Ilmuwan Akan Hidupkan Kembali Mammoth dengan Teknik Kloning

Para ilmuwan, Senin (17/1), menyatakan berupaya untuk menghidupkan hewan yang punah ini melalui teknologi kloning.

Sekelompok ilmuwan Jepang pada tahun ini akan memulai proyek menghidupkan kembali mammoth (gajah purba berukuran raksasa) yang sudah lama punah dengan menggunakan teknologi kloning guna mengembalikan binatang berkulit tebal itu dalam lima tahun ini, demikian menurut laporan, Senin (17/1).

Para ilmuwan itu akan mencoba mengembalikan spesies tersebut dengan mengambil jaringan dari bangkai mammoth yang diawetkan pada musim panas ini di laboratorium penelitian Rusia, menurut laporan surat kabar Yomiuri Shimbun.

“Persiapan dilakukan agar tujuan tersebut dapat tercapai,” kata pemimpin penelitian dan profesor dari Universitas Kyoto, Akira Iritani, kepada koran itu. Berdasarkan rencana tersebut, nuklei dari sel mammoth akan dimasukkan ke dalam sel telur gajah yang nukleinya sudah dibuang agar dapat menciptakan embrio berisi gen mammoth, katanya. Embrio tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam rahim gajah dengan harapan akan melahirkan bayi mammoth.

Para peneliti berharap untuk mencapai tujuan ini dalam kurun waktu lima hingga enam tahun, kata Yomiuri. Tim tersebut, yang telah mengundang keikutsertaan peneliti mammoth Rusia dan dua pakar gajah asal Amerika Serikat dalam proyek itu, sudah membentuk teknik untuk mengekstrak DNA dari sel terbeku. Para ilmuwan semula membatalkan niat mereka karena sebelumnya nuklei dalam sel dari jaringan kulit dan otot mammoth sudah rusak oleh kristal es dan terbukti tidak dapat digunakan.

Baca Juga :  FingerReader, Cincin Canggih yang Mampu Membantu Membacakan Teks untuk Para Tuna Netra

Namun, peneliti Jepang lain, Teruhiko Wakayama dari Pusat Pengembangan Biologi Riken, berhasil mengkloning tikus dari sel yang dibekukan selama 16 tahun. Berdasarkan teknik Wakayama, tim Iritani mengembangkan metode untuk mengambil nuklei sel telur mammoth tanpa merusak sel.

“Bila embrio klon dapat diciptakan, kami perlu melakukan diskusi, sebelum mentransplantasi ke dalam rahim gajah, mengenai cara pengembangbiakkan mammoth dan cara menunjukkan binatang itu ke masyarakat,” kata Iritani. “Setelah mammoth itu terlahir, kami akan mengamati ekologi dan gen binatang itu guna mempelajari penyebab kepunahan spesies dan berbagai faktor lainnya,” tambahnya. Lebih 80 persen seluruh penemuan mammoth berasal dari penggalian di lapisan permafrost di dataran Republik Sakha di timur Siberia. (Ant/AFP) (analisadaily.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*