Jalan Lintas Simangambat, Pedagang Pakkat Menjamur

(Analisa/tohong p harahap) PENJUAL PAKKAT: Nurlohot Harahap (47) penjual pakkat dari Kecamatan Simangambat.

Oleh: Tohong Pangondian Harahap

PAKKAT (Rotan) adalah makanan hampir setiap bulan ramadhan menjadi incaran masyarakat yang berasal dari Tabagsel dan sekitarnya. Makanan yang berasal dari rotan muda ini adalah salah satu penambah selera makan.

Di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) sendiri, pakkat ini banyak di temukan berjejer di sepanjang jalan menuju Kecamatan Simangambat.

Hampir setiap hari, deretan penjaja rotan pakkat ini selalu terlihat menjajakannya di pinggir Jalan menuju Pasar Kecamatan Simangambat. Namun sangat berbeda sekali di saat bulan ramadhan, penjual pakkat semakin ramai dengan berbagai ukuran dan sajiannya.

Pakkat biasanya dipotong sepanjang 60 cm. Anda boleh membelinya dalam keadaan mentah atau meminta mereka membakarnya. Rotan dibakar lebih dulu, lalu bagian yang lembut di dalamnya dikeluarkan dan seterusnya, umbi lembut tersebut dipotong-potong.

Selain bisa disantap langsung sebagai lalapan, pakkat dapat dimakan dengan anyang atau bumbu/racikan khas Tabagsel. Bentuknya berlapis-lapis menyerupai rebung bambu. Mengkonsumsi pakkat lebih lezat dengan saus atau sambal cabai.

Namun masyarakat, khususnya warga Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, merasa tidak afdol bila berbuka puasa tanpa menyantap pakkat. Nurlohot Harahap (47) salah satu penjual pakkat ditemui wartawan, dengan keramahtamahannya menceritakan kisahnya yang sudah puluhan tahun menjual pakkat. Untuk mendapatkan pakkat ini ia bersama adiknya Nurliani harus menempuh perjalanan dengan jarak tempuh puluhan kilometer untuk mendapatkan pakkat sebab pakkat tumbuh subur di daerah rawa.

Baca Juga :  Pemkab Tapsel Serius Tingkatkan Program KB

“Sudah puluhan tahu kami sekeluarga menjual pakkat di sini,” ujarnya memulai cerita, Sabtu (14/2).

Setelah pakkat di dapat, ia pun lantas menjual pakkatnya dengan harga 10 ribu rupiah per ikatnya, dimana dalam satu ikatan ada 12 batang rotan muda dan dalam satu hari ia bisa menjual 10 hingga 20 ikat. Namun di saat bulan puasa, permintaan akan pakkat ini jauh lebih banyak dibandingkan hari biasa.

“Kalau bulan puasa seperti kemarin permintaannya meningkat. Kalau hari biasa kita bisa menjual 100 hingga 200 ikat dalam satu hari,” katanya.

Samsul Rambe yang kebetulan sedang membeli pakkat mengatakan penjual pakkat di hari biasa (bukan bulan ramadhan) tidak begitu menjamur, namun untuk mencari makanan pakkat di setiap rumah makan yang ada di Kecamatan Simangambat sangatlah mudah.

/analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*