Jalan Aek Latong Rawan Pungli

MEDAN – Keluarga Besar Sopir dan Pemilik Kendaraan mengungkapkan jalan lintas Sumatera di Desa Aek Latong, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, selama ini rawan terjadi pungutan liar yang diduga melibatkan para oknum petugas derek.

“Para oknum petugas derek yang disiagakan instansi pemerintah terkait di sekitar jalan Desa Aek Latong disinyalir sering melakukan pungli (pungutan liar) terhadap sopir bus atau mobil pribadi,” kata Sekretaris Jenderal Keluarga Besar Sopir dan Pemilik Kendaraan (Kesper), Israel Situmeang.

Padahal, menurut dia, penempatan petugas derek di lokasi jalan yang rusak parah itu oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) bertujuan memberi kemudahan kepada setiap pengemudi kendaraan bermotor yang mengalami kendala saat melewati jalur tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya.

Para oknum petugas derek, lanjut dia, tidak jarang meminta imbalan hingga ratusan ribu rupiah setelah membantu menarik bus atau mobil yang terperosok atau mogok di jalan yang menghubungkan antara Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dengan Kabupaten Tapsel itu.

“Praktik pungli di sekitar jalan Aek Latong harus segera ditertibkan, karena tindakan itu semakin menambah beban biaya operasional bagi para sopir angkutan umum maupun pemilik kendaraan,” ucapnya.

Dia menambahkan, kerusakan jalan sepanjang dua kilo meter lebih di Desa Aek Latong selama ini cukup banyak merugikan masyarakat pengguna jalan, terutama pada saat musim hujan.

Baca Juga :  PTPN III Distrik Tapsel Terus Berbenah

Bahkan, katanya, akibat rusaknya jalan Aek Latong tersebut, hari Minggu (26/6) kembali merenggut 19 nyawa penumpang bus Antar Lintas Sumatera (ALS) trayek Medan-Bengkulu.

Mencermati tingginya tingkat kerawanan kecelakaan di ruas Aek Latong, dia minta kepada pemerintah melalui instansi terkait di tingkat pusat maupun daerah agar lebih serius menuntaskan masalah kerusakan jalan di Aek latong.

Ruas jalan Aek Latong sampai sekarang masih belum bisa diaspal dan upaya maksimal yang bisa dilakukan agar bisa dilalui kendaraan hanya mengeraskan tanah dengan kendaraan berat.

Jika musim hujan tiba, kata Israel, tidak jarang ban kendaraan bermotor yang melewati jalan tersebut bisa terperosok ke dalam lobang sehingga harus diderek.

Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Sumut, Marapinta Harahap kepada pers di Medan baru-baru ini mengungkapkan, Sumut membutuhkan dana Rp4 triliun setiap tahun untuk memperbaiki jalan yang rusak.

Dari total anggaran perbaikan jalan yang dibutuhkan tersebut, kata dia, Sumut untuk tahun 2011 baru mampu mengalokasikan anggaran sekitar Rp1 triliun sehingga program perbaikan jalan tidak dapat dilakukan secara keseluruhan.

“Anggaran untuk perbaikan jalan sangat terbatas. Dari Rp4 triliun yang dibutuhkan, hanya sekitar Rp1 triliun yang tersedia, sehingga semua jalan rusak tidak bisa sekaligus diperbaiki,” ujar Marapinta.

Sumber: waspada.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  KPU Madina Umumkan Nama-nama PPK

2 Komentar

  1. Perbaikan jln memang perlu dana besar tapi kan dlm pembangunan ada skla prioritasnya… jangan2 ini aek latong dijadikan tambang emas juga bagi orang2 tertentu,,,

  2. Satu triliun = Rp. 1.000.000.000.000,- kalau setengahnya saja beli semen kemudian ditumpahkan ke Aek Latong kemungkinan jalannya akan lebih mulus kali ya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*