Jalan Lintas Riau-Sumbar Diblokade 3 Jam

(Analisa/denny winson) BLOKADE JALAN: Ratusan demonstran memblokir jalan raya penghubung Provinsi Riau-Sumatera Barat di Desa Danau Bingkuang. Demonstran menuntut Bupati Kampar Jefry Noer mundur dari jabatannya karena telah membiarkan istri dan ajudannya mengeroyok seorang warganya, petani perempuan bernama Nurhasni.

Pekanbaru, Seratusan mahasiswa dan warga yang menamakan diri Gerakan Rakyat Kampar (Gerak) melakukan aksi blokade jalan lintas Riau-Sumatera Barat (Sumbar), tepatnya beberapa meter dari Jembatan Danau Bingkuang, Kecamatan Tambang, Rabu (4/6).

Aksi sebagai bentuk protes dan kecaman terhadap Bupati Kampar Jefry Noer yang telah melakukan pembiaran terhadap tindakan Eva Yuliana (istrinya) dan Bripka Fery (ajudannya) yang diduga telah melakukan penganiayaan terhadap Nurhasni, warga Dusun Batang Kulim, Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampar Timur, Sabtu (31/5) lalu.

Para demonstran tidak hanya berorasi, tetapi juga melakukan tindakan blokade jalan. Akibatnya, arus lalu lintas yang menghubungkan Kota Pekanbaru dengan Kota Bangkinang, ibukota Kabupaten Kampar dan kota-kota lainnya di Provinsi Sumbar menjadi macet sepanjang 30 kilometer.

Koordinator Lapangan (Korlap) Gerak, Anton dalam orasinya menuntut Bupati Kampar Jefry Noer mundur dari jabatannya serta meminta aparat kepolisian segera menangkap dan memeriksa isterinya, Eva Yuliana yang juga Wakil Ketua DPRD Kampar.

”Kami menuntut agar polisi negara segera tangkap Jefry Noer, istrinya Eva Yuliana dan ajudannya Fery Ilham yang telah yang menodongkan senjata kepada warga masyarakat. Sebelumnya, Eva Yuliana bersama Fery dan seorang supir diduga telah melakukan pemukulan terhadap Nurhasmi, petani peremuan di Dusun Batang Kulim, Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampar Timur,” tukasnya.

Baca Juga :  Anggota Brimob Polda Sumut Tewas Ditikam Oknum TNI

Sementara itu, aktivis HMI Pekanbaru Rafi yang ikut dalam aksi unjurasa itu mengecam keras tindakan Eva Yuliana, baik sebagai istri bupati maupun Wakil Ketua DPRD Kampar. Dikatakannya, tindakannya tidak mencerminkan seorang pemimpin.

”Eva malah memukul rakyatnya sendiri yang hanya petani perempuan. Sehingga Nurhasmi terpaksa menjalani perawatan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Kami mengutuk keras pemukulan yang dilakukan Eva Yuliana dan ajudannya,” tukasnya.

Rafi menilai, selama ini aparat kepolisian cepat tanggap menangani kasus yang berhubungan dengan masyarakat kecil. Tetapi jika berhadap dengan Bupati Kampar Jefry Noer, nyali aparat terkesan ciut. ”Masih ingat di benak kami kasus penangkapan saudara kami, Rahmat karena menggelar aksi demo di kantor Camat Tambang. Dia ditangkap dulu, baru diproses dan tetapkan sebagai tersangka. Ttapi berhadap dengan Jefry Noer, polisi seakan tidak berani,” ujarnya.

Sebelumnya, Eva Yuliana menggelar jumpa pers. Dia membantah seluruh tuduhan bahwa dirinya melakukan pemukulan terhadap petani perempuan, Nurhasni. Waktu itu, memang terjadi keributan kecil, ketika Nurhasmi memaki suaminya, Jefry Noer.

“Karena terus mengumpat selaku perempuan saya menemui Nurasni dan mengatakan kalimat sudahlah, sambil memegang tangannya, namun saya malah disikut,” ujarnya.

Eva yang kini merupakan calon anggota DPRD Riau terpilih, menegaskan pihaknya tidak pernah melakukan pengeroyokan apalagi pemukulan. Jangankan untuk kasus Nurhasni itu, saat didemo dan dihujat para demonstan, dirinya dan Bupati Kampar Jefry Noer tak pernah membalas.

Baca Juga :  Harimau Terkam Penyadap Karet

”Jadi kami tegaskan, kami dihujat namun kami tidak pernah membalas apalagi hal sepele ini. Makanya kami memberikan waktu 2×24 jam terhadap Nurhasni untuk meminta maaf. Kalau tidak kamu akan balik melaporkan yang bersangkutan dengan tuduhan pencemaran nama baik,” pungkasnya. (dw) / (Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*