In Memoriam – Rosihan Anwar dan Musim Gugur Jurnalisme

Oleh: Hariadi Saptono *)

2010166620X310 In Memoriam Rosihan Anwar dan Musim Gugur Jurnalisme
KOMPAS/AGUS SUSANTO Rosihan Anwar, dan mesin tik tua yang tidak bisa ditinggalkannya saat menulis. TERKAIT:

KOMPAS.com — Tahun 1968, dia pergi ke Eropa. Di sana, ia menemukan Eropa yang makmur tengah diliputi salju. Dicermatinya. Dicatatnya. Sekarang (2006), ketika usianya 84 tahun, ia menyaksikan musim gugur itu di Indonesia: musim gugur jurnalisme.

Dalam hatinya, jujur dia mengakui, etika dan etos jurnalisme, yaitu para wartawan dan kinerja perusahaan pers Indonesia sekarang, disebutnya telah kehilangan ideologi. Saya teringat, betapa pemandangan alam dan pergantian musim bisa menjadi topik untuk tajuk rencana. Surat kabar New York Times biasa melakukan hal ini.

Lalu dikutipnya tajuk New York Times: “Musim semi ialah semuanya gairah dan awal, musim panas ialah pertumbuhan dan perkembangan. Musim gugur ialah prestasi yang tersimpulkan, padi-padian yang telah dipanen, buah apel yang telah matang, dan buah anggur yang telah diperas.” (Menulis Dalam Air, 1983, hal 226-227).

Keadaan Eropa yang makmur tidak menghanyutkannya. Rosihan pada bagian lain menyambung dengan sajak A Hashymy: Di mana kayu berbuah ranum/Serta kesuma semerbak harum/Di sanalah badanku lahir ke dunia/Tetapi/Di mana rakyat berwajah muram/Bercucur peluh siang dan malam/Di situlah pula daku berada.

Sesudah Presiden Soeharto lengser pascareformasi, dan SIUPP (surat izin usaha penerbitan pers) dihapuskan, kebebasan pers mulai bersemi dan mencari arah. Tetapi, pers pada umumnya telah kehilangan tujuannya.

Rosihan Anwar (84), wartawan sepuh tiga zaman, pendiri Majalah Siasat (1947-1957), dan pendiri serta mantan Pemimpin Redaksi Harian Pedoman (1948-1961, dan 1968-1974), kini lebih banyak tinggal di kediamannya Jalan Surabaya No 13 Jakarta.

Ia masih tetap mengaku sebagai wartawan, free lance. Bertahan terus membaca, mendengarkan siaran radio dan televisi luar negeri, serta menulis semata agar tidak pikun, dan tetap punya uang di usia sepuhnya.

Pagi ini, 6 Mei 2006, “mahaguru” jurnalistik bagi wartawan Indonesia itu memperoleh gelar akademik doctor honoris causa (Dr HC) dari Universitas Islam Nasional (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Menurut Rosihan, krisis ideologi ini karena pers dan wartawan muda sekarang tidak punya ideologi. Di Amerika muncul wacana, ini zaman the end of history, zaman the end of ideology.

The end of history, ndak bener menurut saya, tapi the end of ideology ada benarnya. Jadi karena tidak ada ideologinya, pers reformasi lalu asal hantam sana hantam sini,” katanya.

Padahal ideologi itu ada. Di dalam Pancasila, terbayang ideologi itu, kata Rosihan Anwar. Tapi sekarang—dan ini mengherankan—orang tidak mau bicara tentang Pancasila. “Ambil saja satu dari Pancasila: rakyat masih menunggu hasil pekerjaan kamu. Tolong rakyat ini diselamatkan. Ini sudah ideologi pers.”

Kebebasan pers, dan tiadanya lagi kekangan atas SIUPP, rupanya tak serta-merta membuat pers Indonesia hadir dengan nalar sehat dan jadi pandu masyarakat, jadi pedoman. Kompetisi antarperusahaan pers, pendangkalan akibat komersialisasi dengan mengangkat berita sensasional membuat pers kian bangkrut kredibilitasnya.

Padahal nyali dan elan vital wartawan dan perusahaan pers, persis ada di situ: kepercayaan publik.

Baca Juga :  Muhammadiyah Menghadapi Perkembangan Kehidupan Global

Soekarno ke SBY

Itu sebabnya, generasi wartawan tua, yang mengalami zaman penjajahan, revolusi fisik, dan prakemerdekaan, tahu benar bahwa pelaku-pelaku sejarah Indonesia, para pemimpinnya, sungguh-sungguh memiliki kepribadian, memiliki outstanding. Dan pengalaman sosial dengan para tokoh sejarah itu membentuk mindset tertentu di kalangan wartawan.

Syahrir, Hatta, Soekarno, Panglima Besar Jenderal Soedirman, TB Simatupang, Jenderal Nasution, Sultan Hamengku Buwono IX, bagi Rosihan dan generasinya adalah sejumlah pelaku sejarah dengan integritas dan visi yang mengagumkan.

Para pelaku sejarah itu menjalin hubungan profesional dengan wartawan karena memiliki common ground yang sama.

“Syahrir baru saya kenal setelah dia menjadi perdana menteri sekitar tahun 1945, saat saya menjadi Redaktur Pelaksana Koran Merdeka. Terbuka lagi mata saya, vista baru. Umur 36 tahun sudah jadi PM. Dengan Hatta dan Soekarno saya bicara, kulturnya sama. Sebab kita pendidikan Barat, zaman Belanda. Kami cuma sekolah menengah atas (AMS), tapi saya bisa mengerti dia mengerti. Hal ini tidak dapat saya katakan pada Soeharto. Soeharto lain, dunianya lain, nggak ngerti saya. Jadi ada kesenjangan dengan Soeharto.”

