“In Collaboration With…”, tembang lawas Fariz dan Dian dengan rasa baru

Musisi Dian Pramana Putra (kanan) memperlihatkan album kompilasi terbaru bersama Fariz RM (kiri) saat hadir dalam konfrensi pers peluncuran album “Fariz RM & Dian PP in Collaboration with” di Jakarta, Senin (3/11). (ANTARA FOTO/Teresia May)

Jakarta  – Album kompilasi bertajuk “In Collaboration With…” milik Fariz RM dan Dian Pramana Poetra yang berkolaborasi dengan sederet nama musisi muda Indonesia menghadirkan tembang-tembang lawas karya kedua musisi kawakan tersebut yang dibalut dengan irama musik anak muda masa kini.

Album yang diluncurkan pada Senin itu menawarkan 13 tembang karya Fariz RM dan Dian PP yang diaransemen ulang.

Di daftar lagu pertama terdapat Samy Simorangkir yang membawa ulang lagu Kau Seputih Melati sekaligus berduet dengan Dian PP. Lagu yang sedikit berirama pop, “menyimpang” dari jalur musik Dian yang bergenre jazz ini dinyanyikan oleh Sammy yang notabene adalah seorang penyanyi pop.

Alunan piano membuka lagu ini diiringi suara vibra khas Sammy. Namun, di awal lagu ini “jiwa” lagu tidak tersampaikan, hingga di reff kedua Dian masuk dan membuat hidup lagu ini.

Lagu mendayu milik lainnya yang berjudul demi cintaku dinyanyikan ulang oleh Fatin Shidqia Lubis. Dengan suaranya seraknya yang khas, Fatin berhasil memberi warna baru dalam lagu ini.

Sedangkan aransemen musiknya sendiri tidak jauh berbeda dengan versi aslinya.

Berbeda dengan lagu Sakura ciptaan Fariz RM tahun 1980, lagu yang ia bawakan kembali bersama Sandhy Sondoro ini terkesan lebih powerful dengan musik elektronik dipembukaannya dan iringan musik yang lebih up beat.

Lagu yang pernah dibawakan oleh Rossa ini terasa sangat pas dibawakan berdua oleh Fariz dan Sandhy karena karakter suara Fariz dan Sandhy yang sedikit memiliki kemiripan.

Perbedaan lain juga terdapat pada lirik bahasa Jepang yang terdapat dalam versi asli lagu ini. Di “Sakura” versi baru, lirik berbahasa Jepang tersebut diganti dengan improvisasi lirik dari Sandhy.

Ditemui saat peluncuran album, Sandhy mengaku senang dapat berkolaborasi dengan musisi legendaris apalagi membawakan Sakura yang juga salah satu lagu favoritnya.

“Tidak beban membawakan lagu ini, karena pada dasarnya saya juga suka dengan lagu ini,” katanya.

Di track nomor keempat, terdapat satu tembang ciptaan Dian PP dan Deddy Dhukun, Semua Jadi Satu, yang dibawakan sangat berbeda oleh Indah Dewi Pertiwi dan Richard Schrijver. Aransemen musik elektronik dalam lagu yang juga sempat dinyanyikan oleh 3 Diva ini menjadikan lagu ini terkesan jauh lebih muda.

Baca Juga :  Anang di Mata Ashanty

Alunan musik jazz sexophone khas dari Fariz RM juga tidak dapat ditemukan dalam lagu Antara Kita yang diaransemen ulang oleh band pendatang baru, Tuffa. Grup band dengan vokalis perempuan ini membawakan lagu ciptaan Sammy Paitam tersebut dengan musik khas ala anak band.

Lagu selanjutnya Biru karya Dian PP dan Deddy Dhukun yang dibawakan ulang oleh Angel Pieters. Penyanyi jebolan ajang pencarian bakat untuk anak-anak ini mengaku sangat familiar dengan lagu tersebut. Meskipun demikian, ia juga merasa mengalami sedikit kesulitan dalam membawakan lagu tersebut.

