Kabid Humas Poldasu Terkait Penganiayaan Ismail Harahap

Sabtu, 05 Desember 2009 – www.metrosiantar.com

Kabid Humas Poldasu Kombes (Pol) Baharuddin Djafar

Penegasan itu dikatakan Kombes (Pol) Baharuddin Djafar ketika diwawancarai wartawan koran ini, Jumat (4/12) petang. Baharuddin Djafar sendiri menyarankan agar kasus ini dilaporkan kepada unit P3D dan Kapolres Padangsidimpuan untuk segera ditindaklanjuti.

Saat diwawancarai, Baharuddin Djafar sepertinya belum mengetahui kasus penyiksaan yang diduga dilakukan oknum polisi berpangkat brigadir berinisial S tersebut. “Siapa nama polisinya dan di mana bertugas,” katanya.

Baharuddin Djafar sendiri tak banyak memberikan komentar. “Jadi apa yang Anda ingin tanyakan?” tanya Baharuddin setelah wartawan koran ini menerangkan kasus yang menimpa Ismail Harahap. “Segera proses kasus ini, dan jika terbukti bersalah, pecat saja polisinya. Untuk apa disayangkan,” pungkasnya dengan nada tinggi.

Sementara itu, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Tabagsel meminta aparat penegak hukum untuk benar-benar menegakkan keadilan secara profesional terkait kasus penganiayaan yang menimpa Muhammad Ismail yang menurut Muhammad Ismail dilakukan sejumlah oknum polisi.

Ketua LK3, Drs Parlindungan Pulungan didampingi Ketua Pekerja Sosial (Peksos), Baun Aritonang kepada METRO, Jumat (4/12) menyesalkan kejadian penganiayaan tersebut, dan jika benar pelakunya oknum polisi, maka aparat kepolisian khususnya Polresta Padangsidimpuan yang menangani kasus Muhammad Ismailharus menegakkan keadilan dan meletakkan hukum secara proporsional untuk tidak menimbulkan kesan negatif di tengah-tengah masyarakat.

Keduanya juga tak mentolelir penganiayaan yang cukup sadis tersebut. Pasalnya, korban yang bersikeras bukan sebagai pelaku pencurian sepedamotor, dianiaya dengan sadis.

“Dengan memperhatikan apa yang sudah kami baca di beberapa media massa, kami berharap aparat kepolisian untuk menjalankan mekanisme hukum sesuai ketentuan yang berlaku dan tidak pandang bulu, karena di mata hukum, kedudukan semua orang sama,” ucap keduanya.

Ditambahkan keduanya, kepada masyarakat, terutama keluarga korban penganiayaan untuk tidak terpancing melakukan hal-hal di luar hukum yang akan membuat persoalan ini makin sulit diselesaikan.

“Juga diharapkan agar jangan terpancing dengan isu yang bisa saja dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memperkeruh suasana. Kepada semua pihak diharapkan untuk menyerahkan sepenuhnya masalah ini kepada aparat penegak hukum dan meminta kepada semua elemen untuk mengawal masalah ini karena menyangkut hak asasi manusia,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolresta Psp AKBP Roni Bahtiar Arief yang dikonfirmasi melalui Kabag Bina Mitra, Kompol Darwin Efendy Daulay kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (3/12) lalu mengatakan, bahwa saat ini pihaknya belum ada memeriksa oknum polisi berinisial S dan lainnya. Karena laporan yang dibuat bukan saksi yang melihat, namun ayah korban yang mendengar cerita anaknya sebagai korban.

Baca Juga :  Muspida Madina Minus DPRD Sepakat Tertibkan Tambang Liar

Kompol Darwin Efendy juga mengatakan, orangtua Ismail melaporkan brigadir S dan kawan-kawan. Namun untuk bisa memperjelas kasus tersebut, Kompol Darwin mengatakan harus ada keterangan dari korban sendiri, karena tidak ada saksi yang melihat penganiayaan. Sedangkan kedua teman korban, Idris dan Serbeni tidak mengenal satupun yang menganiaya korban.

