Inilah Empat Faktor Penyebab Pamor SBY Turun

Susilo Bambang Yudhoyono. ANTARA/Prasetyo Utomo

TEMPO Interaktif, Jakarta – Turunnya pamor Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di mata masyarakat bukan muncul tanpa sebab. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menemukan empat faktor penyebab merosotnya pamor SBY hingga ke angka 47,2 persen pada Juni 2011.

Pertama, semakin banyak kasus besar nasional tidak tuntas di bawah pemerintahan SBY. Meski awalnya SBY meyakinkan publik akan menuntaskan kasus-kasus itu, kenyataannya pernyataan SBY hanya wacana belaka. “SBY dinilai kurang efektif menuntaskan masalah-masalah itu,” kata Sunarto Ciptoharjono, peneliti senior LSI, dalam konferensi pers di kantor LSI di kawasan Rawamangun, Ahad, 26 Juni 2011.

Beragam komunitas punya contoh isu besar sendiri yang tak kunjung tuntas di tangan SBY. Komunitas hak asasi punya kasus pembunuhan Munir. Komunitas politik punya kasus bail out Bank Century. Komunitas keberagaman agama punya kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan pembakaran gereja. Komunitas anti korupsi punya sejumlah kasus, di antaranya kasus dugaan suap dan korupsi yang menyeret nama bekas Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin.

“Tak tuntasnya kasus-kasus membuat kepemimpinan SBY diragukan,” kata Sunarto. “Publik tak mempermasalahkan apakah SBY bisa mengintervensi hukum, publik hanya melihat SBY pernah berjanji menuntaskannya, ternyata tak juga selesai.”

Kedua, SBY dinilai terlalu reaktif atas sejumlah kasus yang menyerang pribadinya dan sering “curhat” ke publik. Padahal kasus itu oleh publik dianggap sepele dan bukan kelasnya ditanggapi presiden. Menurut Sunarto, SBY justru tak bersikap ketika menyangkut kasus nasional lebih besar. “Reaksi SBY untuk kasus publik yang besar justru lamban, ini adalah persepsi yang muncul di publik,” kata Sunarto.

Baca Juga :  Pemenang Pemilu 2014, adalah GOLPUT

Sunarto mencatat, ada sejumlah kasus yang diingat publik atas “curhat” SBY. Antara lain, kasus SMS gelap dari seseorang yang mengaku bernama Nazaruddin, yang isinya menyerang pribadi SBY. Respons SBY terhadap SMS gelap lebih cepat dibanding ketika merespons pemancungan TKI Ruyati oleh pemerintah Arab Saudi. “Publik heran mengapa seorang presiden menghabiskan waktu untuk hal sepele, sementara kasus besar menanti dituntaskan,” kata Sunarto.

Ketiga, SBY dianggap tak mempunyai operator politik tangguh yang bisa membantunya menuntaskan berbagai masalah. Operator politik yang dimaksud antara lain wakil presiden, Partai Demokrat, kabinet, dan Sekretariat Gabungan Partai Koalisi (Setgab). “Sebagai presiden, SBY tentu bicara pada level umum, dan menjadi tugas operator politik untuk menuntaskan dan membuat detil,” kata Sunarto. “Masalahnya, tak adanya operator politik juga atas pilihan SBY sendiri.”

Keempat, berkembangnya kasus dugaan korupsi di Partai Demokrat, kandang politik SBY sendiri. Terseretnya nama sejumlah petinggi partai dalam kasus itu bukan saja merusak citra antikorupsi SBY, tapi juga membuat publik ragu atas kemampuan SBY mengendalikan para kadernya. “Berlarutnya kasus Nazaruddin di Singapura padahal ia masih menjadi anggota DPR dari Demokrat semakin menambah runyam kasus itu,” kata Sunarto.

MAHARDIKA SATRIA HADI

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Sukhoi Akan Santuni Keluarga Korban

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*