Hutan Bukit Barisan Terancam Kritis, diperkirakan kerugian Rp 4 Milyar Per Tahun

Puing – puing sisa potongan kayu, salah satu bukti pembiaran illegal logging di Palas. Fhoto/M Edi Rizki

Secara kasat mata, ekses negatif illegal logging dapat diketahui dari rusaknya ekosistem hutan. Rusaknya ekosistem hutan ini berdampak pada menurunnya atau bahkan hilangnya fungsi hutan sebagai penyimpan air, pengendali air yang dapat mencegah banjir juga tanah longsor. Sehingga rentan terhadap bencana kekeringan, banjir maupun tanah longsor. Di samping itu, illegal logging juga menghilangkan keanekaragaman hayati, berkurangnya kualitas dan kuantitas ekosistem dan biodiversity, bahkan illegal logging dapat berperan dalam kepunahan satwa alam hutan Indonesia, ungkap Salah Seorang Pegiat Lingkungan Hidup Padang Lawas, DR. Pandapotan Siregar, ST, MM kepada Mandiri, Minggu (2/11) di Sibuhuan

Kerugian akibat penebangan liar yang hingga kini belum terdata secara rinci secara pasti, namun menyebabkan negara mengalami kerugian milyaran rupiah per tahun.” Dihitung secara kasat, kerugian negara mencapai Rp 5 M per tahun. Itu akibat aksi perusakan dan penebangan hutan. Belum termasuk flora dan fauna di dalamnya,” tambah Panda

Dari sisi ekonomis, lanjutnya, illegal logging juga telah menyebabkan hilangnya devisa negara. Rully Symanda, pegiat Wahana Lingkungan Hidup Indonesaia (WALHI) menyatakan, hasil illegal logging di Indonesia pertahunnya mencapai 67 juta meter kubik dengan nilai kerugian sebesar Rp 4 triliun bagi negara

“Terkait maraknya Illegal Logging yang terkesan “dilindungi”, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Utara diminta harus segera turun ke Padang Lawas, demi keselamatan hutan Palas, diantaranya Hutan Bukit Barisan yang dikenal sebagai Simbol Tentara Negara Indonesia (TNI)”, tutur Panda

Baca Juga :  Diduga Hasil Illegal Logging - 3 Truk Muatan Kayu Diamankan Polres Tapsel
kayu jenis log di bantaran sungai Siraisan dan sungai Batang Lubu, salah satu bukti pembiaran illegal logging di Palas. Fhoto/M Edi Rizki

Maraknya kasus pembalakan liar di Padang Lawas, nyaris tidak satu pun yang pernah terungkap oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta Jajaran Penegak hukum di Palas. Padahal, kejadian yang menyisakan trauma besar telah banyak terjadi, seperti kejadian “banjir bandang” yang menewaskan warga dan merugikan harta benda masyarakat di Desa Janji Lobi, Kecamatan Barumun, kejadian banjir Sungai Batang Lubu, Kecamatan Batang Lubu Sutam, juga menewaskan warga dan menyapu habis Proyek Pemerintah, yakni Pembangunan Bendungan Pulo Payung di Desa Pasar Sabtu, Pinarik tahun anggaran 2013, serta Tanah Longsor dibeberapa titik di Kecamatan Sosopan

Apabila hal ini terus berlanjut, maka Bukit Barisan akan kritis dan tidak menutup kemungkinan kejadian yang lebih besar akan menimpa warga beberapa daerah di Palas

“Dimana tanggung jawab Pemerintah Daerah untuk menyelamatkan Devisa Negara, serta memberikan kenyamanan hidup kepada Masyarakat apabila trauma selalu menimpa mereka setiap saat”, Ujar Hasnul Hadiansyah, Ketua Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan wilayah Tabagsel yang juga warga Batang Lubu Sutam

Hingga berita ini terbit, Kadishutbun Palas, Thamrin Harahap, SP belum pernah dapat dijumpai dikantornya, Kadis terkesan mengelak karena diduga terlibat dengan beberapa kasus illegal logging di Palas.

Baca Juga :  Markus Berkeliaran di Polri, Komisi III Panggil Kapolri

/Edi

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Info narasumber kurang akurat, status hutan curian, para tersangka pelaku dan penadah semua tak jelas. Konfirmasi si Thamrin kadishutkab juga tak ada, nampak kali si jurnalis belum berkualifikasi investigatif reporter.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*