Inilah Kunci Pengungkapan Identitas Korban Sukhoi

Aktivitas tim evakuasi jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 di puncak Gunung Salak, Senin (14/5/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Rumah Sakit Polri, Bhayangkara, Kramat Jati, Brigjen (pol) Agus Prayitno mengungkapkan dari 30 kantong jenazah korban pesawat Sukhoi Superjet 100, tim forensik gabungan telah merekapitulasi data post mortem.

Selanjutnya, pihaknya akan mencocokan data tersebut dengan data ante mortem yang sebelumnya telah dikumpulkan pihak keluarga.

“Dari hasil pemeriksaan post mortem sampai tadi malam, sudah dilakukan analisa dan evaluasi, pada hari ini kita sudah mulai melanjutkan proses selanjutnya,yaitu rekonsiliasi, mencocokan atau matching antara post mortem dengan ante mortem,” ujarnya saat konferensi pers di RS Polri, Rabu (16/5/2012).

Perlu diketahui, data ante mortem (pra kematian) merupakan data-data yang disentralisir tim Diseaster Victim Identification (DVI) dari pihak keluarga. Antara lain pengetahuan tentang ciri-ciri fisik korban, pakaian yang dikenakan, sampel DNA, sidik jari, gigi geligi dan lainnya.

Sedangkan data ante mortem (pasca kematian) merupakan data kondisi yang dihimpun tim DVI dari jasad yang ditemukan. Menurut Agus, antara data ante mortem dengan post mortem memilik keterkaitan.

Langkah selanjutnya tim forensik gabungan tersebut akan melakukan pencocokan antara ante mortem dengan post mortem untuk mengidentifikasi identitas terbaru.

“Apabila ada data primer yang cocok antara ante mortem dan post mortem, dapat dipastikan teridentifikasi. Data primer yang dianggap paling mudah menjadi bahan identifikasi adalah sampel DNA, gigi dan sidik jari,” katanya.

Baca Juga :  Pemred Tempo.co: Hati-hati Tertipu Situs Palsu

Hingga saat ini, tim forensik gabungan yang terdiri dari DVI dan Inafis berhasil mengidentifikasi satu jenasah berjenis kelamin laki-laki dan dipastikan warga negara Indonesia. Identifikasi tersebut didapat dari hasil pencocokan antara gigi geligi jasad dengan pihak keluarga.

“Kemudian untuk pemeriksaan yang lain masih dilakukan, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa memberikan hasilnya sehingga kita bisa lebih banyak mengidentifikasi korban tersebut,” lanjut Agus.

Kesulitan Mengidentifikasi Hingga kini, tim forensik gabungan telah berhasil mengidentifikasi 34 sidik jari. Langkah yang selanjutnya dilakukan adalah membandingkan ke 34 sidik jari tersebut dengan 20 data ante mortem yang telah dikumpulkan dari pihak keluarga sebelumnya.

Menurut Pemeriksa Madya Inafis Mabes Polri, AKBP H. Achid Taufik, pihaknya yang bertugas melakukan pemeriksaan sidik jari, pihaknya menemukan kendala dalam proses identifikasi tersebut.

“Data ante mortem kurang lengkap, karena cuma sebagian. Alangkah baiknya keluarga memberikan data aslinya. Kalau pembandingnya 10 jari, Insya Allah diketahui semuanya dalam satu dua hari kita maraton memeriksa,” ujarnya.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*