Isu Begu Ganjang Melanda Ajibata

AJIBATA-METRO; Setelah Kecamatan Muara dan Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), isu begu ganjang (sigumoang) meluas ke Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), tepatnya di Desa Sirungkungon. Beberapa warga di sana mengeluh dan merasakan kejanggalan. Misalnya yang terjadi pada dua ibu hamil. Mereka mencekik lehernya sendiri. Lalu, ada warga yang kejang-kejang dan merasa dicekik.

Desa Sirungkungon sudah sebulan dilanda isu begu ganjang, Pastor Donatus Marbun saat mendoakan umatnya agar tidak terprovokasi isu begu ganjang, sekaligus memberkati kalung Rosario kepada para umat di Desa Sirungkungon, Kamis (20/5).

Atas dasar itu, warga setempat berinisiatif memanggil paranormal dari Kabupaten Simalungun. Mereka curiga begu ganjang sedang beraksi di desa tersebut. Dengan bantuan paranormal, mereka berharap ada kepastian soal keberadaan begu ganjang di desa mereka, termasuk siapa yang memeliharanya.

Namun rencana warga memanggil paranormal didengar Uspika Ajibata dan tokoh agama. Untuk mencegahnya, Uspika Ajibata dan Pastor Paroki St Fidelis Sigmaringen Parapat, Donatus Marbun OFM Cap, turun langsung ke desa tersebut, Kamis (20/5), sekira 25 kilometer dari ibukota Kecamatan Ajibata. Mereka tak ingin peristiwa yang terjadi di Muara, Taput, terulang di Ajibata. Di mana, karena percaya kepada paranormal yang menyatakan ada warga memelihara begu ganjang, tertuduh dan keluarganya tewas dibakar hidup-hidup.

“Uspika Plus dan pastor menolak cara-cara seperti itu (memanggil paranormal, red). Sebab lebih banyak provokasinya daripada kebenaran, karena jarang sekali berlandaskan bukti dan fakta yang akurat. Jadi itu semua tidak diperbolehkan,” kata Kapolsek Lumbanjulu, AKP GR Purba, di atas speedboad saat menuju Desa Sirungkungon.

Atas dasar itu, sambungnya, Uspika Ajibata, yakni Camat Labinsar Sirait SSos MSi, Kapolsek Lumbanjulu AKP GR Purba, Dan Ramil SY Purba, dan Kepala Puskesmas Ajibata dr Palmina Palmarum MSi, Psikiater Puskesmas Ajibata Asima PSi, dan Pastor Donatus Marbun, langsung menemui warga Desa Sirungkungon dan sekitarnya.

Sekadar informasi, Desa Sirungkungon yang berpenduduk 104 kepala keluarga (KK), lebih cepat dikunjungi melalui jalur lintas Danau Toba, yakni sekitar 30 menit menggunakan speedboad. Dari 104 KK itu, sebagain warga lainnya menganut paham parmalim/parbaringin. Mereka menghuni Dusun Silosung atau sekitar 500 meter dari Sirungkungon, dan sebagian lagi berbaur di Sirungkungon. Namun warga yang dicurigai dan diduga memelihara begu ganjang berada di Desa Sirungkungon.

Warga Mengungsi

Informasi dari sejumlah warga, di antaranya bermarga Sialagan, Manurung, dan Sinaga, isu begu ganjang mulai marak sejak sebulan lalu, yakni setelah dua ibu hamil mencekik lehernya sendiri.

“Masa leher sendiri kita cekik, dan itu berlangsung tiba-tiba. Tangan kita seperti dipegang makhluk halus, lalu mengarah ke leher. Saat itu pula kita seolah-olah dipaksa mencekik leher sendiri, hingga lidah menjulur keluar,” ujar Manurung.

Warga lainnya, R Sialagan (30) yang kebetulan istrinya sedang hamil merasa khawatir.

