Isu Begu Ganjang Taput – Polisi Tetapkan 42 Tersangka

Isu Begu Ganjang berujung tewasnya satu keluarga warga Dusun Batu Raja, Desa Sitanggor, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sabtu (15/5) malam kemarin, mendapat perhatian serius dari Kapolda Sumut, Irjen Pol Drs Oegroseno SH.

Dalam peristiwa yang menewaskan Gipson Simare-mare (60) dan istri, Riama boru Rajaguguk (59) serta anak mereka Lauren Simare-mare (30), polisi telah menetapkan 42 tersangka dari 101 warga yang diamankan. Selain itu, polisi masih memburu 13 tersangka lainnya yang berhasil kabur.

“Terlepas benar atau tidak adanya begu ganjang yang memprovokasi massa untuk bertindak anarkis, polisi tetap melakukan penindakan karena adanya unsur pidana di dalamnya. 42 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan 13 lainnya masih DPO,” ujar Oegroseno melalui Pelaksana Harian (Lakhar) Bidang Humas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Senin (17/5).
Selain tiga korban tewas, empat korban lainnya, yakni Tiorlina boru Nainggolan yang merupakan istri Lauren Simaremare bersama tiga anak mereka yang masih kecil-kecil, berhasil diselamatkan aparat Polsek Muara dari amuk massa.

“Terlepas benar atau tidak adanya begu ganjang yang memprovokasi massa untuk bertindak anarkis, polisi tetap melakukan penindakan karena adanya unsur pidana di dalamnya. 42 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan 13 lainnya masih DPO,” ujar Oegroseno melalui Pelaksana Harian (Lakhar) Bidang Humas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, Senin (17/5).

Massa berlaku anarkis dengan membakar korban dipicu oleh isu Begu Ganjang yang dinilai telah meresahkan masyarakat sekitar.
“Negara ini kan negara hukum, tidak boleh masyarakat main hakim sendiri. Atas perlakuan para tersangka, mereka dijerat pasal 170 dan 351 dengan ancaman hukuman di atas 7 tahun penjara,“ ujarnya.

Nainggolan menambahkan kondisi disekitar tempat kejadian kini berangsur stabil dan tiga jenazah sudah dikembalikan kepada pihak keluarga. Sedangkan satu korban lainnya, Tiorlina boru Nainggolan yang merupakan istri Lauren Simaremare yang mendapat luka tusukan kini dirawat di RS Cipta Inshani Siantar dalam keadaan koma.

Peristiwa mengenaskan itu terjadi, Sabtu (15/5) sekitar pukul 21.00 WIB. Ratusan massa bertindak anarkis dengan membakar rumah korban. Tindakan anarkis itu dipicu karena korban didirung memelihara begu ganjang yang membuat warga sekitar jadi resah.  Bahkan keresahan ini sudah dialami warga sejak tahun 2005 lalu namun berhasil diredam.

Baca Juga :  Jadi Pengedar Sabu - Petugas Rutan Tanjung Gusta Diciduk

Dalam menangani peristiwa pembakaran yang menewaskan tiga warga, Polres Taput terlihat kewalahan karena sebagian personilnya diperbantuan dalam kerusuhan Pilkada Sibolga.  “Sementara tidak ada penambahan pasukan,” ujar Oegroseno melalui telepon selulernya, Minggu (16/5) kemarin.

Sebelumnya Polres Taput telah menetapkan 30 tersangka dari 101 warga yang ditangkap pada peristiwa tragis tersebut. Mereka disebut-sebut sebagai aktor pembunuhan terhadap satu keluarga dan saat ini ditahan di ruang tahanan Polres Taput.
“Dari 101 warga yang berhasil tangkap, 30 diantaranya ditetapkan sebagai tersangka. Sebagian lagi kita pulangkan karena tidak cukup bukti,” kata Kasat Reskrim Polres Taput, AKP Rakhman Anthero Purba saat dihubungi, Senin (17/5).

Sumber: http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=37197:isu-begu-ganjang-taput-polisi-tetapkan-42-tersangka&catid=31:global-hot&Itemid=57


Pembakaran Sekeluarga Terjadi Akibat Krisis Iman

TARUTUNG – Tokoh masyarakat Tapanuli Utara (Taput) Asman Sihombing mengatakan, tragedi pembakaran keluarga yang dituduh mempercayai begu ganjang, menyiratkan telah terjadi krisis keimanan di tengah warga Desa Buntu Raja.

