Ini Alasan “Jujur” Penutupan Google Reader

KOMPAS.com — Google secara resmi akan menutup layanan RSS feed Google Reader mulai 1 Juli 2013 mendatang. Pada saat pengumuman layanan ini beberapa waktu lalu, Google menyatakan, semakin menurunnya pengguna produk tersebut dalam beberapa tahun belakangan merupakan alasan mengapa Google harus menutupnya.

Namun, sebenarnya, itu bukan alasan satu-satunya mengapa Google mengakhiri hidup Reader. Ternyata, Google menutup layanan tersebut karena khawatir akan menimbulkan biaya tersembunyi (hidden cost) dari masalah privasi.

Menurut sebuah sumber kepada situs teknologi All Things D, Senin (25/3/2013), Google menghentikan layanan ini karena tidak ingin terjebak dengan tuntutan hukum masalah privasi yang biasanya harus membuat raksasa internet tersebut mengeluarkan uang denda dengan nominal yang besar.

Sumber tersebut mencontohkan kasus Street View yang diduga mengumpulkan password dan data pribadi dari jaringan nirkabel WiFi. Karena kasus ini, Google terpaksa harus membayar denda sebesar 7 juta dollar AS. Tentu ini merupakan hidden cost yang cukup besar, bahkan bagi perusahaan sekelas Google.

Untuk menjaga masalah privasi di setiap produknya, Google sebenarnya bisa saja menyewa pengacara dan juga orang yang mengerti masalah privasi ini. Namun, menurut sumber tersebut, Google bahkan tidak memiliki proyek manajer atau programmer tetap untuk produk Reader sehingga mereka tidak berencana untuk menambah karyawan dan infrastruktur tambahan.

Agar dapat terus hidup, beberapa pengguna menyarankan Google untuk menjual saja layanan ini. Namun, hal tersebut tampaknya tidak akan terjadi. Mengapa? Si sumber mengatakan, layanan ini sangat terintegrasi dengan aplikasi Google lainnya sehingga tidak memungkinkan untuk menjual produk ini secara terpisah.

Baca Juga :  Bocah SMP Garap Antivirus, Awal Ketertarikan Ival Soal Virus

Jadi, sebenarnya berapa banyak konsumen yang dibutuhkan untuk membuat Google membatalkan niatnya? Mantan manajer produk Reader, Nick Baum, mengungkapkan, Google tidak akan menutup layanan ini apabila setidaknya produk milik mereka ini memiliki setidaknya 100 juta pengguna.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*