Ikan Pora-Pora, Sumber Penghasilan Masyarakat Tobasa

Ikan pora-pora yang dapat cepat berkembang biak di perairan Danau Toba menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pingiran Danau Toba.

Demikian pengakuan R br Siahaan yang sehari-harinya menjaga jaring ikan miliknya, yang membentang Sungai Alian tepatnya di bawah jembatan yang menghubungkan Kelurahan Napitupulu dengan Kelurahan Hauma Bange, Kecamatan Balige kepada BATAKPOS, Rabu (16/6).

Photo : Nelayan Danau Toba. Photographer : Johnny Siahaan (www.tobaphotographerclub.blogspot.com)

Dia mengatakan, sumber utama penghasilan mereka adalah ikan pora-pora hasil jaring mereka. “Kami tidak memiliki pekerjaan sebagai sumber pendapatan, karena tidak memiliki sawah atau kebun untuk diolah. Dari jaring inilah penghasilan bagi keluarga kami, baik untuk biaya sehari-hari maupun biaya sekolah anak-anak saya,” katanya sambil mengamati ikan pora-pora yang melompat ke dalam jaring miliknya.

Ditambahkannya penghasilan mereka sehari-harinya tidak menentu. Sebab bila musim hujan mereka tidak memasang jaring karena akan terbawa arus sungai. Begitu juga jikalau air sungai yang mengalir terlihat kotor.

Ditanya berapa banyak ikan pora-pora yang didapat, R br Siahaan mengaku per hari mereka bisa mendapat 100 sampai 150 Kg. Bila rezeki tiba bisa mencapai 300 kg dalam satu hari satu malam. Ikan tersebut dijual ke Tarutung, Siborongborong, Pangaribuan, dan di Pasar Balige. Harga mengecer ke toke tiga ribu rupiah per kilogram, bila menjual sendiri harganya per kilogram empat ribu rupiah.

Baca Juga :  Museum Sumut Pamerkan Koleksi Situs Palas

“Bila ada yang rindu makan ikan pora-pora yang baru ditangkap datang saja ke Jembatan Sungai Alian Balige,” katanya mempromosikan ikan hasil tangkapannya.

Hal serupa juga dikatakan W Napitupulu juga memiliki jaring di samping milik R br Siahaan. Mereka menangkap ikan pora-pora di Sungai Alian itu sudah tiga tahun lebih sejak pemerintah membangun bendungan yang berfungsi menahan pasir. Pada saat bangunan bronjong selesai, anak-anak yang mandi di sungai melihat ikan pora-pora melompat melewati bronjong tersebut.

Teknik penangkapan ikan pora-pora yang dilakukan R br Siahaan, tergolong unik dan jarang dijumpai. Jaring sepanjang tiga meter, lebar satu meter dibentangkan di atas permukaan sungai yang mengalir tepat di atas bronjong. Ketika ikan pora-pora mau ke hulu, ikan melompat melewati bronjong papan tersebut dan tepat masuk ke dalam jaring yang terbentang.

Sumber: http://batakpos-online.com/content/view/14935/42/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. danau toba merupakan satu-satunya danau di indonesia ini yang memiliki potensi yang sangat besar untuk untuk dimanfaatkan dan mampu medongkrak kesjahteraan masayarakat pesisir danau, terutama dalam pemanfaatan hasil perikanan.
    kita tahu bahwa potensi ikan di danau toba ini sangat bersar, cuman yang menjadi permasalahannya menut saya adalah cara penanangan hasil tanggkapan ikan, terutama ikan pora-pora oreochromis niliticus serta mossambicus.
    dan juga diversifikasi porak juga belum ada.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*