“Kami langsung mengungsi ke Ajibata. Saya takut karena istriku sedang hamil. Jadi dia terpaksa kubawa mengungsi ke Ajibata hingga melahirkan di sana. Namun di pintu rumahku kutuliskan ‘Awas Sigumoang’. Kata orang tua, itu sebagai penangkal,” terangnya.

Kemudian Sabam Gultom (27), mengaku sempat kejang-kejang selama 2 jam lebih. Katanya, awalnya ia dan beberapa rekan sedesanya bermain bola voli. Sebelumnya, ia sempat menenggak segelas tuak.

Baca Juga :  Korban Kekerasan di HKBP - Dihajar Tongkat, Pdt Luspida Terkapar

“Saat main voli, saya tidak merasakan apa-apa. Namun setelah kami beristirahat dan masing-masing pulang, sore itu juga sekujur tubuh saya memerah. Begitu istriku tahu, dia langsung melapor ke mertuaku. Kata mereka, tak lama saya pun kejang-kejang dan lidah menjulur keluar,” bebernya.

Lebih lanjut Sabam mengatakan, keluarganya memanggil bidan. Hanya saja, si bidan tidak berdaya. Akhirnya diputuskan mencarter kapal menuju RSU Ajibata.

“Tapi di tengah jalan di Danau Toba, kata keluarga saya, kapal kami mati mesin hingga dua kali. Keluarga saya semakin panik. Apalagi di dalam kapal, katanya saya berteriak-teriak dan kejang-kejang hingga lemas. Beruntung nyawa saya masih dapat diselamatkan,” sebutnya.

Sedangkan seorang warga sebagai pendatang dan bekerja di PT AquaFarm Sirungkungon, memilih mengenakan kalung yang terbuat dari potongan-potongan bambu kuning. Ia mengatakan, isu begu ganjang sudah sangat meresahkan. “Tolong ditanggapi serius, Pak dan dibuat penangkalnya,” pintanya.

Seorang ibu rumah tangga, LM menceritakan, ia mendengar cerita ada seorang warga yang sedang hamil, boru S, mencekik lehernya sendiri. Lalu, katanya, wanita yang hamil itu merasa tubuhnya terangkat hingga melayang sampai ketinggian 30 centimeter.

Kejadian lain, saat pulang rapat desa di salah satu dusun, sekira 250 meter dari Sirungkungon ke arah dolok (atas bukit), seorang warga KM mengatakan, sebenarnya malam itu dan beberapa rekannya merasa takut karena isu begu ganjang mulai merebak.

Saat melintasi jembatan kecil, ia merasa dicekik hingga lidahnya menjulur. Untungnya teman-temannya dapat menyelamatkannya dengan mengambil air suci yang diminta dari pastor di gereja, ditambah ramuan kampung lainnya. “Saya pun selamat,” tukasnya.

Yang paling mengejutkan, sambungnya, ketika ada acara di gereja, seorang balita tiba-tiba terjatuh dan pingsan. “Kami semua sudah panik dan ingin menolongnya. Namun tiba-tiba seorang warga dapat menolongnya dengan hanya mengusapkan telapak tangannya ke wajah si anak tadi. Seketika anak itu sadar, dan bisa langsung bermain-main lagi,” jelasnya.

Mendengar pengakuan warga, Kepala Puskesmas (Rumah Sakit Mini) Ajibata, dr Palmina Palmarum MSi mengatakan, baru kali ini ia mendengar orang hamil mencekik leher sendiri. Menurutnya, kemungkinan besar hal itu terjadi akibat kurangnya pemeriksaan kesehatan dini si ibu hamil. “Mungkin juga tensi (tekanan darah, red) di ibu sedang drop,” katanya.

Sedangkan mengenai warga yang kejang-kejang usai bermain bola voli, katanya, mungkin karena sebelumnya telah menenggak tuak, sehingga terkontaminasi alkohol dan menimbulkan metaldosis yang mengakibatkan korban histeris. “Jadi bukan karena begu ganjang,” ujarnya.

