Imlek, Hari Raya Orang Cina

Oleh: Traktor Lubis *)

1296569181581437234 Imlek, Hari Raya Orang Cina
Traktor Lubis

Dalam sebuah sesi pengajaran pada bidang studi Ekonomi yang saya lakoni, akhirnya sampai pada sebuah topik menarik. Kesenjangan Sosial, sebagai sebuah dampak dari sistem ekonomi liberal. Saya mengajar IPS di sebuah sekolah swasta yang dikelolah oleh sebuah yayasan Buddhis di Kab. Labuhan Batu – Sumatera Utara.

“Apa itu maksudnya kesenjangan sosial? Mengapa ini bisa menjadi hal yang negatif?”

Pertanyaan sangat mendasar pada sebuah hal yang sepertinya kita jumpai dimana-mana.

Lantas saya balik mengajukan pertanyaan. Bukan untuk memperlebar kesenjangan yang ada, tapi tak lain bertujuan untuk memberikan sebuah gambaran pahit, bagaimana kesenjangan sosial ini begitu nyata.

“Siapa yang pernah melihat atau kenal, orang pribumi mempunyai pembantu rumah tangga dari etnis Cina?” tanyaku gamblang pada murid muridku, yang kebetulan, pada sekolah aku mengajar sebahagian besar memang berasal dari etnis Cina.

Tak ada yang menjawab.Malahan sebahagian terkikik, seakan akan hal yang lucu, bila ada orang dari etnis Cina di tempatku bekerja sebagai tukang cuci misalnya, pada orang orang pribumi, Batak, Jawa atau Melayu.

“Nah… itu dia kesenjangan sosial….”

Lalu saya menjabarkan dengan lebih lebar lagi. Bukan masalah suku yang ditekankan, tetapi kepada ketidak merataan kemakmuran pada penduduk Indonesia. Lantas, uraian mengalir. pada pertanyaan baru yang saya lempar kembali.

“Mana yang lebih kaya Indonesia atau Malaysia?”

Hampir seperti paduan suara, yang keluar adalah Malaysia.

“Ok… benar sekali, sebagai negara, Malaysia jauh lebih makmur dari Indonesia. Tetapi jangan salah, orang terkaya Indonesia, bisa puluhan kali lipat kekayaannya dari orang terkaya di Malaysia…”

Dan, sukar dipercaya, hal ini membuat kelasku bengong. Kelas VIII (alias kelas 2) SMP.

………….

Kemudian, kenyataan saya lebih suka menyebutkan Cina daripada Tionghua. Saya menceritakan sebuah kisah. Sedikit sejarah tepatnya. Bagaimana bisa kata Cina yang dikenal dunia, bukan Tiong Hua, yang diinginkan kebanyakan orang orang etnis Cina Indonesia untuk memanggil mereka.

Dulu, saat Cina masih terpecah pecah, belum bersatu seperti sekarang. Persis seperti Nusantara sebelum Majapahit atau Sriwijaya.

Adalah Dinasti Chin, yang berhasil dengan kekerasan dan perang tentunya, untuk menyatukan seluruh daratan menjadi Cina yang kita kenal sekarang. Nah, sewaktu belatentara Chin ini menyerbu untuk menaklukkan daerah daerah yang belum tahluk. Daerah yang belum tahluk ini pada umumnya, sudah mendengar ambisi Chin untuk menyatukan Cina.

Maka, teriakan penduduk yang memperingatkan datangnya balatentara Chin adalah…

“Chin a……. Chin a……. ” dialek akhiran ‘a’ banyak dipakai pada percakapan orang orang Cina.

Itu mendasari penyebutan Cina.

Lalu mengapa harus Tiong Hua?

Baca Juga :  Siapkan Regu Tembak untuk Koruptor

Menurut saya (tentu saja ini pribadi). Tak ada salahnya dengan Cina. Dan tidak lebih bermartabat dengan Tiong Hua. 3 kali revolusi di jaman modern Indonesia, toh orang orang dari etnis ini yang selalu jadi kambing hitam. Tahun 45, tahun 66, tahun 98. mau Tiong Hua atau Cina, mereka lah yang selalu jadi kambing hitam politik. Sasaran amukan massa yang marah. Bukan karena Tiong Hua atau Cina, tapi justru kepada KESENJANGAN SOSIAL, yang di awal paragrap saya tulis.

Dunia menuliskan China. Bukan Cina. Tentunya, ini dipatokkan pada penulisan China dalam bahasa Inggris. Dan, Bahasa Indonesia, yang sebenarnya adalah bahasa Melayu + bahasa Daerah dan Unsur serapan. Bisa saja menyerap bahasa Asing. Dengan penyesuaian penulisan tentunya ke ejaan kita.

