang dengan import dengan alasan hitung-hitungan biaya.
    Biaya muncul dari biaya itu sendiri. Jika Listrik juga di Import, maka apalagi ya yang mau diimport, ngaku negara Kaya SDA tapi semua serba di Import.

    Sudah saatnya Harga-harga yang ada disetiap pembelian Barang di BUMN Pelistrikan Indonesia ini perlu di audit kewajarannya disetiap harga barang demi barang, harga/biaya setiap jasa yang dipakai dan juga dimana letak perbedaan harga/biaya sehingga menimbulkan Listrik dari Luar Negeri lebih murah. Sangat tidak masuk akal kalau sampai Listrik dari Malaysia lebih murah daripada listrik dalam negeri dengan sejumlah kekayaan SDA yang ada di Ibu Pertiwi ini.

    Kalau mau dibuat masuk akal di Import sih.. ya bisa-bisa saja dibuat masuk akal, tapi apakah itu masuk akal yang dipaksakan atau tidak, maka pengujian kewajaran semua biaya dengan tingkat inflasi dan harga dilapangan perlu dilakukan pengujian secara terbuka dan publikasi ke masyarakat.
    Dan pengujian itu, perlu dilakukan mulai dari harga dari suatu lelang yang dimenangkan, apakah harga yang dimasukkan setiap calon yang ikut lelang itu, murni harga pasar yang wajar atau tidak secara bisnis.

    Untuk itu sudah saatnya PLN membuktikan apakah setiap harga demi harga yang menjadi biaya perhitungan PLN itu di uji dan sudah mendekati kewajaran dari setiap sumber nilai biaya dalam menghitung Costing.

    Ternyata para pejabat kita juga senang juga dengan produk Luar Negeri walapun slogan “CINTAILAH PRODUK INDONESIA”…
    Apakah sungai-sungai di Ibu Pertiwi ini tidak mampu memberikan air untuk pembangkit Listrik yang dibutuhkan disetiap kota-kota yang ada yang mempunyai pegunungan dan sungai-sungai yang bertebaran dimana-mana? atau….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*