Sementara Asima dari bagian psikologi RS Mini Ajibata, menambahkan, isu begu ganjang menyeruak saat kita menghayalkan begu ganjang. “Memang saya tidak boleh mengatakan begu ganjang ada atau tidak. Namun karena kewaspadaan dan berbagai kejadian selalu dikaitkan dengan orang pintar, serta yang sakit dibawa ke datu (orang pintar, red) atau sejenisnya. Jadi jangan percaya semua itu perbuatan begu ganjang. Itu hanya isu yang dapat merusak tatanan hidup bermasyarakat. Tingkatkanlah iman dan selalu jaga kesehatan. Berdoalah, pasti Tuhan melindungi kita,” imbaunya. (jest)Dilarang Panggil Paranormal!

Baca Juga :  Terkait Penembakan Warga di PT SM Madina - Kapolda Siap Dicopot

Kemarin, pertemuan Uspika dan pastor dengan warga diadakan di Gereja Katolik. Pada pertemuan itu, Kapolsek Lumbanjulu AKP GR Purba dengan tegas mengatakan, warga tidak boleh mendatangkan paranormal ke Sirungkungon. Ia pun mengaku tidak akan memberikan izin kedatangan paranormal sekaitan isu begu ganjang.

“Bila dilakukan tanpa izin dan sepengetahuan kami, maka kami akan bertindak tegas dan menangkap paranormalnya!” tegasnya.

Menurut Kapolsek, tidak satu pun kasus yang ditimbulkan isi begu ganjang dapat diselesaikan secara tuntas.

“Warga yang ditangkap akibat tindakan anarkis sekaitan isu begu ganjang, semuanya mengaku ikut-ikutan dan tidak tahu kenapa melakukan tindakan anarkis. Setelah diperiksa atas kasus perusakan, apalagi sampai mengilangkan nyawa orang, diketahui semuanya lebih mengarah kepada tindakan perencanaan dan kriminal. Jadi Anda sendiri nantinya yang menanggung segala resiko akibat perbuatan kalian!” tukasnya.

Camat Ajibata Labinsar Sirait serta Dan Ramil Kapten SY Purba, sepakat agar warga tidak termakan isu, dan mendukung apa yang disampaikan Kapolsek.

“Desa yang beradat dan taat agama, kok mau terhasut isu-isu yang menyesatkan. Kami harap bapak dan ibu lebih baik mengarahkan hati dan mata terhadap iman kita masing-masing,” ujar mereka.

Air Suci dan Tanda Salib

Sedangkan Pastor Paroki Parapat, Donatus Marbun OFM Cap yang sempat bertugas di Madagaskar, Afrika dan 16 negara lainnya di Eropa, memberikan pencerahan lewat ibadat singkat. Pastor Donatus mengatakan, “Betapa sedihnya perasaan kita sebagai gembala Tuhan melihat umat-Nya mulai merencanakan sesuatu di luar kasih dan sayang dan saling mengasihi. Saling tuduh-menuduh dengan isu yang menyesatkan membuat kita kalut dan lupa akan kejaiban serta kekuatan iman terhadap Tuhan kita, Yesus Kristus. Kenapa kita tidak berdoa saja? Jadi manang ise namandok donganna parbegu ganjang dohot alasan naso bertanggung jawab, maka dialah parbegu ganjang (barang siapa yang menuduh temannya memelihara begu ganjang, maka dialah parbegu ganjang). Jadi jangan mau terprovokasi apalagi sebagai provokator!”

Selanjutnya Pastor Donatus memerciki air suci dan kapur sirih ke arah umat dan rumah-rumah warga. Kapur sirih, katanya, tanda menggambarkan tanda salib di pintu depan 104 rumah. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga jam lebih, termasuk ke rumah para penganut parmalim. (jest)

Sumber: http://metrosiantar.com/Berita_Foto/Isu_Begu_Ganjang_Melanda_Ajibata

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*