Jeritan Korban Banjir Bandang Manyabar Pak Bupati, Kami Butuh Tempat Tinggal

MADINA – Sejumlah korban banjir bandang di Desa Manyabar, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), sejak 14 hari lalu hingga Senin (25/2), masih bersedih karena harus kehilangan tempat tinggal. Banjir bandang yang menimbun ratusan rumah saat itu terjadi Senin malam (4/2).

Hingga kini sebagaian warga masih mengungsi di gedung SD dan menumpang di rumah saudaranya yang lain di desa itu. Mereka berharap Pemkab Madina bisa memberikan bantuan tempat tinggal bagi mereka.

“Kami butuh tempat tinggal Pak Bupati, kami sekarang sudah tidak punya rumah lagi, dan uang kami tidak ada untuk membangun rumah baru, sedangkan rumah lama tidak bias ditempati lagi karena sudah rusak berat. Kami mohon agar kami memeroleh tempat tinggal lagi,” sebut Asmaro (45) kepada METRO, Senin (25/2), korban banjir yang rumahnya rusak berat dan tertimbun.

Dikatakan Asmaro, sejak kejadian banjir bandang pada Kamis malam (14/2), dua pekan lalu, dia bersama tiga orang anaknya mengungsi di tempat darurat yaitu di gedung SDN di desa itu, juga bersama warga yang lain. Namun kini mereka hanya bisa menumpang di rumah famili di kampung itu.

“Kami tidak mungkin seterusnya tinggal di rumah orang, meski masih ada hubungan keluarga. Untuk itu kami sangat bermohon agar kami memiliki tempat tinggal,” ungkapnya. Hal serupa dikatakan ibu Sahria. Dia menyebutkan saat ini mereka hanya bisa meratapi rumah mereka yang rusak berat dan tidak bisa ditempati lagi dan mereka terpaksa menginap di rumah warga setempat.

“Rumah kami sudah rusak berat dan kini kami tinggal di rumah keluarga di desa ini. Kami sangat berharap bantuan tempat tinggal, dan sampai saat ini belum ada kepastian dari pihak manapun juga,” kata Sahria.

Demikian juga disampaikan Taufik (32). Pada saat kejadian banjir, dia bersama beberapa warga lainnya sedang shalat Isya berjamaah. Belum selesai shalat, sudah terdengar suara gemuruh air di sungai tak jauh dari masjid itu. Usai shalat, air sungai sudah mulai membanjiri pemukiman penduduk.

Baca Juga :  Bungkam Argentina, Jerman Juara Piala Dunia 2014

Lalu ia bergegas menuju rumahnya dan meminta istrinya Nita (30) agar segera menyiapkan barang-barang rumah tangga, berupa pakaian dan apa saja yang mudah untuk diselamatkan, sebab ia sudah khawatir dari kondisi air yang membanjiri kampung mereka itu sangat deras.

“Kami hanya bisa menyelamatkan sebagian kecil pakaian saja, yang lainnya sudah hanyut total. Sedangkan rumah yang saya kontrak dindingnya tinggal satu sisi saja, semua dinding lain sudah runtuh. Artinya tidak bisa lagi ditempati, harus dibangun yang baru.” kata Taufik.

Dijelaskannya, sampai hari ini warga hanya menerima bantuan makan untuk sehari-hari. “Kalau bantuan kami baru menerima makan saja, yang lain belum ada. Cuma beberapa hari setelah kejadian, Pemkab Madina melakukan pendataan rumah rusak,” pungkasnya.

Dia juga menyebutkan, saat ini dia sudah pindah tempat tinggal ke Desa Panyabungan Julu atau sekitar 3 kilometer dari Manyabar. ”Kami tak tahan lagi tinggal di sini, sudah sering terjadi banjir. Makanya kami pindah saja ke desa lain,” tambahnya.

Bupati Tak Peduli Rakyat
Salah seorang warga bernama Jamil Matondang (52) mengaku sangat kesal atas tidak pernahnya Bupati Madina HM Hidayat Batubara melihat kondisi mereka sejak terjadi banjir. Padahal menurut Jami,  banjir yang mereka alami ini sudah luar biasa, sebab ratusan rumah terendam dan tertimbun lumpur dan pasir hingga satu meter.

Sementara rumah yang lain sudah rusak berat dan tidak bisa ditempati lagi. Sedangkan pemiliknya kini tak tahu dimana, sebab sebagian ada yang mengungsi di rumah keluarga di kampung itu dan sebagian ada yang mengungsi di luar desa.

Baca Juga :  Satu Unit Rumah Terbakar di Sidimpuan

“Kami sudah seperti ayam yang kehilangan induknya, saya sendiri mengalami kejadian ini ibarat sedang mimpi. Kami sangat menyesal dan merasa tertipu oleh Bupati kita bapak Hidayat Batubara, karena sekalipun beliau tidak pernah menyapa dan mendatangi kami rakyatnya ini.

Jangankan untuk membantu kami, memberikan semangat pun kepada warga tidak ada, yang datang hanya Pak Wakil Bupati. Tetapi warga lebih menginginkan Bupati yang hadir,” keluh Jamil yang mengaku pernah bekerja bersama keluarga Hidayat Batubara sebelum ia jadi bupati.

Menurut Jamil, banjir yang menimpa mereka di desa Manyabar dan desa lainnya itu merupakan banjir terbesar sejak tahun 2004 lalu, namun kali ini penanganan penanggulangan dari pemerintah sangat lambat.

“Kami menilai pemerintah tidak serius mengurusi rakyatnya, buktinya hampir dua minggu kami seperti ini belum ada kejelasan bagaimana nasip kami selanjutnya. Kami butuh tempat tinggal, kami butuh makan. Sementara pemerintah belum memberikan apa-apa, hanya sekedar makan saja,” sebutnya. (wan)

sumber : metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*