Selain itu, tragedy tersebut juga disebabkan faktor spiritual budaya dan kelemahan pemahaman akan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Pada umumnya, masyarakat Batak memahami bahwa makna dari sebuah keberadaan spiritual adalah untuk peneduhan diri. Sehingga tidak seperti yang dipahami saat ini, bahwa begu ganjang ada untuk membunuh manusia dengan berbagai ilustrasi yang digambarkan para dukun.

“Kami berharap para dukunnya juga harus dipidanakan karena sudah masuk pada kategori menghasut warga. Harus dipahami pula, dalam spiritual Batak tidak pernah menuduh seseorang memiliki begu ganjang,” tegasnya.

Dari sisi keimanan, lanjut dia, saat ini di Tanah Batak telah terjadi penurunan sangat drastis tentang kenyakinan akan keberadaan Tuhan.

Ini lahir dari lemahnya lembaga-lembaga agama yang dianut oleh warga untuk membentuk sebuah paradigma baru tentang kehidupan yang lebih baik.

“Kita bisa melihat kasus seperti ini terjadi di daerah Batak yang umumnya masih sulit dijangkau teknologi. Sehingga selain dari lembaga agama, pemerintah daerah juga harus mengambil sikap yang tegas untuk menghentikan aksi-aksi sadis yang lahir dari ketidaktahuan warga,” jelasnya.

Direktur Pusat Latihan Opera Batak (Plot) Pematangsiantar Thompson HS menambahkan, pada dasarnya begu ganjang yang akrab disebut sebagai Sigumoang tersebut tidak ada. Namun, melalui sebuah propaganda yang bersumber dari dendam pribadi, maka menjadi ada. “Lembaga-lembaga sosial, seperti lembaga agama harus dapat memfasilitasi agar persoalan ini dapat dituntaskan,” tukasnya.

Baca Juga :  Sofyan Tan dan Barack Obama

Sejauh ini dalam pandangannya, isu begu ganjang lahir dari sentimen pribadi. Dalam beberapa buku Laklak (buku tua yang menggambarkan keadaan orang Batak zaman dahulu) yang pernah dipelajarinya sangat jarang ditemukan istilah begu ganjang. “Begu ganjang itu sendiri adalah istilah baru yang dimunculkan untuk mengaplikasikan dendam sehingga masyarakat harus hati-hati dalam memaknainya,” urainya.

Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) Inspektur Jenderal (Irjen) Oegroseno mengatakan, kasus yang membuat bulu kuduk kita merinding ini ditangani sepenuhnya oleh Polres Taput. Dia pun memandang belum perlu menggeser personel ke Dusun Buntu Raja, walaupun sempat terjadi kekurangan personel lantaran sebagian besar ditugasi untuk mengamankan pelaksanaan Pilkada Sibolga dan Toba Samosir.

“Tidak ada penambahan pasukan karena masih bisa ditangani Polres Taput dan jajarannya,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon selulernya kemarin. Pelaksana Harian (Lakhar) Kepala Bidang Humas Poldasu Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) MP Nainggolan menambahkan, pemeriksaan yang dilakukan polisi terhadap ratusan warga yang diduga melakukan penyerangan berdasarkan data dan fakta yang logika.

Sedangkan, motif adanya begu ganjang yang digelontorkan warga tidak bisa diterima karena menyangkut dunia gaib. “Tentang begu ganjang itu tidak bisa diterima dalam proses penyelidikan karena tidak bisa dihadirkan secara fakta dan logika,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Gibson Simaremare (60); istrinya Riama Rajaguguk (65) dan anaknya Lauren Simaremare (35), tewas dibakar massa, setelah diseret paksa dari rumah masing-masing. Sebelum dibakar, mereka lebih dahulu dihujani bacokan dan tikaman senjata tajam.


CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Sadis, sesama halak Batak satu suku satu bangsa satu Negara hanya karena salah sangka mudah terprovokasi, nyawa saudara melayang dengan mudah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*