Contoh: ’signal’, yang sempat salah kaprah diucapkan seperti ’siknal’ Sebenarnya kan sudah ada bahasa Indonesianya, yaitu ’sinyal’. Karena, penulisan bahasa Indonesia biasanya mengikuti bunyi pengucapan, bukan tulisan.

Itu mengapa subject menjadi subjek, object menjadi objek.

Lalu, China menjadi Cina.

Mengapa hal seperti ini sangat menyinggung perasaan etnis Cina? Bukannya memaksakan Cina menjadi Tiong Hua, kalau kita pandang secara terbalik, justru tidak menghormati kaidah kaidah Bahasa Indonesia yang sudah Disempurnakan?

Apa kelebihan etnis ini, sehingga harus mengalami pengistimewaan bahasa?

Tidak ada. Selain, perasaan untuk ingin dihargai. Karena, Cina selalu dianggap pelecehan. Dan, di jaman reformasi ini, sialnya (saya katakan ini kesialan) para elit politik, justru berlomba-lomba ber-Tiong Hua-ria. Tanpa terapan nyata untuk memperjuangkan persamaan hak yang real.

Etnis Cina suka di Tiong Hua-kan,. politikus, melihat peluang ini untuk mengambil simpati mereka.

Sebentar lagi Imlek.  Libur kan, Libur nasional. Mau tidak mau, ingat dong, 50 tahun lebih Indonesia merdeka, hari raya orang orang etnis Cina ini, yang mengkuningkan Gus Dur, yang membuat merah Mega.

Bukan yang lain, yang suka ber-Tiong Hua-ria.

—————————

Balik lagi ke sesi mengajar.

Satu lagi sempat saya tanyakan ke murid. Acak, saya tunjuk satu murid. Saya tanya…

“Berapa orang teman kamu, yang bukan orang dari etnis Cina?”

Si murid merenung sejenak, berusaha terlihat seperti berpikir. Dan tak kuasa menjawab.

Saya yang jawab,”Tidak ada…..”

Dan, kemudian muncul lah petuah, nasehat yang sudah sewajarnya dari seorang guru ke anak didiknya. Bahwa, kalian masih muda… dan kalian bisa membayangkan sendiri, kalian di produksi di negri ini, lahir juga di negri ini, tumbuh di negri ini juga, besar juga, dan mungkin juga nanti matinya di negri ini. Bagaimana mungkin, diusia sekarang ini kalian tak memiliki satupun teman bermain yang bukan dari sekolah ini yang tidak ber etnis Cina?

Baca Juga :  Nurdin dan Politisasi PSSI

Dan, kalian bisa menanyakan “APA ITU KESENJANGAN SOSIAL?” Walau saya tahu, mereka memang tidak mengerti apa arti kalimat tersebut. Tapi lebih jauh, saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan, bahwa kesenjangan sosial terjadi di lingkungan mereka. Khususnya di Sumatera Utara.

Kemudian ini diluar sesi mengajar.

Bahwa Imlek, sebagai sebuah hari raya yang termasuk paling banyak dirayakan manusia di muka bumi ini. Bayangkan, 1,2 miliar lebih ada di Cina daratan. Entah berapa ratus juta tersebar di seluruh dunia. Tak peduli apa agamanya, Buddha atau Khong Hu Cu atau Taoisme atau Kristen baik Katolik maupun Protestan. Kebanyakan merayakan Imlek. Ini hari raya suku/etnis Cina. Bukan hari raya agama.

Ada bagian dari perayaan Imlek yan bersifat religius.  Misalnya Doa penganut Khong Hu Cu pada Thien – Langit – ungkapan mereka untuk Yang Maha Kuasa.  Namun, penganut agama lain, misalnya etnis Cina yang Buddha, mereka akan melakukan doa Tahun Baru Imlek di Vihara, bersujud pada Sang Tri Ratna.
Etnis Cina, yang umumnya beragama Buddha di sini (Sumut), sebagai Buddhis, tentu saja memiliki hari raya sendiri, yaitu Tri Suci Waisak. Bukan Imlek. Tapi Imlek lebih sebagai hari raya Khong Hu Chu.  Dan, sebagai orang-orang Cina. Imlek, melebihi itu semua. Yang namanya orang Cina, yah Imlek hari rayanya.

————

Sebelum lupa, Khong Xi Fat Chai. Bagi teman teman dari etnis Cina, agama apapun. Selamat ya, Semoga Sukses (ini arti dari Khong Xi Fat Chai – gak ada embel embel Tuhan, Dewa, Dewi dll kan…).

———–

*)  Saya adalah Half Blood Prince.  Seperti Profesor Snape, di nadi saya mengalir darah Batak, Cina dan Jawa.  Bapak saya Batak-Jawa, Ibu saya Cina. Saya merayakan Imlek bukan karena saya memeluk Buddha, tetapi sebagai tribute ke almarhumah Ibu Saya. Mommy I miss you.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*