“Kita tunggu sembuh dahulu korban, baru kita mintai keterangannya baru kita bisa memanggil orang-orang yang disebutkannya. Kita tidak bisa langsung main panggil, harus ada saksi-saksi yang menguatkan,” terangnya.

Sementara itu kedua teman korban Idris dan Serbeni sudah dilepaskan dengan jaminan orang tua dan harus wajib lapor 3 kali seminggu ke Polresta Psp sampai dengan selesainya masalah ini untuk bisa dilimpahkan ke kejaksaan.

Seperti yang dikatakan Ismail Harahap, dia mendapat penyiksaan dari brigadir S dan empat orang rekan brigadir S yang mengaku sebagai polisi. Ismail juga dimassakan sekitar 20-an orang atas tuduhan pencurian sepedamotor. Namun karena merasa bukan pelaku pencurian, Ismail tetap pada pendiriannya.

“Oknum Polisi berinisial S itu memukuli saya bang. Ada 20 kali kakiku dipijak oknum polisi itu pakai sepatunya. Pergelangan kakiku juga diputarnya. Karena tak mau putusnya kakiku ini bang,” kata Ismail. Begitupun penyiksaan belum habis. Kembali dua pria yang baru datang mengaku polisi namun berpakaian biasa mendatanginya. “Habis di pukuli massa, datang lagi dua orang, sama saya keduanya mengaku polisi dan membujuk saya untuk mengakui mencuri sepedamotor milik polisi berinisial S itu,” ucap Ismail.

Namun, kata Ismail dirinya tetap tidak mengakuinya hingga akhirnya dirinya dibawa menggunakan sebuah mobil jenis Katana.

“Saya dibawa polisi berinisial S itu bersama 4 pria yang mengaku oknum polisi. Saya dibawa ke rumah saya di Sitamiang Baru untuk menggeledah isi rumah kami, apakah sepedamotor yang mereka tuduh saya curi itu disimpan di rumah atau tidak. Di rumah ada mamak yang menyaksikan langsung rumah kami digeledah,” pungkas Ismail.

Baca Juga :  Gempa Tektonik Taput-Tapsel - Siswa Ujian di Tenda Darurat

Namun sepedamotor yang dicari tidak ada. Dan seolah tak puas, Ismail kembali dibawa ke kolam di Gunung Sisada-Sada. Di sana Ismail kembali dianiaya oleh kelimanya dan dipaksa untuk mengakui pencurian tersebut.

“Selain direndam di kolam, kemaluan saya juga ditendang. Tubuh saya ditetesi dengan bakaran ban dalam yang dibakar. Rambut saya dipangkas, bahkan telinga saya sebelah kiri juga dipotong dengan menggunakan gunting. Namun saya tetap tak mau mengaku sebagai pencuri sepedamotor,” katanya.

Setelah kembali disiksa di Gunung Sisada-sada, Ismail dibawa ke rumah oknum polisi berinisial S di sekitaran Samora. Lagi-lagi di rumah itu dia kembali dianiaya bahkan sebuah durian dibenturkan ke kepalanya.

“Saya sudah tak kuat lagi bang. Darah sudah keluar dari kepala, hidung, mulut, dan telinga saya. Darah saya juga berceceran di rumah oknum polisi itu. Saya sangat kenal dengan polisi berinisial S itu karena saya juga kenal dengan istrinya,” pungkas Ismail.

Sementara itu mengenai pencurian yang dituduhkan kepadanya, Ismail tetap membantah karena dirinya baru tiga hari tinggal di Padangsidimpuan yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan di beberapa tempat seperti di Palas, Batang Angkola, Angkola Selatan.

“Waktu dipaksa saya mengakui pencurian itu, dibilangnya sepedamotornya hilang dari rumahnya bukan dari Tanggal, Sitamiang. Katanya hilangnya dua minggu yang lalu. Sedangkan saya baru 3 hari di Padangsidimpuan,” katanya. (phn/vin)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*