Jalan Lintas Sipirok- Psp KM 17 Rawan Laka

Jalan Lintas Sipirok-Psp Km17 yang rawan kecelakaan lalu lintas. Belum lama ini, tiga bocah meninggal setelah ditabrak mobil.

TAPSEL – Jalan lintas Sipirok-Psp rawan kecelakaan maut. Posisi kilometer ke-17 berada di Desa Marisi, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan. Terakhir, tragedi penuh duka terjadi Senin (5/1). Satu unit mobil Daihatsu Xenia plat BM 1746 JP menabrak tiga anak-anak hingga meninggal.

Kondisi kilometer 17 itu sendiri beraspal mulus dan lurus juga tikungan manis, tidak seperti kilometer sebelum dan sesudahnya yang penuh lubang. Selain pemukiman, di sekitar jalan juga diapit perkebunan karet dan minim penerangan. “Sering kejadian kecelakaan, pasti biasanya sekali setahun ngambil orang. Kalau korbannya warga sini juga sering dan pengendara juga banyak,” ujar Kepala Desa Marisi Ahirmadhan Harahap.

Tak hanya rawan secara teknis, warga di sana pun kasak-kusuk bercerita mistis tentang jalan itu. Kata warga, di salah satu titik kilometer 17 itu, merupakan perlintasan harimau, hewan nyata yang menjadi legenda dan mistis di masyarakat Tabagsel.

“Inilah jalan yang dibilang parlintasan babiat itu. Babiat telpang kalau orang daerah sini bilang,” ujar Sobir, warga yang turut di pemakaman korban kecelakaan maut. Namun, itu hanya cerita masyarakat tanpa pembuktian yang lebih spesifik dan jelas.

Kembali kepada Kilometer 17 Jalan Lintas Sipirok-Psp, Kanit Laka Satlantas Polres Tapsel Ipda A Sitepu membenarkan jalan tersebut rawan kecelakaan lalu lintas. “Ya ini memang rawan laka, dari ujung sana hingga ke mari,” jelasnya sembari menunjuk batas jalan yang terbilang Kilometer 17 itu.

Baca Juga :  Bupati Palas Harus Tegas, Dana Desa Masih Nyangkut, PMK No. 49 Tahun 2016 Apa Sih..?

Selalu Mendengar Suara Burung Pio-pio

Sementara itu, Muslim Siregar, ayah salahsatu korban, menceritakan hal aneh sebelum peristiwa kecelakaan yang menimpa buah hatinya itu. “Tidak ada tanda sikit pun itu (musibah, red) mau datang. Saya hanya ada mendengar suara burung tanpa harus mempercayai, percaya pun hanya 5 persen, selebihnya takdir Allah,” sebutnya.

“Ketika itu burung pio-pio itu sudah hampir dua bulan berbunyi di sekililing rumah kita. Kalau tidak di sekitar rumah abang yang dua (korban,red) itu. Saya juga lihat-lihat di kampung itu tidak ada yang sakit maupun yang meninggal, itulah mungkin tanda atau apa tanpa harus mempercayainya lebih,” sambungnya.

Pada hari pilu itu, ia sempat dibangunkan dari tidur siangnya oleh anak tercinta yang menjadi juara kelas di kelas I SD Negeri Pargarutan itu juga untuk bersekolah di madrasah asuhannya sendiri di Masjid Al-abror.

“Kalau hujan dia naik di rumah, kalau gak hujan dia tunggu di situ (TKP). Saya dibangunkan, ‘ayah.. ayo sekolah, ayah.. udah jam dua itu, makan dulu kita, ayah bangun..,” ujarnya mengulangi desakan terakhir anaknya itu. “Dia juga siapkan magic jarnya, dia bawa lauk dan nasinya untuk makan siang. Gulai kami siang itu ikan asin sama ikan laut, gak mau dia ikan laut, nasinya hanya dikuahi dan itu dia ambil ikan teri,” kenangnya lagi.

Ternyata penyajian makanan oleh anak kecil berusia 6 tahun yang pintar itu juga untuk terakhir kalinya. “Pada saat kejadian, saya naik kereta. saya mendengar bunyi suara buaaam. Saya juga sempat lihat mobil itu. Terus saya cari anak saya, nampaklah mukenanya tersangkut di tonggak listrik yang jaraknya sekitar 10 meter dari warung itu. Saya lihat mukena itu, saya lihat anakku, saya nangis ini anakku, anakku saya lihat sudah tidak ada karena terasa remuk,” ulasnya yang diserta derai airmata.

Baca Juga :  Bahasa Daerah Perlu Diterapkan di Sekolah

Saat itupun katanya, ia merasa anaknya sudah tidak ada sesuai dengan perasaannya saat mendekap tubuh anaknya itu terasa remuk. “Anak saya, saya suruh untuk sekolah arab, itu anak saya rajin dan bijak orangnya itu. Saya masukkan SD padahal masih 6 tahun, dia dapat juara 1. Banyak yang bertanya anak siapa itu, anak pak usatad itu, orang banyak yang kenal karena bijak itu. Semua orang dicakapi,” ucapnya penuh harapan anaknya bisa hadir lagi.

Kemudian, mengenai pemakaman anaknya yang ditempatkan di Desa Labuhan Labo, desa istri dan mertuanya itu. ia memiliki jawaban pasti, “Di mana pusatnya ditanam, di situlah pusaranya juga ditanam,” lanjutnya. (mag 01)

/METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*