Jalan Trans Papua Butuh Dana 50 Triliun

Pemprov Papua membutuhkan dana sekitar Rp 50 triliun untuk membangun jalan sepanjang 6.000 kilometer yang menghubungkan Kota Jayapura dan 28 kabupaten, yang terdapat di daerah paling timur Indonesia itu.

“Sejak 2008, kami memprogramkan pembangunan jalan trans Papua itu. Adapun pembiayaannya bersumber dari dana otonomi khusus (otsus) Papua dan bantuan pemerintah pusat melalui APBN,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua, Adwin R. Ichwan ketika dihubungi dari Timika, Senin (12/7/2010).

Hingga kini, pihaknya sedang mengerjakan salah satu ruas utama jalan trans Papua yang menghubungkan antara Kabupaten Mimika dengan Dekai, Kabupaten Paniai, termasuk proyek jembatan Kali Kopi di Sungai Iwaka, Mimika, yang akan menjadi ruas utama menuju Dekai Paniai.

Ruas jalan tersebut, memiliki nilai yang sangat strategis, mengingat saat ini Pemprov Papua juga sedang membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berdaya sekitar 300-350 megawatt (MW) di Sungai Urumuka, Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah.

Proyek hidro power pertama di Papua itu akan menyuplai kebutuhan listrik pada lima kabupaten, yakni Mimika, Paniai, Deyai, Dogiyai, dan Nabire. Bahkan, perusahaan tambang emas, tembaga, dan perak, PT Freeport Indonesia juga berencana membeli daya listrik dari PLTA Kapiraya tersebut.

Terkait dengan pembangunan ruas jalan trans Papua itu, Adwin mengatakan Pemprov Papua akan menindaklanjuti kerja sama dengan PT Freeport untuk pemanfaatan tailing atau pasir sisa tambang yang tidak memiliki nilai ekonomis.

Baca Juga :  Polisi Bongkar Jaringan Judi Online Beromzet Miliaran

Dinas PU Papua, telah mengirim usulan ke Departemen PU di Jakarta agar beton tailing masuk dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga konstruksi jalan di seluruh Nusantara menggunakan bahan itu.

“Kami membutuhkan adanya peraturan daerah (perda) di tingkat kabupaten untuk mengatur penetapan harga,” katanya.

Dia berharap harga tersebut cukup murah sehingga banyak kabupaten dan provinsi lain yang mau menggunakannya.

“Pada tahun ini kami mencoba membangun rumah dengan menggunakan batu bata tailing, dan selanjutnya akan meminta akreditasi untuk tes tahan gempa,” kata Adwin.

Material tailing dari pabrik pengolahan PT Freeport di sekitar Tembagapura yang dialirkan ke Sungai Aijkwa (Kali Kabur), kemudian diendapkan di dataran rendah Mimika – di samping kota Timika – itu diperkirakan sekitar 200 ribu ton per hari.

Dia menceritakan, sebelum dilantik sebagai Wakil Presiden RI pada Oktober 2009, Boediono sempat datang ke sejumlah daerah di Papua seperti Timika dan Wamena- Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya – untuk melihat dari dekat kemungkinan pembangunan infrastruktur jalan raya di wilayah pedalaman Papua.

Dalam kunjungan saat itu, Boediono bersama Rizal Mallarangeng berjanji untuk memperhatikan pembangunan infrastruktur jalan menuju daerah Pegunungan Tengah Papua untuk mempercepat laju pembangunan di pedalaman, sekaligus dapat meminimalkan biaya pendistribusian barang kebutuhan pokok masyarakat yang selama ini melalui transportasi udara.

Baca Juga :  Makin tak terkendali, harga 1 butir cabe rawit merah Rp 1.000

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2010/07/12/19122113/Jalan.Trans.Papua.Butuh.Dana.50.Triliun-14

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Kami agen Pendana LN/LOKAL siap untuk membantu pelaksanaan Proyek2,
    50 M —- Trilyunan. Segera kirimkan data Executive Summary Project lewat e-mail
    atau call : 085814174370.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*