Jumlah Pengungsi Sinabung Membludak Capai 7.542 Orang

Laporan Wartawan Tribun Medan : Eris Estrada Sembiring

TRIBUN-MEDAN.com, Kabanjahe-Letusan kedua Gunung Sinabung juga membuat posko-posko penampungan kembali dijejali para warga yang ketakutan. Jumlah penumpang terus bertambah dari hari ke hari. Meski reaksi Gunung Sinabung hanya sekitar 10 menit, jumlah pengungsi yang sebelumnya hanya 6000an, melonjak menjadi 7.542 orang. Sementara di hari pertama evakuasi jumlahnya hanya 3000an orang. Lonjakan jumlah pengungsi ini tidak hanya berasal dari 11 desa yang wajib dikosongkan saja. Namun desa-desa yang tergolong aman, lewat dari 3 km batas kawah, pun ikut mengungsi. Mereka khawatir dampak erupsi Gunung Sinabung semakin besar dan mengarah ke wilayah mereka.

“Tadi begitu ada letusan kedua, ratusan warga bertambah lagi. Dari desa-desa yang tergolong aman pun ikut datang. Kita kan nggak mungkin menolak,” kata Ijin Gurusinga, Sekretaris Camat Brastagi.

Menurut data mereka, jumlah penumpang hampir mencapai angka 2000 orang. Padahal sebelumnya hanya 1560 orang. Ironisnya lagi, mereka terpaksa dipindahkan dari Jambur Taras Brastagi ke posko GBKP, karena jambur akan dipergunakan untuk keperluan pesta nikahan adat Karo.  Selain 11 desa yang masuk dalam zona bahaya, warga dari tiga desa lainnya ikut bertambah seiring letusan kedua Sinabung, yaitu Desa Sigarang-garang, Desa Sukandebi, Desa Kuta Mbelin.

Update terakhir yang diperoleh Tribun, 7.542 orang pengungsi tersebut dibagi ke dalam 12 titik posko pengungsian. Di Jambur Sempakata sebanyak 2308 orang, Klasis GBKP (547 orang), Gedung KKR GBKP (300 orang), Gedung Serbaguna GBKP (220 orang), Jambur Payung (1700 orang), GBKP Brastagi (1560 orang), Masjid Agung (182 orang), Zentrum (339 orang), GBKP Simpang Enam (36 orang), Paroki (50 orang), Jambur Tuah Lopati (200 orang) dan Gedung KNPI (100 orang).

Baca Juga :  Pimpinan DPRDSU Kesal Dituding Ikut Fasilitasi Proses Hukum Syamsul Arifin ke KPK

Di masing-masing posko pengungsian, jumlah orang sakit juga tak kalah banyak. Di Jambur Sempakata misalnya, hingga kemarin malam, sebanyak 500 orang sudah dipastikan sakit meski tergolong ringan. Mulai dari demam, pilek, maag dan sakit kepala menjadi keluhan mereka. Apalagi, ketika Tribun meninjau posko tersebut, seringkali para pengungsi lambat mendapatkan makanan khususnya di malam hari. Untuk mengganjal perut mereka, panitia menyodorkan roti kering, sembari menunggu panitia memasak nasi dan mi instan untuk mereka.

“Kami ini sudah susah, malah ditambah susah lagi. Kita tidak minta makanan enak kok. Nggak mesti ada ikannya juga. Yang penting makan jangan telat. Kalau sudah malam, pasti masuk angin lah,” kata Keliat, salah seorang warga.

Sementara di posko GBKP Jalan Udara Brastagi, panitia mengeluhkan kurangnya vitamin dan minyak kayu putih yang disediakan untuk para pengungsi. Padahal kebutuhan pengungsi akan kedua barang tersebut dirasa paling penting saat ini.

“Kekmana lah kalau nggak ada minyak kayu putih. Semua obat sakit tinggi ada. Tapi sakit kecil kayak masuk angin, minyak kayu putih pun nggak ada,” kata Ijin Gurusinga. (ers/tribun-medan.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Perampok di Sumut Gunakan Senjata Api Rakitan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*