“Lagu ini sangat familiar buat aku, karena lagu ini juga kesukaan mama papa aku, Kesulitan ada sih pastinya, soalnya ini kan lagu living legend, dalam membawakannya juga engga bisa main-main, jangan sampai merusak keindahan dari lagu aslinya,” katanya.

“Kesulitannya lagi karena aransemen lagu ini beda banget dari lagu aslinya, jadi benar-benar harus mengubah gaya bernaynyinya, tapi at the same time juga esensi dari lagunya itu juga engga hilang walaupun diimprove dengan aransemen yang berbeda,” lanjutnya.

Lagu yang dinyanyikan oleh Vina Panduwinata dalam albumnya Cium Pipiku (1987) ini diaransemen menyerupai musik country dengan alunan gitar yang dominan, sehingga terdengar ringan sesuai dengan usia Angel yang masih remaja.

Sedangkan di lagu Kurnia dan Pesona yang dibawakan ulang oleh Citra Scholastika, ciri khas Citra sebagai penyanyi jazz justru hilang.

“Banyak orang yang mengenal Citra dengan gaya jazzy, tapi saya mencoba menantang dia untuk menyanyikan Kurnia dan Pesona dengan musik dance dan hasilnya sangat memuaskan,” kata Fariz RM saat ditemui ANTARA News usai konferensi pers peluncuran album.

Dalam menyanyikan lagu ini Citra mengaku tidak ingin mendengerakan lagu versi asli, alhasil Citra benar-benar lepas dari penyanyi aslinya.

“Aku berusaha menyanyikannya dengan hati, dengan cara Citra, aku engga mau denger versi aslinya karena aku ingin menyanyikan lagu ini dengan cara Citra,” katanya.

“Aku benar-benar berusaha menginterpretasikan lagunya dengan jaman sekarang sesuai dengan momen anak-anak muda sekarang yang suka banget dengan lagu-lagu instrument, seperti David Guetta,” tambahnya.

Baca Juga :  Gadis "Blonde" Bikin Bieber Bergairah

Setelah sempat dinyanyikan oleh Sarwana dan Dea Mirella pada awal tahun 2000, lagu berjudul Masih Ada karya Dian PP dan Deddy Dhukun dinyanyikan kembali oleh 3 Composer. Dengan diringi alunan musik yang band sederhana, grup trio pencipta lagu ini berhasil membawakan lagu tersebut.

Ecoutez, grup band yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang kesembilan ini, juga turut ambil bagian dalam album ini dengan membawakan lagu Diantara Kita karya Dian PP. Tidak hanya itu, Glenn Fredly juga berduet dengan Dian PP dalam tembang lawas miliknya, Aku Cinta Padamu.

Aransemen musik dari Maliq & D’Essential dipadu dengan suara jazzy Angga membuat lagu Barcelona versi baru tidak kalah dengan versi aslinya. Ditambah dengan suara asli Fariz RM yang juga berduet dengan Angga membuat siapa saja yang mendengarkannya ingin bergoyang.

Isyana Sarsasvati, penyanyi yang sering meng-cover lagu via youtube ini juga menyumbangkan suara merdunya dalam lagu ini Paseban Cafe milik Dian PP. Sementara grup band jazz Sore mengaransemen ulang lagu yang dibawakan Fariz RM dalam albumnya Transs-Hotel San Vicente (1981) yang berjudul Jawab Nurani.

Dengan diluncurkannya album kompilasi yang menggandeng musisi muda ini Fariz berharap anak-anak muda Indonesia tetap mencintai musik tanah air.

“Musik nasional adalah musik nasional, kita boleh aja suka musik luar negeri, boleh aja kita menggemari musik mancanegara, tapi kita harus cinta dan bangga pada musik sendiri,” katanya.

“Saya hanya berharap bisa menjadi penyambung generasi musik nasional,” tambahnya.Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2014 – Oleh: Arindra Meodia

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*