JIFFest 2010 – ‘Waiting for Superman’: Sisi Kelam Dunia Pendidikan Amerika

Setiap memasuki tahun ajaran baru, ada ‘ritual’ yang selalu mewarnai dunia pendidikan kita: ibu-ibu dari kalangan masyarakat miskin yang kesulitan mencarikan sekolah bagi anaknya. Pasalnya, golongan kelas ini boleh dibilang tak punya pilihan lain kecuali memasukkan anak-anak mereka ke sekolah negeri, yang notabene berbiaya lebih murah dibandingkan dengan sekolah swasta. Namun, “lebih murah” juga tidak selamanya lebih mudah sebab daya tampung sekolah selalu lebih kecil dibandingkan dengan jumlah anak yang mendaftar. Akhirnya, kata “murah” menjadi relatif: siapa yang mampu bayar lebih tinggi, dialah yang mendapatkan kursi.

Hal yang nyaris sama ternyata juga terjadi di satu-satunya negara adidaya di dunia yang masih tersisa, Amerika Serikat. Sama dalam hal perbandingan yang tak seimbang antara daya tampung sekolah dan jumlah anak yang mendaftar. Namun, berbeda dalam hal “sistem” penerimaan. Pernahkah Anda menyangka bahwa anak-anak di sana, yang telah memasuki usia sekolah dan hendak masuk ke sekolah dasar, disaring dengan cara “kompyokan” alias dilotere? Film ‘Waiting for Supermen’ (di Amerika rilis 8 Oktober 2010) karya sutradara Davis Guggenheim (An Inconvenient Truth, 2006) ini dengan dramatis mendokumentasikannya.

Guggenheim mengikuti perjalanan lima ibu dari masyarakat kulit hitam yang hendak mencarikan sekolah negeri buat anaknya masing-masing: Anthony, Francisco, Bianca, Daisy, dan Emily.  Film dibuka dari kamar Anthony, ketika bocah berbibir tebal dan berkawat gigi itu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar keinginannya untuk bersekolah, apa cita-citanya dan semacamnya. Dengan alur yang cukup tangkas, adegan-adegan berikutnya secara berselang-seling menampilkan wawancara dengan tokoh-tokoh pendidikan, profil sekolah-sekolah dasar negeri, dan diperkaya dengan ilustrasi animasi grafik yang menggambarkan fakta-fakta statistik wajah dunia pendidikan (dasar) di Amerika.

Baca Juga :  Agnes Monica Raih Penghargaan di MAMA Awards 2012

Klimaksnya, Guggenheim secara cut-to-cut menampilkan wajah-wajah para ibu dan anak-anak mereka, yang dengar harap-harap cemas menantikan hasil lotere. Sekolahan yang cukup “canggih” menggunakan bola-bola bernomor yang diputar dalam keranjang, dan bola yang jatuh itulah hasilnya.
Sedangkan sekolahan lain ada yang masih menggunakan cara sederhana dengan menuliskan nama setiap pendaftar, lalu mengambilnya satu per satu secara acak. Setiap ibu dan anaknya menunggu nama atau nomer mereka diteriakkan dengan keras, yang itu artinya diterima. Kamera dengan detail merekam setia ekspresi mereka, teriakan gembira karena diterima, juga lelehan airmata kesedihan yang membasahi pipi karena tidak diterima.

Untuk negera berkembang seperti Indonesia, pendidikan barangkali bukanlah “isu” utama. Namun, menonton film ini bukan lantas seolah terasa seperti menyaksikan sebuah dunia yang jauh dari realitas kita sendiri. Justru, ada benang merah tebal yang menghubungkan antara dokumentasi di layar dan realitas empiris di Tanah Air: betapa, bagi sebagian golongan masyarakat tertentu, mencarikan sekolah bagi anak-anaknya merupakan sebuah perjuangan besar. Dan, jika pendidikan anak adalah harapan satu-satunya bagi keluarga-keluarga itu untuk, katakanlah, keluar dari kemiskinan, maka tidak heran bila tidak di Amerika tidak pula di Indonesia, selalu ada ibu yang berkata, “Apapun akan saya lakukan asal anak bisa sekolah.”

Film ini memang lebih banyak bicara tentang sistem (termasuk kualitas guru), dan tentu saja ya dalam konteks Amerika sana. Namun, dengan efektif mampu menunjukkan bahwa pendidikan merupakan persoalan universal kemanusiaan dewasa ini di setiap negara. Di mana setiap pemimpin negara selalu menjadikannya bunga dalam pidato-pidato mereka yang berbusa-busa, namun pelaksanaannya masih menyulitkan sebagian besar warga negara. Setelah diputar sebagai pembuka JIFFest 2010 di Blitzmegaplex Pasific Place, Jakarta, Kamis (25/11), film ini akan diputar untuk umum sebanyak dua kali di tempat yang sama. Yakni, Sabtu (27/11/) dan Selasa (30/11), keduanya pada jam yang sama 16.45 WIB. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Ungu dan Drive Konser untuk Korban Bencana

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*