Inilah Teknik Bom ‘Populer’ di Kalangan Teroris

Jakarta- Bom teroris yang sering muncul di ‘tengah’ masyarakat merupakan bom rakitan yang disebarkan untuk tujuan tertentu, bukan untuk kepentingan militer. Inilah jenis bom rakitan.

Bom rakitan atau dikenal dengan nama improvised explosive device (IED) diciptakan dengan bahan peledak militer konvensional seperti putaran artileri yang merekat pada mekanisme peledak.

Perang Irak 2003-2010, IED digunakan secara rutin oleh pasukan koalisi. Hingga akhir 2007, IED bertanggung jawab atas kematian 60% tentara koalisi di Irak.

Kebanyakan risiko bom digolongkan dalam kategori berdasarkan metode pengiriman, ukuran perangkat dan jenis target. Ini berdasarkan keterangan situs Bomb Security.

Pertama, IED yang disampaikan dengan kurir. Dalam jenis serangan ini, seseorang secara fisik membawa bahan peledak ke target. Di banyak kasus, perangkat perangkat tersembunyi dan meledak setelah kurir pergi dari tempat itu.

Kedua, bom yang disampaikan dengan layanan pos. Dalam banyak kasus, perangkat tersembunyi di dalam surat, paket atau kotak pesanan. Pengebom menggunakan teknik anti-getaran untuk mengaktifkan bom sehingga saat dibuka atau seseorang menyentuh kabel bom secara langsung, bom akan meledak.

Ketiga adalah bom yang dipasang dalam kendaraan. Ada tiga jenis serangan yang diarahkan dengan kendaraan di antaranya perangkat bom yang terpasang di kendaraan kosong kemudian diledakkan, bom dipasang pada kendaraan dan akan aktif jika kendaraan itu bergerak, bom yang dipasang di sepanjang jalur berkendara sehingga meledak saat kendaraan melewati bom.

Baca Juga :  2011, Puncak Serangan Malware pada Smartphone

Keempat adalah bom berjarak atau Conventional Weapons of Mass Destruction (CWMD) yang merupakan alat peledak skala besar. Bom ini mampu menciptakan kerusakan dan korban dalam jumlah banyak.

Kelima adalah serangan bom yang menggunakan medium, di antaranya roket anti-tank, granat tangan, koktail Molotov, mortir, dan roket granat. (yahoo.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*