Kabut Asap Ganggu Kesehatan Warga – Dua Kecamatan Terancam Kekeringan

20140312081549 140 Kabut Asap Ganggu Kesehatan Warga Dua Kecamatan Terancam Kekeringan
kabut asap terlihat di jalan Willem Iskander di selimuti kabut asap yang semakin tebal jarak pandang berkisar 300 Meter. (medanbisnis/zamharir rangkuti)

MedanBisnis – Panybungan. Kabut asap yang semakin tebal di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mulai berdampak buruk pada kesehatan masyarakat. Sejumlah warga mengeluhkan gangguan pernapasan, pilek dan batuk. “Sudah semakin berbahaya, tenggorokan saya terasa perih, batuk, pilek dan badan meriang. Anak saya pun mulai batuk, kami berharap ada pembagian masker dan pencegahan kemungkinan dampak yang lebih besar dari pemerintah,” kata Arman Sink, warga Panyabungan, kepada MedanBisnis, Selasa (11/3).

Hal senada dikatakan Sulaiman Nasution (47), warga lainnya di Madina. Menurutnya, kabut asap yang sangat tebal itu menyebabkan aktivitas masyarakat menjadi terganggu. “Kami berharap kepada pemerintah dan pihak terkait untuk bisa mengatasi kabut asap ini, yang sudah beberapa bulan terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, harus ada upaya pencegahan yang serius. Pasalnya, kata dia, kabut asap yang memberikan dampak cukup parah kepada masyarakat akan sulit hilang di musim kemarau seperti saat ini. “Asap tidak akan hilang jika hujan tidak turun,” ungkapnya.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina Zulkhairi, menjelaskan, terjadi peningkatan ketebalan kabut asap di daerah ini. Namun, katanya, itu bukan lagi berasal dari kebakaran hutan di Madina karena sudah lama padam. “Jadi kabut asap ini tentu dari luar Madina, namun begitupun kita telah menetapkan status awas kabut asap dan mengimbau agar masyarakat mengurangi pembakaran sampah dan mengurangi aktivitas di luar rumah,” ujarnya.

Baca Juga :  Kolang Kaling dari Madina Tembus Pasar Jakarta

Dua Kecamatan Kekeringan
Sementara itu, akibat kemarau panjang di Madina, dua kecamatan di daerah itu masing-masing Kecamatan Batahan dan Kecamatan Sinunukan mengalami kekeringan.

Warga Desa Banjar Aur (desa yang terletak di perbatasan Kecamatan Batahan dan Sinunukan-red), Abnan Lubis, mengatakan, kekeringan di dua kecamatan tersebut sudah terjadi beberapa pecan terakhir. Sehingga, katanya, sangat meresahkan masyarakat. “Dampak dari kemaru panjang, sumur masyarakat menjadi kering tidak ada lagi air, sehingga terpaksa masyarakat harus mengambil air sungai untuk mandi, cuci, minum dan kegiatan lain dengan jarak 3-5 kilometer,” katanya.

Hal senada dikatakan Rahmadi SPd, warga lainnya. Bahkan, kata dia, akibat sumur kering, banyak warga terpaksa harus mengkonsumsi air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, begitu juga kekeringan melanda lahan pertanian masyarakat. “Memang kemaru panjang ini sangat dirasakan oleh masyarakat, kita khawatir jika terus berlarut-larut, masyarakat bisa terserang berbagai penyakit akibat mengkonsumsi air sungai. Untuk itu, kita berharap agar ada pengadaan air bersih menunggu turun hujan,” harapnya.

Camat Batahan Partahian Pohan, melalui telepon selulernya, membenarkan, kekeringan di sebagian daerahnya akibat kemarau panjang yang melanda Kabupaten Mandailing Natal. “Benar terjadi kekeringan, terutama sumur-sumur warga, sehingga warga terpaksa menimba air Sungai Batahan untuk kebutuhan sehari-hari. Kita berharap kemarau ini cepat berlalu agar sumur warga kembali berisi air bersih,” ujarnya. (zamharir rangkuti)

Baca Juga :  Pesta Gol, Chelsea Panaskan Persaingan

SUmber: medanisnis.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*