Hukuman Gayus Jadi 12 Tahun Penjara

Gayus Halomoan Tambunan

Rengekan Gayus Halomoan Tambunan di Pengadilan Tipikor, Senin (25/7) lalu tampaknya tidak berdampak apapun terhadap kejahatannya. Sebab, Majelis Kasasi MA justru memperberat hukuman Gayus Tambunan menjadi 12 tahun pidana penjara. Tidak hanya itu, mantan pegawai Ditjen Pajak itu harus membayar denda Rp500 juta.

Turunnya putusan tersebut berarti hukuman yang harus dijalani Gayus lebih berat dua tahun dari sebelumnya yakni 10 tahun penjara. Kekalahan berujung pada penambahan vonis itu menambah daftar panjang kekalahan Gayus. Tercatat, kali pertama Gayus di vonis 5 tahun di pengadilan tingkat pertama. Kemudian, dia divonis menjadi 10 tahun penjara saat banding di Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta.

Ada dua perkara yang membuat lulusan Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN) harus lebih lama mendekam dipenjara. Kedua perkara itu adalah keberatan pajak yang diajukan PT Surya Alam Tunggal, Sidoarjo dan penyuapan. Dia di dakwa memberi atau menjanjikan kepada Ketua Pengadilan Negeri Tangerang Muchtadi Asnun sebesar US$ 30.000 dan US$ 10.000 kepada Hakim anggota lainnya.

Krisna Harahap, salahseorang Hakim Agung yang memeriksa perkara itu , Rabu (27/7), menjelaskan pemberian uang tidak berhenti di hakim. Ada juga aliran dana dalam bentuk dollar Amerika ke anggota Polri Arafat Enanie US$ 2.500 dan Sri Sumartini US$ 3.500. “Sedangkan kepada Penasehat Hukum, Haposan Hutagalung sebesar Rp 800 juta dan US$ 45.000,” jelasnya.

Baca Juga :  Menkes: Benar Saya Sakit

Pertimbangan hakim memberikan hukuman yang lebih berat adalah pentingnya pajak bagi APBN. Oleh sebab itu, intensifikasi dan extensifikasi perpajakan harus selalu dilakukan. Sehingga, tidak diperbolehkan adanya gangguan terhadap pengumpulan pajak. “Karena mengganggu jalannya roda pembangunan,” imbuhnya.

Mungkin memang pantas jika Gayus dihukum lebih berat. Sebab, dalam putusan tersebut menyebutkan jika penggelapan pajak terus disorot. Semakin berat lantaran Gayus adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak Pusat. Dia yang diharap bisa menjadi pelayan masyarakat justru menjadi benalu. “Dia juga melakukan kejahatan lain sementara perkaranya berproses di pengadilan,” terang putusan tersebut.

Gayus sendiri tampaknya sudah menduga adanya hukuman yang lebih berat itu. Terlihat saat Senin (25/7), dia mengatakan bingung dengan keadaan dirinya. Semuanya mengecap dia seperti penjahat nomor satu di Indonesia. Sehingga, hukumannya terus bertambah banyak. “Padahal, apa yang dituduhkan tidak semua benar,” urainya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, keberadaannya saat ini tidak lepas dari campur tangan Satgas Anti Mafia Hukum. Dia menyebut, banyak pihak yang mendorongnya agar “bernyanyi” dengan iming-iming hukuman lebih ringan. Tetapi, setelah semua dia ungkap hal itu tidak dia rasakan. “Hukuman yan gsaya dapat justru terus lebih berat,” tandasnya. (dim/jpnn)

jpnn.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Warga Dayak Tolak FPI - Gus Solah: Saatnya FPI Introspeksi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*