Jalan buat SBY Diaspal Tengah Malam

TOLAK GELAR - Puluhan anggota Persatuan Muda Mudi Batak berunjuk rasa di depan kantor DPRD Sumut, Medan, Senin (17/1). Mereka tetap menyatakan menolak rencana pemberian gelar kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan berkunjung ke Balige, Hari ini.

BALIGE – Hingga Senin (17/1) sekitar pukul 22.00 WIB, sekitar 30-an pekerja masih melakukan pengaspalan jalan masuk ke gapura Museum Batak di TB Silalahi Center, Balige, Toba Samosir. Jalan yang diaspal ini mulai dari gapura museum hingga ke simpang masuk TB Silalahi Center. Pekerja menggunakan bomag dan truk pengangkut bahan pengaspalan. Gerimis yang turun tidak mereka pedulikan. Pekerja terlihat serius menyelesaikan tugas masing-masing.

Di depan Museum Batak yang akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hari ini, berdiri tegak patung Raja Sisingamangaraja XII. Di depan museum ada miniatur Pulau Samosir dan sekitarnya. Di tembok depan museum, dibuat ukiran miniatur patung enam pasang manusia, mewakili enam puak Suku Batak, lengkap pakaian adatnya. Dari luar museum berpintu kaca transparan tersebut, terlihat   jalur masuk memanjang sampai ke bagian belakang. Tidak terlihat tangga, meski jalan masuk menanjak, sedikit landai.

Tepat di depan museum, disusun rapi kursi untuk undangan yang menghadiri peresmian. Ada juga podium dan tempat penandatanganan prasasti yang akan dilaksanakan hari ini. Petugas keamanan juga terlihat berjaga di setiap sudut TB Silalahi Center, baik dari polisi dan TNI. Ratusan parhobas (pekerja) sibuk menata kelengkapan peralatan seperti tenda dan penyusunan kursi. Seluruhnya terlihat saling terkoordinir. Pasukan TNI terlihat memasang karpet merah tempat melintas undangan. Karpet merah dipasang mulai dari gapura museum hingga ke pintu masuk. Tempat undangan khusus juga diberi karpet warna merah, dan ditaruh kursi dengan pembungkus kain putih.

Demo SBY
Di Medan, kemarin, puluhan orang yang mengatasnamakan kelompok Persatuan Muda Mudi Batak (PMMB) berunjuk rasa di tiga lokasi di Medan menolak pemberian gelar Raja Batak kepada SBY. Mereka menilai SBY tidak pantas mendapat gelar raja  lantaran sering membohongi orang Batak dan tidak berpihak pada masyarakat kecil. Padahal sebelumnya, TB Silalahi sudah membantah ada pemberian gelar Raja Batak pada Presiden SBY saat peresmian Museum Batak. Koordinator aksi PMMB Sumut Batler Fernando Situmorang, menegaskan pemberian gelar ini merupakan ulah TB Silalahi. Dalam orasinya, massa menuding TB Silalahi bukan orang Batak, melainkan orang yang merusak adat istiadat Batak.

“Sampai kapan pun kami tetap menolak gelar Raja Batak  kepada SBY karena tidak layak presiden yang zalim dan suka membohongi rakyat dijadikan raja. Raja itu orang yang dermawan dan berpihak kepada masyarakat kecil, bukan seperti SBY,” ujarnya, di sela-sela aksi di Bundaran Majestik. Fernando menyebut SBY tidak berjasa terhadap orang Batak dan telah membohongi orang Batak. ”Lihat saja saat ini kondisi bangsa, khususnya orang Batak, yang selalu tertindas, apakah SBY memikirkannya,” ujarnya. Aksi di Bundaran Majestik Medan tidak mendapatkan pengawalan ketat dari polisi.

Baca Juga :  Penangkapan 2 Oknum TNI AD Tak Terkait Perampokan Bank CIMB Niaga

Hanya delapan personel polisi yang melakukan penjagaan. Setelah selesai menyampaikan orasi, demonstran bergerak menggunakan mobil angkutan menuju DPRD Sumut. Sedangkan di DPRD Sumut, demo PMMB dipimpin Batler Situmorang. Mereka meminta DPRD Sumut bisa menyampaikan aspirasinya ke pemerintahan pusat. Aksi ini juga mengusung beberapa spanduk yang menyatakan penolakan terhadap pemberian gelar tersebut. Massa juga mengenakan masker bergambar TB Silalahi. Massa juga menyampaikan bahwa Huria Kristen Batak Toba (HKBP) juga menolak keras pemberian gelar tersebut.

