Insiden Senayan – “PEMAIN KE 12 PSSI)

Sumber: www.aguswahyudi.blogdetik.com

Jangan salah bila kini makin banyak anak bangsa bertabiat tak sabar, meledak-ledak, mudah pecah, bahkan lepas kendali. Mereka bisa melabrak aturan, ranjau-ranjau tajam, atau rambu-rambu yang terang terbaca. (Agus Wahyudi)

Hendri Mulyadi - Sang "pemain ke-12")

Kondisi tersebut sama persis gambaran jiwa manusia, yang diibarat sebuah kaca yang mudah pecah. Apabila merawat dan memberi teladan baik, maka akan dapat menumbuhkan kecintaan pada jiwa itu. Namun jika sebaliknya, tentu akan menyebabkan kehancurannya dan mengekalkan kedengkian di dalamnya.

Insiden menggelikan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Rabu (6/1/2009) malam, menjadi bukti sekaligus bisa menjadi cerminan, betapa penat dan memilukan bangsa ini. Hendri Mulyadi (21), nekat masuk ke lapangan. Dia ingin bertempur timnas Indonesia dalam pertandingan laga kelima Grup B Pra Piala Asia melawan Oman. Untuk apa lagi kalau bukan mencetak gol.

Hendri tidak gila atau mengalami gangguan jiwa. Dia melakukan itu semua dengan kesadaran penuh sebagai manusia. Karena ia memang fans berat tim nasional. Kesadaran itu juga ditunjukkannya saat sebelum ‘beraksi’. Hendri ia menitipkan sandal dan ponsel kepada rekannya yang sama-sama duduk di tribun barat (sector 23).

Kekesalan Hendri memang tak terperikan. Sudah diubun-ubun. Hampir 90 menit duduk di tribun, Hendri kepalang kecewa berat. Tontotan yang sepatutnya menyenangkan hati berubah menjadi kedongkolan. Geram dan

Penampilan tim kesayangannya nyatanya jauh dari harapan. Makanya dia putuskan, harus ia sendiri yang terjun ke lapangan. Mengocek bola, men-dribble, sampai menendang ke gawang. Kendati akhirnya Hendri harus berurusan dengan aparat keamanan.

Sebelum datang ke Senayan, Hendry tentu ‘terprovokasi’ komentar Benny Dollo, pelatih timnas Indonesia. Benny sesumbar kalau Indonesia akan bermain menyerang dan mencetak banyak gol. Benny Dollo juga optimistis lolos ke Piala Asia.

Baca Juga :  Rocky Gerung: Dana Rp 15 M/Dapil Taktik DPR untuk Sogok Rakyat

Tapi yang Hendri saksikan justru sebaliknya. Aksi pemain-pemain timnas Indonesia yang ceroboh. Menyia-nyiakan peluang. Bermain tanpa pola dan skema yang jelas. Tidak ada visi. Tidak bertenaga, tanpa daya. Teknik-teknik elementer bermain bola pun nyaris tak bisa tersuguhkan. Kentara sekali kalau pemain-pemain timnas seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan di lapangan. Dan hasilnya, sepanjang pertandingan pun cuma jadi bulan-bulanan para pemain Oman.

Celakanya lagi, Benny Dollo, sang pelatih, hanya bisa tertegun. Kerap dalam bidikan kamera teve, Benny hanya melongo. Sesekali ia terlihat garuk-garuk kepala. Banyak pihak memertanyakan strategi yang dianut Benny. Apabila tim sedang tertinggal, kalah selesih gol, pastilah meningkatkan serangan. Meningkatkan tempo permainan. Namun yang dilakukan Benny Dollo sebaliknya. Ketinggalan gol bukan malah mendorong dia mengubah pola bertahan menjadi menyerang, Benny justru memasukkan pemain-pemain bertahan yang tak membuat barisan pertahanan kokoh. pecinta bola disuguhi tontonan menjemukan dan memuakkan.

***
Terang saja Hendri Mulyadi beraksi nekat. Cowok yang kemudian mendapat julukan dari media sebagai “Pemain ke-12”, itu tegas menyatakan kecewa dengan penampilan Bambang Pamungkas dkk yang selalu kalah dalam setiap pertandingan. “Bagaimana ini, Pak Nurdin Halid (Ketua Umum PSSI) kebijakannya dalam menyeleksi pemain untuk tim nasional,” cetus dia sesaat setelah dibekuk petugas keamanan.

Ketidaksabaran Hendri ini boleh jadi dirasakan ratusan jutaan warga di Tanah Air, yang sempat menyaksikan pertandingan menentukan tersebut. Bagaimana mungkin, Indonesia bisa melewatkan sejarah tampil di Piala Asia. Di mana Indonesia selalu tampil pada empat Piala Asia sebelumnya, di Uni Emirat Arab (1996), Lebanon (2000), China (2004), dan saat Indonesia menjadi tuan rumah bersama tiga negara ASEAN (2007). Bukan cuma itu, di SEA Games 2009, Timnas Indonesia kalah dari Laos 0-2.

Baca Juga :  Bupati Padang Lawas Gagal Berantas Kemiskinan

Sepakbola adalah olahraga terpopuler di Indonesia. Tak terhitung berapa banyak pendukung sepak bola yang terkenal fanatik dan terkadang rada beringas ketika mendukung tim kesayangannnya ini. Jika berbagai even dan kompetisi yang dihelat PSSI tak memberikan tontotan positif, tentu output-nya juga buruk. Kita tentu khawatir, jangan-jangan tengara buruknya perilaku para pengelola bola di negeri ini, justru menjadi pemicu lahirnya radikalisme dan vandalisme suporter sepakbola.

Saya yakin seribu persen, suporter bola di Indonesia memimpikan punya timnas yang kuat dan disegani. Timnas yang bermain dengan perhitungan dan keputusan cermat. Timnas yang berani bertarung tak kenal lelah dengan siapa pun. Bukan timnas yang lembek dan loyo. Yang hanya menjadi bebek yang bau, bukan burung elang yang lagaknya cepat dan perkasa.

Makanya, betapa tidak bertanggungjawabnya para pengurus bola di negeri ini kalau tidak memetik hikmah dan pelajaran dari ‘Insiden’ Senayan’ ini. Atau, bangsa ini sudah terinjeksi virus bebal yang tak pernah sadar akan kesalahan? (*)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*