Interstellar: Kisah Perjalanan Antar Galaksi

Jakarta -“Manusia lahir di bumi. Tetapi, manusia tidak ditakdirkan untuk mati di sana,”ucap Cooper (Matthew McConaughey), seorang petani, insinyur, sekaligus pilot yang mengemban tugas berat untuk menyelamatkan umat manusia dari kiamat.

Kiamat yang dimaksud adalah wabah hama yang menyerang sumber daya alam manusia. Akibat wabah itu, gagal panen terjadi di mana-mana, memaksa manusia bertahan dengan makanan pokok seadanya. Skenario terburuk, dalam beberapa dekade mungkin tak ada lagi sumber daya alam yang bisa dikonsumsi manusia.

Melihat kecil kemungkinan menyelamatkan bumi, NASA menyusun misi penjelajahan antar galaksi (interstellar) untuk mencari bumi baru. Caranya, dengan mengirim pesawat ulang alik ke dalam worm hole, lubang yang memampatkan jarak antar galaksi, yang tiba-tiba muncul di dekat Saturnus. Cooper didapuk sebagai pilot, menemani sejumlah ilmuwan yang dipimpin Brand (Anne Hathaway).

Cooper awalnya menolak misi tersebut. Ia takut gagal kembali ke bumi karena NASA belum memahami betul situasi dan kondisi pada galaksi di balik worm hole Saturnus. Apalagi, NASA menyiapkan dua rencana baginya yang harus dipilih berdasarkan situasi di galaksi baru, temukan planet dan kembali ke bumi atau tinggalkan bumi dan bentuk koloni baru. Namun, karena kala itu tak ada cara lain untuk menyelamatkan umat manusia, Cooper akhirnya meninggalkan keluarganya untuk melakukan interstellar.

Interstellar adalah proyek terbaru sutradara Christopher Nolan yang terkenal lewat karya-karyanya, seperti Inception, Memento, dan The Dark Knight Trilogy. Bersama adiknya, Jonathan Nolan, Chris mengajak penonton mencicipi seperti apa rasanya menjelajahi luar angkasa via fenomena bernama worm hole dan black hole.

Chris tidak main-main dalam memproduksi film yang sesungguhnya dipersiapkan untuk Steven Spielberg ini. Demi mendapatkan gambar yang akurat tentang interstellar dan worm hole, ia dan tim visualnya kuliah khusus dengan pakar astrofisika, Kip Thorne. Kip terkenal akan teori-teori gravitasi dan worm hole-nya yang mengacu pada teori-teori Albert Einstein dan Isaac Newton.

Baca Juga :  Kronologi Insiden Salah Sebut Film Terbaik Oscar 2017

Upaya Chris berbuah hasil, Interstellar menjadi salah satu film sains fiksi yang mengagumkan meski tak menjadi salah satu karya terbaiknya. Faktor cerita menjadi hal yang menyebabkan Interstellar gagal menjadi karya terbaik Chris.

Dari segi cerita, tak ada unsur surprise, twist yang biasa tampil di film-film Chris. Interstellar lebih sederhana, linear, dan sedikit mudah ditebak. Teori-teori astrofisika mengenai worm hole, gravitasi, perjalanan waktu, dan relativitas yang bertaburan sepanjang film tak lebih dari sekedar medium cerita yang tak perlu betul-betul dipahami untuk bisa mengerti kisah Interstellar. Meski begitu, perlu diakui ada keasyikan tersendiri ketika mencoba memahami teori-teori yang Chris coba visualisasikan

Kekurangan lainnya, Chris memaksakan begitu banyak plot dalam film yang berdurasi 169 menit ini. Saking banyaknya, tak semua plot di dalami atau di akhiri dengan baik. Hal ini adalah kelemahan Chris yang paling kerap muncul di karya-karyanya.

Akhir Interstellar juga kurang memuaskan. Chris mengambil langkah Deus Ex Machina di mana akhir film ditentukan oleh sebuah hal yang sifatnya dipaksakan dan mengada-ada. Sepertinya, ia kebingungan bagaimana mengakhiri film yang sejak awal berupaya tampil seakurat mungkin dengan ilmu sains. Hal ini membuat akhir Interstellar tidak seistimewa karya-karya Chris sebelumnya yang memberikan rasa puas tersendiri.

Meski gagal mengahdirkan kisah yang sepenuhnya memuaskan, Chris berhasil menutupinya dengan visualisasi yang menakjubkan. Luar angkasa dalam visi ciptaan Chris tampil indah sekaligus mencekam. Tak ada visualisasi yang menusuk mata, hanya visual yang memanjakan mata. Penonton akan dibuat terpukau dengan visualisasi yang dihadirkan Chris ketika Cooper menjelajahi luar angkasa, terlebih dibantu dengan musik dari Hans Zimmer yang ikut membetot emosi.

Baca Juga :  5 Cm Sudah Ditonton Lebih dari 1 Juta

Visualisasi yang dihadrikan Chris diakui Kip Thorne sebagai yang terakurat. Tak mengherankan, demi bisa mendapatkan visualisasi yang diakui Kip, Chris dan tim visualnya membuat software animasi khusus yang mengacu pada perhitungan Kip tentang fenomena-fenomena luar angkasa. Kabarnya, untuk bisa memvisualisasikan hitungan Kip itu, dibutuhkan proses render 100 jam dan 800 terabita data.

Sebagai tambahan, ada banyak penghormatan terhadap film 2001 Space Odyssey karya Stanley Kubrick yang bisa ditemukan di film ini. Ada yang berupa properti maupun visualisasi. Patut dimaklumi, salah satu inspirasi utama Chris ketika membuat Interstellar adalah film yang mengisahkan evolusi manusia di luar angkasa itu.

Interstellar

Studio: Syncopy
Distributor: Warner Bros
Sutradara: Christopher Nolan
Produser: Christopher Nolan, Emma Thomas
Penulis: Jonathan Nolan
Pemeran: Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Michael Caine.
Music: Hans Zimmer
Durasi: 169 menit.

/TEMPO.CO,

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*