Mereka juga meminta kasus jemaat HKBP Bekasi diusut tuntas, berikan kebebasan beragama bagi kaum minoritas, cabut SKB 3 menteri tentang kebebasan umat beragama, dan berikan hukum mati bagi kelompok-kelompok yang mendiskriminasi umat beragama. Koordinator aksi, Oberlin Marbun, mengatakan bahwa aksi ini merupakan wujud kepedulian Pemuda Batak Sumatera Utara terhadap kelestarian budaya dan penegasan bahwa Tanah Batak punya budaya yang santun dan menghargai komunitasnya.

Setelah itu aksi berpindah ke Tugu Sisingamangara XII di Jalan Sisingamangara, Teladan. Di sini, massa membakar perangkat aksi, berupa spanduk bertuliskan TB Bukan Batak, TB Memalukan Batak.  Juga bertuliskan HKBP Tolak SBY serta topeng-tobeng bergambar wajah TB Silalahi. Massa juga menyayikan lagu O Tano Batak dan Pulau Samosir. Tapi sepertinya sebagian besar massa tidak hafal lirik lagu tersebut. Karena berkali-kali menyanyikan, namun terhenti, tampak banyak yang tidak mengikutinya.

Mestinya Disambut
Pendiri DPP Himpunan Pemuda Batak Toba (Humatob), Resman Panjaitan, mengatakan kedatangan SBY mestinya sambut baik dan dijadikan momen untuk menagih janji Pendiri Partai Demokrat tersebut. “Besok (hari ini) harus dijadikan momen untuk menangih janji orang nomor satu di Indonesia, yaitu terkait menjamin kekebasan beribadah khususnya bagi suku Batak dimana pun berada,” ujar Resman. “Kedatangan SBY ke daerah Bona Pasogit tidak perlu ditolak, apalagi sampai diusir. Karena dalam filasafah Batak sesuai Dalihan Na Tolu, tindakan itu jelas tidak etis,” kata dia.

Ketua DPP Pago Sirat (lembaga Budaya Batak), Jayadi Sagala, menilai kunjungan SBY ke Balige itu merupakan penghargaan bagi Suku Batak.  “Sebagai tamu, Presiden SBY harus disambut dengan baik,” ujarnya. Ketua Himpunan Pemersatu Persaudaraan Suku se-Indonesia (HPPSI), Viktor Rajagukguk, menyatakan, sebagai bangsa berbudaya, kedatangan SBY ke Tanah Batak tidak perlu ditolak, namun diterima secara baik-baik.

Baca Juga :  Aceh dan Sumut Masih Terancam Krisis Listrik

Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha menegaskan, SBY tak akan menerima gelar Raja Batak seperti yang dituduhkan Aliansi Batak Seluruh Indonesia saat berada di Balige. “Bukan penghargaan Raja Batak. Ini ada misleading. Tolong ini tidak didramatisir. Ini kan seperti halnya presiden saat berkunjung suatu daerah, lalu ada kelompok masyarakat yang ingin memberikan perhatian kehormatan kepada bapak presiden dalam bentuk memberikan gelar atau semacam gelar kehormatan. Bukan konteks raja atau sebagainya,” kata Julian kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin. Sebelumnya TB Silalahi, yang tak lain adalah mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden memberikan klarifikasi.

“SBY tidak diberi gelar Raja Batak, yang memberi gelar kehormatan adalah Mandailing dan itu bukan gelar Raja Batak tapi diberi gelar Patuan Sorimulia Raja, suatu gelar kehormatan. Mereka biasa memberi gelar itu kepada  satu tokoh yang dihormati. Ibu Ani akan diberikan gelar Naduma Harungguan Hasayangan dari Adat Angkola,” kata TB Silalahi. Ia menyebut gelar yang terima Presiden SBY dan Ibu Negara, merupakan gelar paling tinggi dalam adat Batak Angkola. Museum Batak TB Silalahi Center, berdasarkan situs resmi www.tbsilalahicenter, terletak di Kompleks TB Silalahi Center Desa Pagar Batu, Balige,  Toba Samosir.

Museum Batak ini diproyeksikan menjadi objek wisata sekaligus tempat untuk melihat dan mempelajari benda-benda kuno serta kebudayaan warisan leluhur bangsa Batak. Museum setinggi tiga lantai itu berdiri di atas lahan seluas lima hektare. Di dalam museum ini, di antaranya, terdapat laboratorium, ruang pelayanan dan ruang utilitas, ruang pamer indoor tetap, ruang pamer temporer, ruang pamer benda khusus, ruang audio visual, dan ruang edukasi. Di bagian depan gedung, sebut situs tersebut, terdapat diorama 6 puak Batak yakni, Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Pakpak Dairi, dan Angkola. (tribunnews.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*