Indonesia Sering Berjaya di Level Usia Muda tapi Tak Berprestasi di Senior, Kenapa?

Belum lama ini anak-anak Indonesia menembus perempatfinal “Piala Dunia”-nya usia 10-12 di London, di final dunia Danone Nations Cup (DNC). Minggu lalu giliran remaja-remaja U-19 berhasil menjuarai Piala AFF. Lalu kenapa di level senior kita sangat sulit berprestasi?

Pertanyaan di atas adalah salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan teman-teman kepada saya melalui akun twitter saya (@coachtimo). Dan melalui tulisan ini saya mencoba menjawabnya dari analisis dan kacamata saya. (Kali ini ada dua hal yang akan saya bahas).

Indonesia sering berjaya di kejuaraan usia muda, namun tidak berprestasi di tingkat senior. Mengapa?

Ini sebuah pertanyaan yang sangat menarik dan seringkali diperdebatkan. Ada beberapa info yang perlu diketahui sehingga salah paham bisa terhindarkan, dan pertanyaan di atas bisa terjawab secara utuh (tidak sepotong-sepotong seperti yang selama ini sering saya alami).

Timnas negara-negara yang maju sepakbolanya dimulai dengan timnas junior berumur 15 tahun. Artinya, kejuaraan internasional di bawah umur 15 tahun lebih mengarah pada turnamen antarklub dan pertandingan antarpelajar. Hal ini tentu tidak bisa menjadi tolak ukur kehebatan pemain usia muda kita dibandingkan negara lain. Selain itu, perlu diketahui bahwa tidak semua turnamen internasional memiliki kelas yang sama. Kebanyakan turnamen bersifat invitasi atau open tournament yang bisa diikuti siapa saja dan belum tentu berkualitas.

ANTARA/M Risyal Hidayat

Turnamen internasional untuk pemain usia dini (6-12 thn) dan usia muda (13-20 thn) sangat marak di berbagai belahan dunia dan ditawarkan oleh berbagai EO dan agency yang bergerak di sport travel. Turnamen-turnamen itu sendiri bisa anda cari infonya di internet dan umumnya dibagi dalam tiga kategori: (1) turnamen kelas kompetitif, (2) menengah dan (3) turnamen yang bersifat rekreasi. Saat ada tim dari Indonesia yang sukses di turnamen-turnamen tersebut, pemberitaan di Indonesia begitu bombastis tanpa menilik klasifikasi turnamen yang diikuti.

Sebagai contoh, turnamen kelas atas dunia saat ini adalah Danone Nations Cup (U12) dan MUPC (U15). Peserta world final untuk kedua turnamen ini harus menempuh jalan yang panjang di negara-negaranya masing-masing. Sedangkan Gothia Cup (Swedia) dan Singa Cup (Singapura) yang mempertandingkan beberapa kelompok umur termasuk contoh turnamen kelas menengah.

Selain pemberitaan yang bombastis, masalah pencurian umur yang kerap terjadi juga bisa mengaburkan nilai pencapaian. Salah satu penjaga gawang terkenal pernah mengaku kepada saya bahwa dia mencuri umur 5 tahun pada sebuah kejuaraan pelajar Asia.

Umumnya pencurian umur dilakukan secara tipis (1-2 tahun lebih tua), namun seringkali juga terjadi pencurian umur secara fantastis (3 tahun ke atas), dengan menggunakan pemain yang secara umur sudah tua namun masih terlihat muda dan berpostur tubuh pendek. Kebiasaan buruk ini terus terjadi karena pengurus, pelatih, pemain dan orangtua terlibat di dalamnya demi kepentingan masing-masing. Petugas kelurahan juga dengan mudah “dibeli” atau dikelabui sehingga surat kelahiran dan lain-lain disulap menjadi sesuai dengan ketentuan turnamen yang diikuti. Kebiasaan buruk ini bukan saja membohongi Indonesia [masyarakat berpikir kita sukses walau sebenarnya curang], tapi juga mendidik pemain untuk menjadi koruptor di masa depan.

Baca Juga :  Mahasiswa Tuntut Kapolsek Padang Bolak Mundur

Turnamen internasional untuk kelompok umur biasanya bersifat festival, artinya pertandingan tidak berlangsung lama. MUPC dilangsungkan selama 2X15 menit. DNC U-12 dilangsungkan 1×15 menit. Hal ini tentu berpengaruh pada hasil akhir. Keberuntungan menjadi faktor penting di saat pertandingan berlangsung secara singkat. Kesimpulan: kesuksesan maupun ketidaksuksesan dalam mengikuti turnamen-turnamen tersebut tidak bisa secara pasti menjadi tolak ukur kemampuan kita dibandingakan negara-negara lainnya.

