Kabut Asap Semakin Pekat, Ada 26 Titik Api di Madina

Jalan Willem Iskandar Panyabungan diselimuti kabut asap. Pemerintah mengimbau masyarakat agar menggunakan masker dan helm jika keluar rumah dengan kendaraan bermotor. Photo dijepret Rabu siang. (Foto: Ridwan)_

MADINA – Kabut asap semakin bertambah pekat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) beberapa hari belakangan ini.

Ditambah lagi masih ada 26 hotspot atau titik api di Madina. Akibatnya, banyak masyarakat yang merasa sakit dan perih di mata. Selain itu masyarakat juga banyak yang mengalami sakit flu dan inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pantauan METRO, di sepanjang jalan Willem Iskandar pusat kota Panyabungan, jarak pandang saat ini hanya berkisar 150 meter, sehingga sulit bagi pengendara sepedamotor. Selain itu, kabut asap ini juga menyerang bagian mata warga, karena mata perih dan berair. Selain itu masyarakat juga banyak mengalami penyakit flu dan Ispa.

“Saat ini mending mengurangi aktivitas di luar rumah. Sebab kabut asap ini sangat terasa sakitnya ke mata, terasa perih dan berair. Selain itu daya tahan tubuh berkurang dan mudah terkena flu dan Ispa,” ujar Iswadi Batubara, seorang guru di salah satu SMK di Panyabungan.

Dikatakan Iswadi, di sekolahnya sendiri banyak siswa mereka yang absen atau tidak hadir sebulan belakangan ini. Alasannya karena sakit demam dan flu. Dan diyakini penyebabnya adalah cuaca yang ekstrim, juga kabut asap itu.

Baca Juga :  Jalan Menuju Desa Sandean Jae Paluta sudah 5 Tahun tidak Pernah Diperbaiki

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Pemkab Madina, Rispan Zulyardi kepada METRO mengatakan, saat ini di Madina masih ada hotspot atau titik api yang belum bisa ditangani.

“Ada sekitar 26 titik api di daerah perkebunan Pantai Barat di lahan gambut. Tadi baru kita kirimkan dua truk pemadam kebakaran. Masih sebatas itu upaya kita sementara ini. Di sisi lain Dinas Kesehatan juga sudah membagikan masker bagi masyarakat,” ucapnya.

Rispan mengimbau kepada seluruh masyarakat agar lebih waspada dalam situasi seperti ini, karena sangat mudah terkena penyakit Ispa, batuk, flu dan penyakit lainnya.

Disamping itu, Rispan juga mengimbau dengan kondisi saat ini, masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan, seperti membuka hutan dengan membakar atau membuang benda ke pinggiran hutan yang dapat menyulut api. “Misalnya mengurangi aktivitas di luar rumah, dan kalau mau keluar menggunakan sepeda motor agar menggunakan helm dan masker,” imbaunya. (wan)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*