Yang tidak diperoleh generasi wartawan sekarang, menurut Rosihan, ialah pemimpin yang berbobot. Pemimpin yang ada, karakternya mungkin menarik, tapi tidak mencapai bobot seperti pemimpin zaman dulu.

Mereka, disebutnya one of the many. “Kalau diumpamakan dengan film Holywood, mereka ini seperti The Man With The Grey Flannelsuit.”

Singkat kata, pemimpin sekarang bukan pemimpin. Di sisi lain, jurnalisme tidak merambat di ruang kosong.

Soekarno, Hatta, Syahrir, dan orang lain yang amat memberi inspirasi kepada rakyat dan mendorong pers dan wartawannya berlomba mengambil peran yang sejajar.

Dulu rumusannya jernih: kemerdekaan, pembebasan, keadilan sosial. “Maaf saja, SBY dan Jusuf Kalla tidak memberi inspirasi apa-apa,” kata putra keempat Asisten Demang zaman Belanda, bernama Anwar gelar Maharadja Soetan di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat itu. Tidak ada pemimpin sekarang yang bisa membawa masyarakat ke suatu tempat yang tinggi, ibarat Nabi Musa.

Jika peranan media massa tidak bisa mengubah keadaan, ini artinya ada gap antara elite politik dan media massa. Kalau elite politik dan pers tidak bisa bekerja sama, ini juga payah. Media massa akan terus bekerja menurut fungsinya. Membela rakyat terhadap penindasan, penjajahan, kekurangan ekonomi, dan sebagainya.

Dalam zaman globalisasi sekarang, pers harus terus mendidik masyarakat. Menunjukkan ke mana negara dan bangsa ini harus bergerak. “Dan pers juga mesti berani mengatakan, kamu ini sudah kebangetan. Ndak boleh pers diam saja.”

Kalau elite politik itu tidak hirau, serahkan pada rakyat untuk memvonisnya pada Pemilu 2009. “Kita tunggu, apa vonis rakyat tahun 2009 nanti. Dan pers harus tunjukkan siapa dan apa yang mesti kita pilih nanti,” kata Rosihan Anwar.

Namun, pada usia senjanya kini—10 Mei 2006 nanti dia persis berulang tahun ke-84—ia mengaku, tugas dan tujuan hidup cuma untuk menyenangkan setiap orang. “Tapi kalau saya sekarang jadi wartawan, apalagi menjadi pemimpin redaksi atau editor, saya mesti pikir bagaimana mencari strategi, bagaimana menyusun agenda supaya peranan pers tetap besar.”

Baca Juga :  Korban Bom Solo Tak Dendam ke Pelaku

Menyimak naskah pidato pengukuhannya Wartawan Engkau Pahlawan Dalam Hatiku, kita menemukan sosok Rosihan Anwar tetaplah sebagai Rosihan sebagai jurnalis pers perjuangan. “Sekarang coba Anda lihat peringatan Soekarno waktu itu, kita tidak rela menjadikan Indonesia a nation of coolies, and a coolie among the nations.”

Tapi ia juga tahu, wartawan bukanlah politisi. Ia harus tahu politik, tetapi ia tidak bermain politik praktis.

Jadi, media massa ini punya kewajiban dekat dengan rakyat, mendidik, dan mencerahkan mereka. Dan jangan kapok. Pers harus bekerja terus-menerus, menuntaskan satu masalah ke satu masalah. “Harus ada kegigihan, konsistensi, tekun, sampai selesai. Karena itu orang dapat kesan, SBY ini apa kerjanya ini.”

Meski yang ia temui sekarang adalah fakta yang menunjukkan bangsa ini tengah dalam kondisi terpuruk, pemegang penghargaan Bintang Mahaputra Utama II (1973), Piagam Penghargaan Pena Mas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat (1979), serta Bintang Rizal, Filipina (1977) itu, tetap optimistik.

Ia tahu, sebagaimana pernah ditulisnya:  journalist write in water, here today, and gone tomorrow.

Tapi kehadiran Rosihan, suami dari Siti Zuraida Sanawi, dan tokoh sejarah ini sebenarnya telah hadir dalam pentas sejarah Indonesia dengan bermakna.

Ia mengajarkan kecerdasan bercerita-nyaris satu-satunya wartawan kawakan pencerita yang memesona laporan dan eseinya serta greget keberanian, tapi juga ketulusan.

Ia mengakui, ia pernah berkaca pada kakak ipar dan teman sekelasnya, Usmar Ismail, legenda perfilman nasional itu, tentang ketuntasan dan kesungguhan dalam kerja.

“Saya menangis tiga kali dalam hidup saya. Ketika almarhum Usmar Ismail meninggal dunia di tengah usia produktifnya, kehilangan Soedjatmoko—karibnya—, dan melihat bocah Irian yang menderita,” ujar ayah dari Dr Aida Fathya Darwis, Omar Luthfi Anwar MBA, dan Dr Naila Karima ini.

Catatan: Tulisan ini dimuat di Kompas edisi Sabtu 6 Mei 2006, ketika almarhum Rosihan Anwar menerima gelar doctor honoraris causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*