Jalur Lintas Sumatera Terhambat di Aek Latong

Minggu, 6 April 2008 | 18:07 WIB

Laporan Wartawan Kompas, Andy Riza Hidayat

TAPANULI SELATAN, MINGGU – Mobilitas barang dan manusia terhambat di Jalan Lintas tengah Sumatera ruas Aek Latong, Sipirok, Tapanuli Selatan. Hujan yang mengguyur jalan itu belakangan membuat medan semakin berb ahaya. Antrean panjang sekitar 1,5 kilometer terjadi di jalur itu, Minggu (6/4). Penyebabnya sebuah bus Bintang Utara dari Padang menuju Medan mogok sejak Jumat (4/4).

Bus yang mogok itu tepat berada di lengkungan dasar tanjakan itu menghambat arus kendaraan dari arah Tarutung ke Padang Sidimpun maupun sebaliknya. Kondisi itu menuntut pengemudi kendaraan berhati-hati di alanan berbahaya sepanjang sekitar 800 mete. Lumpur karena guyuran hujan masih lembek.

Akibat guyuran hujan tanjakan menjadi licin sehingga ratusan truk yang melintas setiap hari harus diderek dengan buldoser. Sejumlah p enumpang terpaksa turun selama kendaraan yang mereka tumpangi melintas .Sayangnya tidak ada petugas dari kepolisian maupun dinas perhubungan untuk mengatur k arut marut lalu lintas yang terjadi di lokasi itu.

Laju kendaraan kendaraan di lokasi itu terhambat. Antrean kendaran pada Minggu (6/4) terjadi paling tidak tiga jam, hanya untuk melintas jalan sepanjang 800 meter. Sebagian truk besar roda 10 memilih berhenti sampai jalanan mengeras kembali. Jalan di ruas Aek Latong memang sudah tidak beraspal lagi. Jalan itu kini menjadi jalan tanah yang membahayakan kendaraan jika hujan lebat turun. J alanan dengan medan berkelok-kelok dan menanjak itu menjadi momok pengendara kendaraan di jalur Tarutung- Padang Sidimpuan.

Baca Juga :  Kalah, Liverpool Keluar dari Sepuluh Besar

“Saya sudah pasti terlambat mengirim barang. Ongkos keterlambatan ini saya yang menanggung, tauke kami tidak mau tahu,” kata pengemudi truk Padang Banda Aceh bernama Pangeran. Bagi Pangeran, melewati jalan berbahaya selain mempertaruhkan keselamatan juga menambah ongkos bahan bakar, waktu, dan biaya di jalan.

Sejak 1999 jalan di Aek Latong rusak parah. Di Lokasi itu terjadi pergeseran bumi karena masuk dalam Patahan Semangko, yang selalu bergerak aktif baik vertikal maupun horizontal. Tidak hanya jalan yang menjadi korban pergeseran bumi, sebanyak 27 keluarga harus menempati pemukiman baru sekitar 1 kilometer dari lokasi.

Hingga kini, jalan alternatif selain jalan itu hanya tinggal wacana saja. Sejak awal 2000 an sudah ada penelitian dari Institut Teknologi Bandung untuk mengalihkan jalur itu. Jalur baru yang dimaksud dari Siborongborong ke Sipirok melalui Pangaribuan, Aekhumbang, dan Tandosan. Namun rencana itu belum juga terealisir sementara kerugian ekonomi terus berjalan. “Barang yang saya tunggu belakangan sering terlambat . Jika koran yang saya jual sudah basi, tidak ada yang mau beli. Saya tidak bisa mendapatkan uang,” kata loper koran di Padang Sidimpuan Jamanson Saragih.

sumber: www.kompas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Kasus Dugaan Manipulasi Dana dan Data PS Sidimpuan Rp2,7 M - Kejari Periksa Kadispora

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*