iPad Disita Ayah, Remaja Ini Bunuh Kedua Orangtuanya

Facebook/news.com.au Vincent Parker (16) membunuh kedua orangtuanya hanya karena masalah yang sangat sepele.

WASHINGTON DC,  Seorang remaja berusia 16 tahun yang digambarkan “cerdas” dan “sehat”, memukuli kedua orangtuanya hingga tewas setelah iPad milik remaja itu disita sang ayah sebagai bentuk hukuman.

Vincent Parker (16) adalah anak tunggal pasangan Wayne dan Carol asal Norfolk, Virginia, AS. Pada 19 Desember 2013, Vincent menyelinap pulang dari sekolahnya hanya untuk membunuh kedua orangtuanya.

Kepada polisi, siswa yang di sekolahnya, Norview High School, merupakan salah satu siswa terbaik, mengaku pembunuhan itu terjadi tidak dipicu pertengkaran apapun.

“Saya ingat menjadi sangat marah. Semua berawal ketika ayah saya menyita iPad dan beberapa barang milik saya,” kata Vincent dalam sidang yang digelar di Pengadilan Norfolk, seperti dilaporkan stasiun televisi WKTR.

Vincent menyerang ibunya, Carol, saat keluar dari kamar mandi di lantai atas kediaman mereka.
Dalam pemeriksaan di kantor polisi, Vincent mengatakan dia menyemprotkan cairan merica ke wajah ibunya, menusuk matanya, lalu memukulinya dengan pemukul kasti hingga “berhenti bernafas”.

Ketika Wayne, ayah Vincent, pulang, tanpa banyak bicara remaja itu menyerang menggunakan batangan besi dan menusuk sang ayah beberapa kali. Dalam kondisi luka parah, Wayne masih sempat menelepon polisi dan melaporkan sosok penyerangnya. Wayne kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Baca Juga :  Komodo Naik Peringkat Lima New7Wonders

Hasil pemeriksaan forensik yang dibacakan di pengadilan menunjukkan terdapat 25 bekas pukulan dan tusukan di leher, wajah dan kepala Carol Parker. Pengadilan menyatakan Vincent Parker bersalah untuk dua dakwaan pembunuhan tingkat kedua, setelah pemeriksaan psikologi menyimpulkan remaja ini waras dan cerdas.

Dia akan didakwa sebagai seorang dewasa dan vonis akan dijatuhkan pada September mendatang. Vincent kemungkinan besar akan menghabiskan puluhan tahun di penjara jika hakim menjatuhkan vonis maksimum untuk dua dakwaannya.

Namun, kakek Vincent berharap pengadilan menjatuhkan hukuman yang tak terlalu lama untuk cucunya itu. “Dia anak muda yang cerdas. Dia sangat pintar di sekolah. Saya tak tahu apa yang terjadi,” kata Allen Taylor, kakek Vincent.

“Saya ingin membantunya tumbuh dan menjadi pria yang baik. Saya menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Saya katakan agar dia meminta maaf kepada Tuhan,” ujar Allen.

Allen menambahkan, meski cucunya sudah melakukan kejahatan yang sedemikian hebat, dia tetap akan memaafkannya. “Saya akan memaafkan dia. Sebab, jika saya tidak memaafkannya, siapa lagi?” ujr Allen.


Editor: Ervan Hardoko / KOMPAS.com
Sumber: news.com.au
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*