Intelijen Minta Cagub-Cawagub Sumut Tahan Diri

Cagub dan Cawagub Sumut beserta tim suksesnya diimbau untuk menahan diri dan tidak saling mengklaim kemenangan pada Pilgub yang sudah digelar 7 Maret lalu. Imbauan ini merupakan salah satu hasil rapat Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) Sumut.

“Kami meminta tim sukses calon, jangan mengklaim kemenangan, semisal dengan memasang iklan, spanduk, selebaran, kemenangan, karena kemenangan resmi belum diputuskan,” kata Sekretaris Kominda Sumut Eddy Syofian seusai rapat Kominda Sumut yang digelar di Hotel Grand Elite, Jalan Gatot Subroto, Medan, Senin (11/3.

Eddy berharap, tim pemenangan maupun konsultan politik kandidat Pilgub Sumut dapat bersabar meskipun sudah mendapat hasil real count dari internal.

“Kami berharap dapat menahan diri, untuk memercayakan sepenuhnya kepada rekapitulasi suara KPU Sumut yang berlangsung 15 Maret di Hotel Grand Angkasa,” imbau Eddy yang juga menjabat Kepala Kantor Kesbangpolinmas Pemprov Sumut.

Sebelumnya, tim pemenangan pasangan Cagub Sumut nomor urut 2, Effendi Simbolon – Jumiran Abdi mengklaim menang Pilgub Sumut dengan perolehan 32% suara. Klaim itu kemudian dijawab tim pemenangan nomor urut 5, Gatot Pujo Nugroho-T Erry Nuradi, yang menyatakan mereka menang 33%, tak jauh berbeda dengan hasil quick count sejumlah lembaga survei.

Kata Eddy, saling klaim yang terjadi saat ini dapat memengaruhi opini masyarakat dan mengancam suasana kondusif di Sumut.

Dia memaparkan, Kominda pun membahas quick count Pilgub Sumut dan prokontra menyikapinya. Mereka mengingatkan masyarakat bahwa quick count itu bukan keputusan final KPU. Meski tidak dilarang, namun hasil hitung cepat itu harus dikelola dengan baik agar tidak terjadi disharmoni masyarakat.

Baca Juga :  Gunung Sinabung Berasap Lagi, Warga Desa Sukanalu Mengungsi

Rapat Kominda memang mengagendakan evaluasi pemilukada 7 Maret 2013. Mereka juga membahas perkembangan yang sedang berlangsung.

Rapat dipimpin langsung Kepala BIN Daerah Sumut Laksamana Pertama TNI Djayeng Tirto Samudro. Pertemuan ini juga dihadiri perwakilan Polda Sumut, TNI, Pemprov Sumut, KPU Sumut, Panwaslu Sumut, ulama dan tokoh masyarakat.

Pertemuan ini juga membahas tingkat golput yang tinggi. Meskipun jumlah pastinya baru diketahui pada 15 Maret 2013, namun angka masyarakat yang tidak memilih jumlahnya di atas 50%.

“Ada mobilisasi golput pada minggu tenang melalui SMS dan selebaran. Selain itu juga ada black campaign pada masa tenang. Terjadi distribusi kupon sembako seolah-olah dari salah satu pasangan calon. Juga ada selebaran yang dibagikan di rumah warga dan rumah ibadah,” sebut Eddy.

Eddy Syofian menambahkan, hasil pertemuan sengaja dirilis bukan karena perkiraan adanya ancaman terhadap situasi kondusif Sumut. “Kerja intelijen itu juga mengantisipasi dan menjaga kondusivitas,” sebutnya. (merdeka.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*