Jalan Menuju Hulu Batang Pane Memprihatinkan

Analisa/tohong p harahap) Mirip Kubangan: Salah satu mobil saat melintas di badan jalan yang mempunyai ketebalan lumpur dari 10 hingga 50 sentimeter yang mirip kubangan.

Paluta, (Analisa). Jalan yang menghubungkan kota Gunung Tua menuju wilayah Hulu Batang Pane, Kecamatan Padang Bolak saat ini kondisinya sangat memprihatinkan, sebab jalan utama yang menghubungkan puluhan desa yang terdapat di Hulu Batang Pane sudah sangat susah untuk dilintasi.

Pantauan wartawan,  Minggu (23/3) saat melewati jalanan itu terlihat badan jalan rata dengan tanah, ketebalan lumpur pun mencapai 10-50 sentimeter. Penduduk setempat yang hanya bekerja sebagai petani tidak bisa berbuat banyak, selain tidak tahu kemana mengadu, masyarakat pun kerap hanya bisa pasrah untuk meratapi nasib yang menimpa mereka.

Selain itu, jaringan listrik untuk beberapa desa juga saat ini masih menjadi idaman bagi warga. Bagi orang yang tidak biasa, untuk memasuki daerah Hulu Batang Pane dirasakan terlalu mengerikan, selain kondisi jalan yang sangat hancur, kiri kanan badan jalan pun terdapat jurang dalam sehingga jika para supir salah salam memilih jalur jalan maka akan tergelincir ke dalam jurang yang mencapai kedalaman sampai 50-200 meter.

Ongku Harahap saat itu melintas di kawasan Hulu Batang Pane, Minggu (23/3) mengungkapkan kondisi jalan yang dia lewati sangat rawan kecelakaan, tidak bisa sembarang kendaraan roda empat yang bisa melaluinya.

Baca Juga :  PSMS Medan diujung tanduk

“Kendaraan menuju ke daerah itu harus kendaraan dengan tipe double cabin dengan gardan dua,” ujarnya.

Masih katanya, kerusakan yang terjadi pada jalan utama yang menghubungkan Kota Gunung Tua dengan puluhan desa yang ada di Hulu Batang Pane sudah terjadi puluhan tahun lalu, hingga saat Padang Bolak sudah mekar dari Tapsel dan menjadi Kabupaten, masyarakat disana belum pernah merasakan yang namanya pembangunan infrastruktur jalan.

“Mulai dari jaman Tapsel dulu hingga sekarang belum pernah ada yang namanya pembangunan,” tegas Ongku.

Minimnya pembangunan infrastruktur jalan menurutnya terbukti dengan kondisi jalan yang tidak bagus, padahal warga di daerah itu merupakan warga Paluta yang seharusnya ikut merasakan apa yang dinamakan keadilan dalam pembangunan, sehingga transportasi untuk mengangkut hasil bumi dari dan ke desa mereka jadi lancar guna untuk memperbaiki ekonomi masyarakat yang ada di daerah itu.

Terpisah Kepala Desa Tanjung Marulak Pangadilan mengaku kerusakan jalan itu sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya perhatian dari pemerintah, bahkan pembangunan yang pernah mereka rasakan dulunya adalah pembangunan jembatan pada jauh sebelum Paluta mekar dari kabupaten induk Tapsel.

“Dulunya ada juga pembangunan jembatan tapi itu waktu masih Tapsel bukan Paluta,” tegas Pangadilan.

Dirinya berharap kepada pemerintah agar memprioritaskan pembangunan sarana infrastruktur jalan agar kehidupan warga yang ada di daerah Hulu Batang Pane bisa lebih maju serta perekonomian dapat lebih baik dari sebelumnya. (ong)

Baca Juga :  Kopi dari Sipirok, Sumber Utama Sejarah Kopi Mandailing

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. BERANGKALI PADA SIBUK KAMPENYE BRO…… MAKLUMLAH…. PADAHAL … biasanya kalau ada yang beginiin di jaman saat kampanye seperti ini, menjadi sesuatu yang harus dipedulikan oleh para Caleg dan pemdanya itu…
    ya saba-sabar saja terus menerus publikasi di apakabarsidimpuan ini dan juga jejaring sosial laiinya biar pelan2 terangkat kepermukaan bagaimaan para pejabat pemdanya selama ini terhadap rakyaknya….
    padahal mungkin anggaran untuk perbaiki seperti2 itu paling juga anggarannya dibawah Rp. 1 M ya hehehehee… maklum para pejabatnya lagi habis uang untuk kampanye bahkan uang negara juga mungkin lagi habis untuk pesta tahun ini.. jadi sabar2 saja…. padahal di paluta itu, banyak kebun2 luas ya…. perusahaan2 besar juga ada disana, CSR (Corporate Social Responsibility) dari setiap perusahaan entah ada atau tidak ada, entah dipakai untuk apa, entah untuk ini dan itu, tapi yang pasti, sebaiknya tidak usah nunggu Pemerintah bro, nunggunya kadang sampai habis masa presiden belum tentu dieprbaiki tahun ini. Upayakan Kekuatan Rakyat mencari CSR ke perusahaan2 disekitar PALUTA saja. Jadi buat masyarakat disana melalui Kepdesnya mamfaatin peraturan tentang CSR bagi perusahaan untuk perbaiki namanya Jalan Desa dan Jembatan Desa dan juga tempat2 umum…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*