Satu lagi; usia dini dan usia muda adalah masa pembentukan. Artinya, hasilnya baru akan terlihat di kemudian hari saat mereka bertumbuh menjadi pemain senior. Ketidaksuksesan timnas senior kita dan banyaknya pemain berlabel profesional dan timnas yang bergaya hidup amatiran (tidak menjaga konsumsi makanan yang sesuai, tidak disiplin, dan lain-lain) menunjukan secara jelas bahwa pembinaan pemain usia dini dan usia muda gagal total.

Pembinaan adalah fondasi timnas senior dan di Indonesia pembinaan tidak berjalan dengan baik dan sistematis. Alhasil kegilaan masyarakat Indonesia kepada sepakbola dan jumlah penduduk Indonesia yang begitu banyaknya tidak menghasilkan apa-apa.

Potensi pemain Indonesia yang sebenarnya dan sejujurnya luar biasa pada akhirnya tidak bisa diraih. Hal ini dikarenakan pemain bukan hanya dilahirkan (memiliki bakat alam sebagaimana begitu banyak pemain di Indonesia), tapi juga diciptakan melalui latihan yang berkualitas, pendidikan dalam hal kepribadian dan ilmu pengetahuan (dalam hal ini sport science) serta kompetisi dan turnamen yang dilakukan dengan konsiten, jujur, sportif, dan tidak mengada-ada (sehingga tidak menipu diri dan bangsa Indonesia).

Saya ingin menjadi pelatih. Bagaimana caranya? Langkah-langkah apa yang perlu saya lakukan?

Potensi pemain hanya bisa diraih apabila pembinaan berjalan secara berkualitas. Hal ini dimulai dengan pendidikan pelatih. Masalahnya, di Indonesia banyak sekali pelatih merasa sudah pintar sehingga tidak merasa perlu mencari lisensi dan menambah pengetahuan dan skill melatih.

Umumnya, seseorang menjadi pelatih karena dulunya pernah menjadi pemain bola. Yang diandalkannya adalah cara-cara melatih yang pernah dialaminya dulu tanpa sadar bahwa zaman sudah berubah. Sport science telah berkembang. Pengetahuan taktis dan pengertian akan metode tentang bagaimana cara melatih taktik secara efektif juga telah berkembang pesat. Alhasil latihan yang diterima pemain kita pada umumnya tidak cukup berkualitas untuk bisa bersaing dengan kebanyakan negara-negara lainnya.

Sebagian pelatih lainnya, seperti anda, serius ingin menjadi pelatih yang berkualitas. Yang menyedihkan, Indonesia tidak memiliki akademi kepelatihan untuk pelatih dan wasit, sehingga tidak bisa mengakomodir keinginan anda yang mulia tersebut. Pengprov dan pengcab berjalan sendiri-sendiri sehingga tidak dimiliki data yang pasti tentang jumlah pelatih berlisensi D sampai A di Indonesia! Ketertinggalan kita memang begitu jauhnya. Entah sampai kapan saya harus terus mengkotbahkan kepada pengurus PSSI untuk bekerja secara luar biasa keras, sistimates dan smart [tahu apa yang harus dilakukan tanpa berpikir financial gain], demi mengejar ketertinggalan kita yang sedemikian parahnya.

Baca Juga :  Kamis, Disnaker Gelar Sosialisasi Jamsostek Di 12 Pesantren Psp

Dengan background info di atas, saran saya anda mencari info tentang kapan dan di mana akan diadakan lisensi kepelatihan D dan seterusnya. Caranya, dekati orang-orang yang bekerja di pengcab-pengcab disekitar anda tinggal, sehingga pada waktunya nanti anda mendapatkan info mengenai kapan akan diadakannya kepelatihan.

Selain itu carilah SSB yang cukup berkualitas di daerah anda dan tawarkan diri anda untuk bekerja secara suka rela. Hal ini penting untuk mendapatkan pengetahuan dasar dan pengalaman. Cara menilai SSB mana yang berkualitas mudah saja; bandingkan standard yang tertera di “Kurikulum Sepak Bola Indonesia” dengan kenyataan yang ada di lapangan. Dari sana anda bisa menilai SSB mana yang serius ingin maju dan layak untuk anda jadikan tempat menimba ilmu.

Selain itu rajinlah membaca buku-bulu kepelatihan, psikologi, filsafat, kepemimpinan dan buku-buku mengenai kesehatan olahraga.

Saran saya yang terakhir: tingkatkan kemampuan mempimpin anda dengan cara ikut terlibat di lingkungan RT/RW atau organisasi-organsisasi bermutu di daerah anda.

Sebagai catatan akhir di tulisan ini, saya ingin katakan bahwa memang tujuan utama saya memiliki akun twitter adalah guna memberikan manfaat pengetahuan (terutama mengenai sepakbola) bagi pembaca. Karena keterbatasan waktu dan tempat saya kemudian menulis sebuah buku dengan format tanya jawab berjudul”@coachtimo Menjawab” yang akan segera beredar tahun ini juga. Selain itu, mulai sekarang, saya juga akan membahas secara berkala beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada saya melalui detiksport ini. Semoga bermanfaat.

Salor!

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*