Ironis, Guru Honorer Cuma Digaji Rp50 Ribu per BulanItu menjadi salah satu isu yang akan dibenahi Prabowo-Hatta.

Indonesia masih penuh ironi, salah satunya soal pendidikan. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hasyim Djojokusumo, menceritakan pengalamannya bertemu guru honorer saat mengunjungi Wonogiri, Sragen, dan Karanganyar baru-baru ini.

Menurut dia, gaji yang diterima guru honorer di daerah masih belum layak. Tiap bulan, mereka hanya menerima uang Rp50 ribu. Yang lainnya, rata-rata Rp150 ribu per bulan. Bagi Hasyim, itu sangat tidak manusiawi. “Bagaimana bisa mendidik kalau guru tidak dapat upah layak?” katanya.

Hasyim menjanjikan, itu akan menjadi salah satu prioritas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa jika terpilih nanti. “Prabowo-Hatta berkomitmen memberikan tambahan Rp1 juta bagi guru honorer tiap bulan,” tegasnya.

Kesejahteraan guru, bagi Hasyim adalah pondasi menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik. Sebab menurut data, pendidikan nasional negeri ini termasuk salah satu yang terjelek di dunia.

“Tahun lalu ada studi di Inggris, dari 40 negara terpenting dalam hal pendidikan. Pendidikan terbaik nomor pertama ditempati Finlandia, diikuti Korea Selatan, Hong Kong, Jepang, Singapura,” papar dia.

Dan Indonesia, lanjutnya, menempati nomor 40. “Dianggap paling jelek. Ini tantangan luar biasa agar anak dan cucu kita bisa hidup dengan baik,” ia melanjutkan. Dengan memberi guru honorer gaji layak, diharapkan pendidikan pendidikan Indonesia terangkat.

“Tidak boleh lagi terjelek. Ini haram untuk kita,” tambahnya.

Baca Juga :  Sutradara Sengaja Pilih Pemain Asing Untuk Film 'Obama Anak Menteng'

Tiga poin lain

Selain soal pendidikan, Hasyim juga menjelaskan tiga poin lain yang akan dibenahi Prabowo-Hatta. Soal kemiskinan dan gizi buruk, juga diperhatikan. Sebab menurut data statistic Bank Dunia, sekitar 100 juta rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan.

“34 persen di bawah usia 5 tahun kekurangan gizi. 56 persen di NTT kurang gizi dan kelaparan. Yang mengherankan di Ibukota 28 persen anak-anak hidup kurang gizi. Padahal provinsi paling kaya,” bebernya di sela pengukuhan Relawan Darma Putra di Denpasar, Sabtu, 14 Juni 2014.

Jika sejak anak-anak sudah kekurangan gizi, Hasyim yakin kelak mereka tumbuh dewasa dengan ketertinggalan jauh di segala aspek. “10 atau 15 tahun lagi kalau mau melamar kerja, mereka sudah divonis tidak bisa lolos, karena otak mereka terganggu karena kelaparan,” imbuhnya.

Soal lapangan pekerjaan pun menjadi bahasan selanjutnya. Dari data yang dimilikinya, 3 juta orang Indonesia bekerja di Malaysia, Singapura, dan negara tetangga lainnya. Dan 1 sampai 2 juta bekerja di Timur Tengah.

“Prabowo berkomitmen agar mereka tak perlu ke luar negeri lagi untuk mencari pekerjaan. Percuma punya pendapatan besar tapi miskin,” tuturnya.

Yang tak terlupa, adalah aspek lingkungan hidup. Hasyim memaparkan, 58 juta hektar Indonesia sudah dalam kondisi hancur. Tiap tahunnya kehancuran itu bertambah 1,3 hektar.

“Kita susah air bersih. Di Bandung, Jawa Tengah susah air. 58 juta hektar akan kita hijaukan kembali. Dan, kita akan pulihkan lagi sumber air bersih kita,” Hasyim bertekat./VIVAnews –

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Inilah Alasan Warga Blokade Tol Jatibening

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*