Jembatan Aek Sirumambe Nyaris Putus

Salah seorang warga dari Desa Gumarupu Lama terpaksa berjalan kaki menyeberangi jembatan Aek Sirumambe yang nyaris putus, Selasa (30/12). (Asmar)

PALUTA – Jembatan Aek Sirumambe di Desa Gumarupu Baru, Kecamatan Portibi, mengalami kerusakan sejak dua minggu lalu. Kini kondisinya semakin parah dan nyaris putus. Jembatan ini merupkan penghubung antar desa, salah satunya dengan Desa Gumarupu Lama.

Takdir Siregar (45), warga Desa Gumarupu Baru, Kecamatan Portibi, Selasa (30/12) mengatakan, kerusakan jembatan ini sudah terjadi sejak dua minggu lalu, saat itu kerusakan berupa badan jalan di pangkal jembatan mengalami longsor.

Namun akibat curah hujan yang cukup tinggi mengakibatkan tanah di bagian pangkal jembatan yang mengalami longsor jadi tergerus dan terbawa air, sehingga kerusakan semakin parah dan jembatan tersebut terancam putus.

“Kerusakan ini terjadi sekitar dua minggu lalu, saat itu bagian pinggir n nya saja yang longsor, tapi sekarang sudah semakin parah dan longsornya sudah semakin lebar, lebih dari separuh badan jalan yang longsor,” jelasnya.

Dikatakannya, saat pertama kali longsor, jembatan tersebut masih bisa dilalui oleh kenderaan roda empat, namun saat ini hanya kenderaan roda dua yang bisa melewatinya, karena longsor sudah memakan lebih dari separuh badan jembatan ditambah lagi kondisi badan jembatan yang sudah mulai miring dan tidak stabil.

Akibatnya, masyarakat yang hendak membawa hasil pertaniannya harus rela untuk mengeluarkan biaya yang lebih mahal dalam pengangkutan hasilnya karena harus dua kali naik mobil angkutan. Seperti halnya harga buah kelapa sawit, para petani harus rela harga buah kelapa sawit mereka lebih murah dari harga pasaran karena harus menanggung biaya pengangkutan atau biaya langsir untuk melalui jembatan tersebut, sebab mobil truk milik toke atau pengumpul sawit hanya bisa sampai di seberang jembatan.

Baca Juga :  Rapat Tim Pansus PT SM dengan Kapolres Madina - Warga Bacok Kapolsek

“Kalau mobil sudah tidak bisa lewat, harus nyambung angkutan, seperti mobil toke sawit ini cuma bisa sampai di seberang jembatan, jadi buah sawitnya harus dilangsir, otomatis harganya lebih murah,” tambahnya.

Menurut Takdir Siregar, saat pertama kali jembatan tersebut mengalami kerusakan, pihak Pemkab Paluta dan pihak DPRD Paluta sudah turun meninjau kondisi kerusakan jembatan.

Dan saat itu, pihak DPRD dipimpin langsung Ketua DPRD Paluta Mukhlis Harahap didampingi anggota DPRD Paluta lainnya yakni Gentha Ibnu Aslhantua. Mereka juga berjanji akan segera menindaklanjuti kerusakan jembatan dengan memanggil Dinas PU dan BPBD Paluta, untuk mengupayakan penanggulangan serta perbaikan dan rekonstruksi jembatan tersebut. Namun setelah berselang dua minggu hal tersebut belum terealisasi sesuai dengan yang dijanjikan dan kerusakan jembatan pun sudah semakin parah.

Untuk itu dirinya berharap agar Pemkab Paluta melalui dinas terkait dapat segera memperbaiki kerusakan jembatan tersebut, karena jembatan ini merupakan satu-satunya akses penghubung dari beberapa desa yang berada di Kecamatan Portibi, jika tidak, dikhawatirkan roda perekonomian masyarakat yang sebagian besar adalah petani akan mengalami kelumpuhan.

Sebelumnya, Ketua DPRD Mukhlis Harahap kepada Metro Tabagsel mengatakan, akan segera menindaklanjuti adanya kerusakan jembatan yang berada di Desa Gumarupu Baru secepat mungkin, dengan memanggil Dinas PU dan BPBD. Dinas PU akan segera melakukan upaya penanggulangan dalam hal perbaikan dan rekonstruksi jembatan, agar kerusakan jalan tidak menjadi semakin parah.

Baca Juga :  Jalinsum Nagasaribu ‘Babak-belur’

Pantauan Metro Tabagsel, Selasa (30/12), banyak warga Desa Gumarupu Lama yang hendak pulang dari pasar Pekan Selasa, Kecamatan Portibi, harus turun dan berjalan kaki menyeberangi jembatan dan berganti angkutan setelah sampai di seberang jembatan, karena angkutan yang dari pasar tidak bisa menyeberangi jembatan yang rusak. Akibatnya mereka harus rela untuk membayar ongkos angkutan dua kali dari ongkos biasa. (mag-02)

/METROSIANTAR.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*