Intensitas gempa Gunung Merapi melonjak

Peningkatan status Gunung Merapi menjadi awas mengacu peningkatan jumlah gempa hingga guguran kubah lava Gunung Merapi sepanjang hari ini.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Energi Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengatakan peningkatan status awas mengacu peningkatan yang singnifikan baik dalam jumlah gempa, deformasi, dan visual (guguran kubah lava).

“Sejak 25 Oktober pukul 06.00 WIB, status Gunung Merapi naik dari siaga menjadi awas, penduduk di beberapa desa di sekitar lereng Gunung Merapi dihimbau segera mengungsi,” katanya, hari ini.

Dia menjelaskan peningkatan status berjalan cepat yaitu dari normal ke waspada pada 20 September, meningkat lagi menjadi siaga pada 21 Oktober, dan hari ini telah naik ke level IV (awas).

Surono menambahkan guguran kubah lava dominan mengarah ke Selatan (Kali Gendol) dan ke Barat Daya (Kali Krasak).

Selain itu, beberapa kejadian guguran dapat terdengar di Pos Pengamatan Kaliurang dan di Pos Pengamatan Babadan.

“Hal itu bisa terlihat dari deformasi di lapisan batuan Merapi hasil erupsi 1911, itu batuan yang paling tua dan kita perkirakan rentan menahan energi Merapi,” ujar Surono.

Berdasarkan hasil pantauan pada 24 Oktober, tegas dia, gempa bumi vulkanik mencapai 80 kali dan gempa fase banyak mencapai 588 kali.

Pengukuran deformasi yang dilakukan menggunakan Electric Distance Measurement (EDM) menemukan laju inflasi bagian puncak yang tajam mencapai empat kali lipat.

Baca Juga :  Buruh Se-Indonesia Ancam Mogok Nasional Tolak ""Outsourcing""

Bila pada 21 Oktober lalu, ungkap dia, laju inflasi bagian puncak mencapai 10,5 cm per hari, saat ini hingga 24 Oktober mencapai 42 cm per hari.

Berdasarkan data itu, warga di sekitar lereng Merapi dihimbau untuk mengungsi terutama yang bermukim disekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi meliputi Kali Boyong, Kali Kuning, Kali Gendol, Kali Woro, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Bedog.

Selain itu, penduduk di wilayah Sleman di Desa Purwobinangun (Dusun Turgo, Kemiri, Ngepring), Girikerto (Dusun Ngandong, Tritis, Nganggring) dan Hargobinangun (Dusun Kaliurang Barat, Boyong, Kaliurang Timur, Ngipiksari) dan Umbulharjo (Kinahrejo, Pangukrejo, dan Gondang).

Keputusan mengungsi juga disarankan bagi penduduk Kepuharjo (Dusun Kaliadem, Petung, Jambu, dan Kopeng), Glagaharjo (Dusun Kali Tengah Lor, Kali Tengah Kidul, Srunen, dan Singlar)

Penduduk di wilayah Klaten meliputi Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegal Mulyo.

Di wilayah Magelang meliputi Desa Kemiren (Dusun Jamburejo dan Kemiren), Kaliurang (Dusun Sumborejo, Kaliurang Utara, Kaliurang Selatan, dan Cepagan).

Sementara itu,  Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata DIY Budi Haryoto menanggapi aktivitas pariwisata di lereng merapi menghimbau agar aktivitas wisata di lereng merapi dikurangi dahulu.

“Himbauan ini Ini sifatnya kewaspadaan saja karena situasi alam sulit ditebak dan bisa saja terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan,” jelas Budi di sela-sela acara diskusi pariwisata di Hotel Edotel Yogyakarta.

Baca Juga :  Dipertanyakan, Apakah Pelantikan Budi Gunawan Sebagai Wakapolri Atas Persetujuan Presiden?

Meski status Gunung Merapi terus meningkat, Budi meyakini tidak akan mengurangi kunjungan wisatawan ke Yogyakarta.

“Bagi yang ingin ke lereng merapi, bisa beralih keobyek wisata lain di Yogyakarta yang tidak kalah menariknya sehingga agenda wisatanya tidak terganggu dengan kondisi merapi,” jelas Budi. (hwi)

Sumber: http://web.bisnis.com/umum/1id216710.html

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*