Ilmuwan Bantu Transparansi Gedung Putih

Sebagian besar orang mungkin tidak mengira kalau ilmuwan menjadi sosok paling sering muncul di Gedung Putih. Mereka menyelamatkan pemerintah dari tumpukan data yang sangat berantakan.

White House

Masyararakat bisa menemukan gundukan informasi administrasi pemerintah di Data.gov, situs yang dibuat pada 2009. Situs ini memang dimaksudkan untuk meningkatkan akses publik terhadap data bernilai tinggi sehingga mudah dibaca.

Pemerintah Obama memang berjanji untuk menciptakan tata kerja pemerintah yang transparan. Namun, mereka mengakui ada begitu banyak data yang sebagian besar tidak disortir berdasarkan konteks tertentu. Lebih dari 270 ribu data yang tidak tersusun rapi.

Gedung Putih kemudian berkenalan dengan ilmuwan komputer di Rensselaer Polytechnic Institute, New York, James Hendler yang berjanji, bersama timnya, mencari cara bagaimana menemukan informasi secara efektif di antara gangguan digital.

“Pemerintah mengumpulkan data untuk tujuan yang sangat khusus,” kata Hendler seperti dikutip dari ABC News. Anda, sebagai masyarakat, dapat menggunakan data untuk sesuatu. Mungkin Anda ingin melacak pengeluaran?” katanya lagi.

Namun, informasi baku yang dikumpulkan instansi pemerintah, baik soal pengawasan ozon hingga pengunjung Gedung Putih, seringkali membuat pusing pengguna situs itu. Lembaga Penyelamatan Lingkungan (Environmental Protection Agency AS) misalnya, membuat daftar pengamatan ozon di seluruh dunia tanpa lokasi.

Gedung Putih juga membuat daftar setiap orang yang masuk ke situs itu sebagai cara pengamanan berdasarkan nama, tanggal lahir dan alamat. Namun tanpa identitas tambahan seperti alasan mereka mengunjungi Gedung Putih.

Baca Juga :  Situs Mail.com Dijual Seharga USD100 Juta

Tokoh lainnya yang ikut mewujudkan pembenahan data ini adalah Anna Burger yang kini menjadi sering mengunjungi Gedung Putih. Dia berada di balik nama Robert Wolf dan Andrew Stern. Beberapa nama lain termasuk Arlen Specter, D-Pa, Dick Durbin, Christopher Dodd serta Richard Trumka dari Serikat Pekerja Tambang AS.

Hendler dan timnya ingin menggabungkan Data.gov dengan database lain seperti catatan di surat kabar misalnya. Sehingga nama-nama populer di atas bisa ikut membantu untuk mewujudkannya.

Burger misalnya, menjabat sebagai pemimpin serikat buruh sekaligus mantan sekertaris-bendahara Service Employees International Union yang beranggotakan 2,2 juta orang. Posisi Burger bisa membantu ilmuwan mendapatkan penggabungan informasi dari sumber data yang berbeda.

Penggabungan data dapat berguna secara substansial, untuk menentukan apakah pajak rokok yang tinggi dapat mencegah orang merokok misalnya. Berdasarkan cara yang diberikan Hendler, ditemukan bahwa pajak rokok New Jersey paling tinggi namun Utah memiliki tingkat merokok yang paling rendah.

Dengan cara yang lebih mudah, studi menunjukkan ada faktor lain yang berpengaruh besar seperti regulasi pemerintah lokal yang mengharuskan beberapa lingkungan bebas rokok. Utah mungkin menunjukkan kasus tidak biasa di mana sejumlah orang berprinsip untuk tidak merokok.

“Target jangka panjang adalah mengubah data itu menjadi sebuah diskusi antara pemerintah dan masyarakat,” tegasnya. (inilah.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Agustus, Start Menu Kembali ke Windows 8?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*