Jalur Utama Medan Karo-Dairi Lumpuh Total

Sidikalang, (Analisa).

Jembatan darurat di Lae Pondom Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi hampir ambruk. Ruas dimaksud termasuk kategori jalan nasional menghubungkan Medan, Tanah Karo hingga Kabupaten Dairi juga menuju Aceh.

Akses lalulintas di jalur utama yang menghubungkan Medan dan Kabupaten Tanah Karo menuju Kabupaten Dairi dan wilayah tetangga di antaranya Pakpak Bharat, Subulusalam dan Aceh Singkil lumpuh total selama 19 jam.  Hal itu terjadi akibat jembatan darurat di Lae Pondom Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi, kilometer 119 Medan nyaris ambruk. Kemacetan berat di titik tersebut pukul 16.00 WIB, Jumat (25/2) berujung pada rusaknya jembatan yang dibangun dua bulan lalu.

Sekilas, besi penahan tampak bengkok diduga akibat lalu lalang kendaraan over tonase tanpa kontrol. Hingga pukul 11.30 WIB, Sabtu (26/2), ratusan kendaraan jenis truk masih tertahan di dua arah menunggu infrastruktur membaik.

Upaya penanggulangan dilakukan secara swadaya para sopir dan warga. Mereka membongkar lalu memasang broti pengganti. Kerja keras itu membuahkan hasil. Untuk sementara, disepakati hanya mobil berukuran kecil diperkenankan lewat. Truk roda delapan masih menunggu. Di sana juga terlihat muatan berat termasuk pipa besi berdiameter panjang.

Sementara itu, pengendara lainnya terpaksa beralih mempergunakan jalan alternatif yakni dari Merek-Sikodonkodon-Silalahi hingga Sumbul. Rute itu dikabarkan juga sangat rawan dimana lebar jalan kurang memadai. Di kiri terdapat tebing siap longsor sedang di sebelah kanan mesti waspada kalau tidak tergelincir ke Danau Toba.

Baca Juga :  Efek Domino Century Boediono

Menyusul masalah itu, pengusaha jasa transportasi memilih menunda beberapa keberangkatan dini hari. Po Datra misalnya, memutuskan meniadakan trip 03.00 WIB menunggu hari cerah dan informasi terkini. Penumpang pagi bergerak memakai jalur Silalahi.  Sopir pembawa BBM (bahan bakar minyak) dari Belawan diinformasikan beralih dari Kabanjahe-Tigalingga menuju Sidikalang. Penambahan lama pengiriman membuat stok bensin dan solar di SPBU sempat terkendala.

Jongarih Girsang anggota SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) Desa Tanjung Beringin Kecamatan Sumbul di sela-sela gotongroyong menuding, persoalan itu terkait erat dengan muatan truk di luar ambang normal. Umumnya, mobil roda enam membawa barang di atas 30 ton. Kuantitas per malam ditaksir lebih 200 unit. Konsekuensinya, aspal hotmix menjadi hancur-hancuran. “Bisa anda bayangkan betapa jalan dan jembatan di lintasan ini kian babak belur. Entah siapa lagi yang peduli,” ujar Jongarih.

Seputar konstruksi jembatan, menurutnya semula sudah baik. Akibat bobot berlebih, rel roda sekaligus pengikat papan jembatan jadi lepas. Bentuk sarana penghubung itu pun mulai surut dan oleng.
Beberapa sopir menyesalkan lemahnya atensi pemerintah. Kecuali polisi dan anggota TNI AD, tak ada petugas di sana. Mereka protes, sebab pembayaran di jembatan timbang Sidikalang tidak boleh kurang namun kualitas sarana tidak becus.

Di unit pengawasan itu, seorang sopir pembawa minyak sawit mentah jurusan Meulaboh-Belawan mengungkap, mesti menyetor Rp100 ribu. Dari perbatasan Sumut-Aceh di Pakpak Bharat hingga Medan, total pengeluaran mencapai Rp600 ribu. Di jalur Aceh, bersih tanpa kutipan.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Korupsi Sebesar Rp.6,771 Miliar di Padangsidimpuan Dilapor ke KPK

“Seratus ribu sekali lewat. Seribu rupiah pun tak boleh kurang. Tapi, seperti inilah jalannya. Itu belum termasuk kutipan lain bergaya preman,” ujar pria marga Manullang asal Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan.

Sopir lain pembawa pupuk menyebut, biasa membayar Rp 150 ribu. Setoran itu tanpa tanda terima. Buruknya cuaca ditambah antrean panjang membuat sebuah truk terperosok masuk parit tak jauh dari lokasi peristiwa. Bambang Pardede PNS di Balai Besar Rehabilitasi Jalan Nasional Kementerian Pekerjaan Umum belum berhasil dikonfirmasi. Telepon seluler berikut pesan singkat tidak dijawab. (ssr) (analisadaily.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*